Minikino
  • Home
  • SHORT FILMS
    Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

    Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

    Proses rekaman Audio Description di Minikino Studio bersama Komang Yuni (kanan) dan Edo Wulia pada 27/12/2025. Dok: Annabella Schnabel.

    Malam Sepanjang Nafas dan Sepanjang Pengisian AD

    Still film The Visit (1970) sutradara Kais Al-Zubaidi.

    The Visit (1970): Kunjungan Untuk Bertamu Atau Melayat?

    Alif Wants a Girl, Yuli Wants a Ride Still (2023) directed by Fazrie Permana

    Alif Wants a Girl, Yuli Wants a Ride, and I Want to Be Cringe and Be Free

    Rona Warna Raga: Tubuh yang Belajar Pulang

    Still Film La Perra (2023) dan Masterpiece Mommy (2024)

    Yang Hilang dan Ditemukan: Relasi Ibu dan Anak Perempuan dalam Film “La Perra” dan ‘Masterpiece Mommy”

    Still Film My Therapist Said, I'm Full of Sadness (2024) oleh Monica Vanesa Tedja

    Problematika SOGIESC dan Gender Dysphoria dalam Narasi Intim Monica tentang Penerimaan Keluarga

    Still Film Tutaha Subang (Indonesia, 2024) disutradarai Wulan Putri

    Mempertanyakan Tutaha Subang : Kami Sudah Berjuang, tapi Kami Hanya Perempuan?

    Still Film WAShhh (2024) directed by Mickey Lai, produced in Malaysia and Ireland

    WAShhh (2024): How Naturality was Forced to Be Masked with Neutrality

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino Articles
  • Home
  • SHORT FILMS
    Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

    Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

    Proses rekaman Audio Description di Minikino Studio bersama Komang Yuni (kanan) dan Edo Wulia pada 27/12/2025. Dok: Annabella Schnabel.

    Malam Sepanjang Nafas dan Sepanjang Pengisian AD

    Still film The Visit (1970) sutradara Kais Al-Zubaidi.

    The Visit (1970): Kunjungan Untuk Bertamu Atau Melayat?

    Alif Wants a Girl, Yuli Wants a Ride Still (2023) directed by Fazrie Permana

    Alif Wants a Girl, Yuli Wants a Ride, and I Want to Be Cringe and Be Free

    Rona Warna Raga: Tubuh yang Belajar Pulang

    Still Film La Perra (2023) dan Masterpiece Mommy (2024)

    Yang Hilang dan Ditemukan: Relasi Ibu dan Anak Perempuan dalam Film “La Perra” dan ‘Masterpiece Mommy”

    Still Film My Therapist Said, I'm Full of Sadness (2024) oleh Monica Vanesa Tedja

    Problematika SOGIESC dan Gender Dysphoria dalam Narasi Intim Monica tentang Penerimaan Keluarga

    Still Film Tutaha Subang (Indonesia, 2024) disutradarai Wulan Putri

    Mempertanyakan Tutaha Subang : Kami Sudah Berjuang, tapi Kami Hanya Perempuan?

    Still Film WAShhh (2024) directed by Mickey Lai, produced in Malaysia and Ireland

    WAShhh (2024): How Naturality was Forced to Be Masked with Neutrality

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino
No Result
View All Result
Home SHORT FILMS

Mempersoalkan Politik Film Lewat “Film Politik” Acung Memilih Bersuara (2023)

NOMINASI THE RWI ASIA PACIFIC AWARD AT MFW9

Cahyaloka Julinanda by Cahyaloka Julinanda
September 19, 2023
in SHORT FILMS
Reading Time: 4 mins read
Still Acung Memilih Bersuara (2023) arahan Amelia Hapsari (dok: Layar Tala Media & Two Islands Digital)

Still Acung Memilih Bersuara (2023) arahan Amelia Hapsari (dok: Layar Tala Media & Two Islands Digital)

