Gemuruh derap langkah kaki dan teriakan aba-aba memecah kesunyian di dalam art house cinema MASH Denpasar pada pemutaran film kedua program Twisted (13/9). Film itu dibuka dengan close-up belakang kepala seorang pengibar bendera di antara barisan lainnya. Derap langkah kaki berhenti dan teriakan aba-aba berubah menjadi bentakan dari pelatihnya. Pasukan itu kemudian berbalik dan seorang pengibar bendera itu kini berhadapan dengan penonton. Itulah pembuka film 12 Moments Before Flag-Raising Ceremony (China, 2025) karya sutradara dan penulis Qu Zhizheng yang membekas bagi saya lewat pengenalan karakter dan lingkungannya hanya dalam waktu yang singkat. Film ini mengajak kita menyelami dunia Feng Xiao, seorang pengibar bendera termuda di timnya, yang penuh dilema akan tuntutan orang dewasa di hidupnya. Lewat shot yang klinis, hening, dan bernuansa dingin, terungkap perasaan mentah yang seringkali dikubur demi mencapai kesempurnaan ideal.
Di zaman yang serba sibuk, nilai seseorang cenderung diukur dari produktivitasnya. Maka kesempurnaan dalam performa produktivitasnya menjadi kejaran setiap orang. Apa yang terlihat sempurna diutamakan dengan mengorbankan nilai-nilai tak terukur seperti emosi dan perasaan. Jika kesempurnaan itu gagal diraih, tak jarang ambisi itu diproyeksikan pada generasi penerusnya. Proyeksi ambisi tak tuntas ini kadang menimbulkan luka tak kasat mata. Menciptakan dunia dengan represi ekspresi dan kesempurnaan yang kelihatan dari fasadnya hanyalah artifisial semata. Citra dunia artifisial dibangun dalam semesta film pendek 12 Moments Before Flag-Raising Ceremony untuk melihat kenyataannya.
Dunia Feng Xiao yang mendambakan kebebasan dari rutinitasnya yang keras dan kaku digambarkan dengan tone warna yang dingin. Gambaran latar musim dingin di China ini juga berhasil membawa penonton masuk pada dilema seorang remaja dalam menavigasikan hidupnya di antara orang-orang dewasa yang menaruh terlalu banyak ambisi pada pundaknya. Situasi ini memperlihatkan dinamika mendalam tentang jurang lebar antar generasi anak dan orang tuanya. Persoalan universal ini saya diskusikan dengan Owen Effendi selaku co-writer dari film 12 Moments Before Flag Raising Ceremony pada Minikino Film Week 11 bulan September 2025 lalu.

Owen merupakan lulusan dari jurusan sinematografi di Beijing Film Academy. Ia terlibat dalam proyek film ini saat kuliah bersama dengan Jenko, panggilan akrab dari Qu Zhizheng. Keterlibatan Owen sebagai co-writer film yang sarat membahas keadaan sosial di China menarik untuk dikulik dari perspektifnya sebagai mahasiswa Indonesia yang tinggal selama empat tahun di sana. “Jenko mau tahu cerita yang dia tulis dari kacamata internasional atau perspektif orang luar seperti saya tentang rasanya tinggal di China,” jelas Owen.
Adegan film yang banyak menampilkan dinamika hubungan antara anak dan orang dewasa di sekitarnya yang saling tidak memahami menjadi hal universal yang dirasakan oleh Jenko, Owen, maupun saya sebagai penonton. “Mungkin karena latar belakang kita yang sama-sama Asia, jadi relate dengan perbedaan cara berpikir dengan generasi di atas kita. Cukup kental pemikiran-pemikiran monologis yang ada pada generasi orang tua saya atau kelompok umur yang lebih tua lagi. Bagi mereka cuma ada satu jalan buat kamu ‘sukses’, ibaratnya kalau jalan ini tidak ditempuh, hidupmu tamat,” tambah Owen ketika berbagi perspektifnya soal jurang generasi yang ia rasakan di China maupun di Indonesia.
Bagi ayah Feng Xiao maupun pelatihnya di sekolah, kesempatan menjadi pengibar bendera akan mempermudah hidupnya kelak. Keputusan untuk keluar dari tim pengibar bendera layaknya sebuah penolakan untuk masa depan yang terjamin. Alih-alih memberi ruang dialog untuk saling mengerti, kekerasan fisik maupun verbal dijadikan cara untuk ‘menertibkan’. Jurang kesepahaman antargenerasi melebar ketika orang yang (seharusnya) lebih dewasa terus memaksakan idealismenya pada generasi penerus tanpa upaya untuk memahami satu sama lain. Tanpa berusaha menggurui atau menawarkan solusi, 12 Moments Before Flag-Raising Ceremony menunjukkan kenyataan yang dipoles luarnya untuk menutupi kerapuhan orang-orang di dalamnya.

