#KaburAjaDulu sempat menjadi sebuah tagar yang meramaikan lanskap sosial media Indonesia pada awal tahun 2025. Fenomena ini didasari oleh kekecewaan rakyat terhadap ketidakstabilan ekonomi dalam negeri. Di satu sisi, fenomena ini memicu sentimen negatif bahwa mereka yang mencari kesempatan di luar negeri dianggap tidak nasionalis. Melihat kehidupan yang serba dinamis seperti sekarang, menjadi seorang nasionalis mungkin bukan sesuatu yang terlintas di kepala dan juga bukan faktor penentu kualitas hidupnya. Sehingga tidak tepat untuk menyebut seorang warga tidak nasionalis jika hidupnya masih susah di negeri sendiri.
Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, berpendapat bahwa fenomena ini bahkan sudah terjadi sejak tahun 2023 yang ditandai oleh meningkatnya akun sosial media dengan konten berbagi informasi tentang peluang dan tips bekerja di luar negeri. Oleh karena itu, kesempatan ke luar negeri sering kali terlihat sebagai jalan baru untuk meningkatkan kualitas hidup, meski aksesnya tetap dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan sosial masing-masing individu.
Sumpah Pemuda (Aisha Servia, Indonesia-Amerika Serikat, 2025) hadir dalam bentuk eksperimental yang terkesan abstrak dan personal. Suara dan gambar-gambar cukup memberi sebuah informasi tanpa membuat penonton tenggelam di dalamnya. Bait-bait sumpah pemuda dibacakan berulang kali, diiringi gambar ruang gedung konsulat Indonesia di Amerika Serikat, serta objek-objek acak yang silih berganti. Bait yang terus diulang mulai terdengar seperti potongan bunyi yang kehilangan maknanya. Bangsa Indonesia mengenal dirinya dari dalam, tapi bagaimana ia mengenalkan diri di luar sana?
Aisha Servia, sutradara film pendek dokumenter eksperimental Sumpah Pemuda, menceritakan dalam wawancara daring pada tanggal 21 Juli 2026 bagaimana ia menemui orang-orang Indonesia lainnya yang memiliki kemudahan akses untuk bisa hidup di Amerika Serikat. Mereka kabur ke luar negeri hanya untuk bekerja dan mengirimkan uang ke Indonesia. Mereka hanya ingin kualitas hidup yang lebih nyaman, kesempatan yang layak dan bisa hidup tanpa harus bekerja sampai akhir hayat. Sehingga tidak sedikit dari mereka mengubah status kewarganegaraan demi hak yang seharusnya mereka terima di negeri sendiri. Menurutnya, faktor orang pergi ke luar negeri menjadi jauh lebih rumit dari sekadar isu antinasionalisme. Sebab sudah mencakup ranah kehidupan pribadi warga negara yang hanya ingin hidup layak, terlepas dari segala jenis ras, golongan, agama, dan suku.
Sutradara berpendapat bahwa nasionalisme cenderung bersifat mengkotak-kotakan. Dengan banyaknya perbedaan nilai hidup dan cara pandang, bagaimana kita bisa memutuskan sebuah faktor penentu utama yang bisa mendefinisikan kita sebagai bangsa Indonesia? Ia menyadari bentuk simbolis seperti pakaian batik dan makanan rendang yang hadir setiap kali Indonesia dirayakan di luar negeri. Tapi, ia juga mempertanyakan apakah ada sesuatu yang bisa menjadi representasi Indonesia secara keseluruhan?
Walaupun hanya representasi, rendang mungkin bukan makanan yang disukai oleh masyarakat Indonesia. Begitu juga batik yang tidak mencerminkan identitas pakaian tradisional masing-masing daerah. Sehingga memilih sebuah representasi terkesan menyempitkan gambaran Indonesia yang terlalu kaya dan beragam. Terlepas dari representasi simbolik, rasa memiliki terhadap negara oleh setiap individu juga bisa berbeda-beda.
Mungkin sebagian dari kita pernah bertanya-tanya tentang kewajiban di sekolah yang dilakukan setiap minggu, yaitu upacara bendera di hari senin. Wajar saja ketika seorang pelajar bertanya kepada gurunya tentang alasan mereka harus melakukan upacara bendera. Tapi, apakah wajar jika seorang pelajar dianggap tidak cinta tanah air, hanya karena ia merasa ada cara lain yang lebih bermakna baginya? Tentu tidak semua guru berpikir demikian. Tapi pengalaman tersebut menunjukkan bahwa nasionalisme dipahami sebagai suatu penghormatan yang diajarkan secara turun-temurun. Padahal rasa memiliki terhadap sebuah negara tidak harus diwujudkan dengan cara yang sama. Jika nasionalisme diibaratkan love language, maka setiap individu tidak bisa dipaksakan memakai love language yang sama. Hanya karena sebuah cara diyakini sebagai bentuk cinta tanah air, bukan berarti menjadi satu-satunya cara untuk menunjukkannya.
