Bayangkan skenario ini: suatu pagi, kamu terjebak di tengah pertengkaran keluarga dengan menggunakan bahasa yang tak kamu pahami sama sekali. Luapan emosi antara ayah, ibu, dan kakak saling meletup-letup, sesekali saling terlempar ke sana-sini. Sesekali mereka saling beradu, hingga kamu harus mencari tempat berlindung.
Dengarlah Nyanyian Pingpong (Andrew Kose / Indonesia / 2024) menerjemahkan skenario tersebut dengan mengikuti kisah Caitlin, seorang gadis berusia enam tahun. Dengan ragam kebingungan, Caitlin berusaha menjalani hidupnya di tengah hiruk-pikuk pertengkaran keluarganya dalam dialek Hokkien yang tak ia pahami. Ia mencoba memahami tekanan dan emosi yang membingungkan di sekitarnya melalui bunyi ritmis bola pingpong.
Saya sempat merasa kebingungan, meski saya bukan dilahirkan dari keluarga etnis Tionghoa dan bukan perempuan, dalam beberapa adegan air mata jatuh dari pelupuk mata seolah karakter yang ada di dalam layar adalah cerminan diri saya. Tak mau kehilangan momentum emosional dan guna melegakan pertanyaan-pertanyaan yang terpikirkan, saya pun mengobrol dengan Andrew Kose (Kose) pada hari terakhir gelaran Minikino Film Week 11 (19 September 2025) yang lalu. Selama bercakap-cakap, Kose memaparkan proses kreatif dan konteks kultural juga pengalaman personalnya yang membangun pondasi dalam semesta Dengarlah Nyanyian Pingpong.
Dunia yang Cepat, Dunia yang Pepat
Satu hal yang seketika saya catat dalam kepala saya ketika menonton Dengarlah Nyanyian Pingpong ialah bagaimana kita tidak pernah melihat dunia luar Caitlin. Lingkup cerita dalam film berdurasi 18 menit tersebut hanya berpusat di lantai satu dan lantai dua dari rumah keluarga tersebut. Meski semestanya kecil dan pepat, namun lompatan emosi dari terenyuh, senang, bingung, hingga kecewa saya alami secara penuh.
“Karena karakternya kan anak kecil, dunianya memang di situ-situ aja. Selain itu, memperhitungkan budget yang terbatas membuatku jadi realistis untuk membentuk batasan, yang justru membuatku fokus ke perjalanan emosi (Caitlin),” jelas Kose. Karakter Caitlin dilandaskan dari pengalaman pribadinya tumbuh dan berkembang sebagai seorang anak bungsu dalam keluarga keturunan Tionghoa. Selama mendengarkan keluarganya bercakap-cakap dan sesekali bertengkar, ia tak bisa sepenuhnya mencerna karena ia tak memahami bahasa Hokkien. Ketidakmengertian itu selanjutnya ia alih mediakan menjadi eksplorasi atas suara. Meskipun tak memahami konteks pembicaraan, namun ia bisa mendengar kepanikan, kemarahan, atau kekecewaan dalam intonasi dan emosi yang disuarakan orangtuanya.
Tak jarang, pantulan emosi tadi berlangsung begitu cepat–layaknya bola pingpong yang bergulir dari satu bet ke bet yang lain. Sewaktu masih bersekolah Kose sendiri cukup dekat dengan olahraga pingpong yang kemudian memantiknya untuk menginkorporasikan pingpong sebagai objek sentral beriringan dengan karakter anak kecil. Kose menceritakan bahwa, “Pingpong menjadi pelarianku ketika menghadapi tekanan di rumah…secara natural kemudian muncul kepekaan bahwa suara pingpong itu enak.” Ide bahwa sosok anak dapat memendam keributan di rumah dengan mendengarkan suara pingpong dari bawah meja lalu muncul.