Citra dunia artifisial ini dikuliti pada saat Feng Xiao dan pelatihnya diwawancara oleh media. Adegan yang dibingkai lewat kamera perekam wawancara ini menangkap gestur-gestur yang tentu tidak akan dimasukkan ke dalam produk finalnya seperti reporter yang tengah melatih ekspresi dan artikulasinya sesaat sebelum memulai wawancara. Dengan fasih reporter itu memulai pertanyaan yang dijawab dengan sama fasihnya oleh sang pelatih. Sementara Feng Xiao duduk termenung di sebelah pelatihnya yang sedang menjelaskan keunggulan sekolah mereka karena memiliki pengibar bendera termuda di timnya. Wawancara berjalan lancar sampai Feng Xiao terdiam lama ketika ditanya manfaat yang ia rasakan sebagai pengibar bendera termuda. Ia mengaku lupa dengan jawaban yang sudah diatur untuk pertanyaan itu. Rekaman pun diulang. Adegan wawancara ini menampilkan lapisan artifisialitas dari hal terkecil seperti ekspresi hingga jawaban wawancara yang tidak lagi memperdulikan respons organik. Segalanya dirancang untuk memastikan semuanya baik-baik saja, entah di depan kamera maupun pada citra yang ingin dibangun oleh institusi (baik sekolah, media, dan bahkan di unit yang lebih besar lagi seperti negara).
“Jenko menganggap pembawa bendera itu seperti perwakilan dari sebuah negara. Bahkan dari unit terkecil seperti di sekolah pun sudah ada pelatihan kemiliteran. Jadi kita ingin menarasikan tentang hal yang politis ini dari unit terkecilnya. Dalam hal ini kita meletakkannya pada seorang remaja pengibar bendera di sekolahnya,” ujar Owen. Dalam wawancara tersebut, sang pelatih memandang usia sebagai ukuran kesuksesan. Semakin banyak pencapaian yang diraih saat muda, dianggap sebagai ukuran kualitas sekolah tanpa mempertimbangkan kedewasaan yang belum lagi matang bagi siswa sekolah. Meski sepanjang film Feng Xiao terlihat selalu menurut, dalam diamnya ia memberontak. Ia menolak membohongi perasaannya sendiri saat wawancara di saat ia mampu berbohong agar bisa bolos latihan. Aksi pasif yang dilakukan Feng Xiao merupakan kulminasi dari emosi yang diredam dalam dunia artifisial yang ia jalani.
12 Moments Before Flag-Raising Ceremony diputar dalam program Twisted saat MFW11. Sesuai keterangan programnya, perasaan itu akan tetap teringat–meski kamu telah melupakan sebabnya, rasa mencekik dan haru biru yang dirasakan ketika menonton tetap tertinggal dan mengendap ketika usai keluar ruangan bioskop. Sebagai penonton, rasanya bagian-bagian dari film yang baru saja di tonton akan terpatri tak hanya dalam pikiran, tetapi juga dalam perasaan. Mungkin kita akan lupa di mana tepatnya adegan yang menggugah perasaan itu, tetapi saat kita sudah pernah merasakannya, sulit untuk dilupakan begitu saja. Mungkin juga karena perasaan itu sudah lama berakar dalam diri kita tanpa pernah terselesaikan, dari generasi ke generasi.
Penulis: Rahmania Nerva





















Discussion about this post