Salah satu keputusan kreatif di film ini adalah takarir yang sengaja tidak dihadirkan. Sutradara mengungkap bahwa ia menyukai proses mendengar bahasa asing tanpa memahami makna kalimat di baliknya. Seorang penutur bahasa Indonesia tentu dapat memahami setiap kalimat dan bahkan menyadari perbedaan aksen dari setiap individu. Sementara mereka yang bukan penutur, mungkin terasa seperti mendengar bunyi-bunyian atau menangkap makna kalimatnya saja. Dengan hanya mendengar, aksen setiap pemain yang hadir dalam film menjadi satu-satunya penanda identitas mereka yang berbeda-beda. Menurutnya, keputusan ini juga lahir dari proses diskusi bersama setiap pemain yang hadir dalam film. Bagi penonton film yang merupakan penutur bahasa Indonesia, keputusan meniadakan takarir menjadi sebuah bentuk solidaritas bahwa penampilan fisik setiap pemain mungkin tidak bisa dikenali sebagai orang Indonesia. Justru penggunaan bahasa Indonesia yang membuat mereka dapat dikenali sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Sutradara percaya mempelajari sejarah bisa membantu kita menyadari bahwa dunia yang lebih baik itu masih ada. Ia sendiri sering mendengar dosennya bernostalgia ketika membahas peristiwa KAA (Konferensi Asia Afrika). Dilansir dari CNN Indonesia, KAA didasari oleh rasa keprihatinan terhadap nasib negara baru merdeka atau yang masih terjajah di tengah persaingan politik antara Blok Timur (Uni Soviet) dan Blok Barat (Amerika Serikat). KAA pun lahir sebagai bukti solidaritas bahwa Indonesia dan seluruh negara terlibat, sepakat untuk menentang segala bentuk kolonialisme dari Amerika Serikat, Uni Soviet, dan negara imperialis lainnya. Tetapi, tahun 1965 hadir sebagai masa krisis politik yang sangat mengguncang Indonesia.
Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia menjelaskan, bahwa tragedi gerakan 30 September tahun 1965 menjadi titik balik sejarah dan meninggalkan dampak mendalam terhadap politik, ekonomi, dan sosial Indonesia. Strategi penumpasan gerakan kiri secara sistematis tersebut dikenal sebagai Metode Jakarta yang dampaknya meninggalkan luka kolektif terhadap Indonesia sebagai sebuah bangsa. Strategi ini tidak hanya mengubah Indonesia, tetapi juga tatanan global yang kita kenal sekarang. Melihat ada negara lain yang bernasib sama, rasanya masih ada harapan untuk bisa kembali memperjuangkan ide-ide yang dulu pernah ada. Sejarah bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi bagaimana peristiwa di masa lalu bisa membentuk cara memandang negara asal kita.
Situasi sosial dan politik yang terus hadir dapat mengubah perspektif kita sebagai warga negara. Aisha mulai menyadari hubungannya dengan negara mulai berubah, yaitu ketika melihat berita tentang pemerintahan Indonesia yang tidak jauh-jauh dari masalah. Seiring waktu, ia berjumpa dengan orang-orang Indonesia yang sudah tinggal sejak lama di Amerika Serikat dengan latar belakang beragam. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang tidak pernah tinggal di Indonesia sejak lahir. Tapi, masih menganggap diri mereka sebagai orang Indonesia. Pengalaman tersebut membuat Aisha kembali mempertanyakan sesuatu yang menjadi kegelisahannya sejak awal. Apa yang membuat seseorang menjadi bagian dari Indonesia?
Melalui film ini, sutradara ingin penonton terutama orang Indonesia sendiri untuk mempertanyakan hubungannya dengan Indonesia sebagai bangsa. Jawabannya tidak mungkin sama, karena kita lahir sebagai individu yang berbeda-beda. Dengan mempertanyakan kembali makna dari Bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, dan Sumpah Pemuda, setidaknya dapat membuat kita semakin mengenali bagaimana hubungan kita sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Perjalanan sebuah bangsa tidak lepas dari proses mempelajari sisi lain dari sejarah yang tertulis, mempelajari diri sendiri, dan mempelajari kondisi realita sekarang.
Editor: Fransiska Prihadi





















Discussion about this post