Yang Subjektif Juga Kolektif
Dalam pengertian yang sempit, benar adanya bahwa semesta dalam film ini sempit karena hanya menampilkan interior rumah saja. Namun jika direfleksikan kembali, ada lanskap sosio-kultural yang luas membentang di dalam film. Sebagaimana Kose menjelaskan naskah film dikembangkan dari pengalaman personalnya, kita bisa melihat ragam porselen menempel di dinding, altar sembahyang, juga pelbagai benda berwarna merah yang melambangkan kemakmuran. Elemen-elemen tadi tidak hadir sebagai simbol estetis saja, melainkan ia menjadi identitas kultural keluarga keturunan Tionghoa.
Satu hal yang ingin dieksplorasi film ini ialah isu trauma generasi yang menjadi pengalaman kolektif orang keturunan Tionghoa di Indonesia pasca Kerusuhan Mei 1998. Milenium baru mereka alami penuh dengan kecemasan dan tak percaya diri tentang masa depan menjadi realitas yang dihadapi sehari-hari. Efek dari kecemasan tersebut serta-merta terejawantahkan ke dalam perasaan tertekan, dan tekanan tersebut lantas diwariskan secara turun temurun dari orangtua kepada anaknya.
Dalam salah satu adegan di dalam film, Jacob sang kakak memarahi Caitlin, melampiaskan kemarahannya atas ekspektasi akademik oleh orang tuanya yang tak bisa ia capai. Jacob marah kepada Caitlin, Ibu marah kepada Jacob, Ayah marah kembali kepada Ibu karena merasa emosinya berlebih. Muntahan emosi lantas menjelma riuh rendah tak berkesudahan. Lingkaran setan kemarahan tadi bukanlah hadir begitu saja. Ia merupakan cerminan dan manifestasi atas kecemasan orangtua mereka, yang menginginkan masa depan terbaik bagi Jacob dan Caitlin. Hanya saja, kecerahan masa depan seorang anak tak bisa semata-mata diukur lewat skor angka pelajaran – sayangnya percakapan tersebut tidak terjadi. Tidak di dalam keluarga Caitlin, tidak pula di banyak keluarga keturunan Tionghoa lainnya.

Mendengar dan Merasakan Pengalaman yang Liyan
Dengarlah Nyanyian Pingpong tidak melakukan kompromi dalam kekhasan budaya dan sejarah sepanjang durasinya. Kita seolah terbawa masuk ke dalam rumah Caitlin, lengkap dengan segala pengalaman panca indrawi yang mengelilinginya. Sudut pandang Caitlin sebagai seorang anak kecil perempuan keturunan Tionghoa yang penuh kebingungan, keingintahuan, dan juga kesedihan secara eksplisit selalu hadir di depan layar. Namun, dengan kekhasan tersebut bukan berarti ia menihilkan pengalaman kolektif kita semua yang pernah menjadi anak kecil.
Konteks sosio-kultural film ini tidak membayangi upayanya untuk menjembatani percakapan yang lebih luas. “Secara personal memang aku tumbuh di keluarga Chindo (China-Indonesia, keturunan Tionghoa), aku ingin ngebahas konteks itu namun di waktu bersamaan juga ingin untuk filmnya universal dan bisa dirasakan semua orang,” jelas Kose. Cara penuturan film yang universal saya pikir lantas bisa menjadi pintu masuk orang kebanyakan untuk memahami konteks sosial yang terjadi pada Kerusuhan Mei 1998, juga momentum-momentum lain dalam sejarah Indonesia yang turut membentuk identitas kultural keturunan Tionghoa saat ini.
Ketika menilik kembali refleksi saya selepas pertama kali menonton, barangkali kepekaan emosional-lah yang membuat film ini terasa spesial. Meski bukan berasal dari etnis Tionghoa, saya diajak untuk menyelami dan mengalami satu hari dalam dinamika keluarga Caitlin. Saya dituntut untuk turut mendengar pertengkaran, mencecap obrolan yang bergulir di atas meja makan, juga mengobservasi bagaimana di akhir hari semuanya meredam. Sebagai penonton kita tidak didikte atau disuapi mengenai apa yang harus kita rasakan.
Saya seolah berada dalam ujian pengayaan emosi, dan salah satu pertanyaannya ialah: bagaimana respons saya jika dihadapkan dalam situasi sebagai Caitlin? Momen-momen demikian membuat saya merasa dekat, lebih-lebih dapat becermin sebagai sosok Caitlin. Tentu bukanlah tugas ataupun kewajiban film untuk menuturkan cerita yang mengena atau beresonansi. Akan tetapi, empati dapat menjadi kendaraan untuk mengalami suatu film secara lebih mendalam – dan di sanalah kekuatan bercerita film ini berada.
Penulis: Hilmi Reyhan





















Discussion about this post