“Apa yang sangat spesial dari Acung untuk diangkat menjadi sebuah film?” tanya Putu Bayuwestra salah satu kawan sejawat peserta internship film festival writer padaku ketika kami hendak mengulas film bersama. Pertanyaan tersebut malah memunculkan segudang pertanyaan lain di kepalaku: apakah pertanyaan tersebut terjawab dalam film itu sendiri, atau justru film tersebut menyisakan lubang sebegitu besarnya hingga kawanku bertanya demikian? 

yang Spesial dari yang Klise, yang Klise dari yang Spesial

Acung Memilih Bersuara (Amelia Hapsari, 2023) menceritakan kisah Acung, seorang keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Pasuruan. Ia tak pernah meniatkan diri menjadi aktivis, namun besar di tengah-tengah besarnya kebencian, diskriminasi, dan bahkan persekusi terhadap keturunan Tionghoa, ia tak bisa diam saja. Karenanya, ia ditangkap dan dipenjara tanpa diadili saat usianya masih sangat muda. Dokumenter animasi pendek ini adalah bagian dari proyek Buried Chapters, atau Babak-babak yang Dikuburkan, kumpulan dokumenter yang mengangkat cerita-cerita sejarah yang dikuburkan, terutama seputar peristiwa 1965 dan 1998.

Lalu, jika ini adalah bagian dari cerita sejarah yang lebih luas, terutama peristiwa sebesar 1965 dan 1998, apa yang spesial dari Acung? Kalau boleh kujawab jujur, tidak ada yang spesial. Asumsiku, mungkin Amelia Hapsari juga kurang lebih sepakat―tersurat dari caranya menutup film dengan zooming out ilustrasi wajah Acung dan menampilkan ilustrasi orang-orang lain. Acung hanyalah satu dari sekian ribu, bahkan mungkin juta, subjek-subjek terdampak persekusi dan genosida 1965. Situs Perpustakaan Online 1965-1966 juga menulis: “Acung Memilih Bersuara bukan semata-mata tentang Acung seorang. Ia memilih bersuara karena apa yang disaksikannya seiring ia tumbuh: kebencian yang terus diterima oleh banyaknya keturunan etnis Tionghoa. Kisah ini diangkat untuk satu generasi yang hingga kini masih terdampak karena ketidakadilan yang dialami generasi pendahulu puluhan tahun yang lalu.”

Dengan begitu, Acung bahkan tidak seharusnya jadi “spesial”―subjek-subjek terdampak lain punya luka, duka, dan trauma yang sama penting dan valid dalam perjuangan mencari keadilan. Ia pun sedang tidak hadir, atau dihadirkan, untuk mewakili semua suara subjek-subjek terdampak. Pretensi representatif yang dibingkai dalam sebuah film akan selalu runtuh ketika dihadapkan pada realita di luar bingkai film yang begitu beragam. Seharusnya, film tidak dibuat dengan pretensi mewakili keseluruhan realita tersebut. Toh, judul film ini adalah Acung Memilih Bersuara, bukan Acung Bersuara Mewakili Penyintas.

Percakapanku dengan Bayu juga menawarkan ulasan pemantik lain yang menarik: “aku merasa film ini adalah sebuah pengantar dari impact campaign atau advokasi pasca pemutaran, dan aku malah lebih penasaran sama campaign-nya” ujarnya. Implikasi dari ulasan ini sesungguhnya adalah adanya kesan klise dalam film: satu lagi film aktivis yang mengangkat isu hangat dengan estetika kampanye a la lembaga swadaya. Sejujurnya, aku tidak tidak sepakat dengan kesan tersebut. Animasi yang dilatarbelakangi oleh suara narator yang mengisahkan ketidakadilan Acung memang tidak mengeksplorasi estetika film secara dalam. Layaknya esai video yang kerap ditemukan di kanal YouTube, film ini sangat mudah dicerna sebagai pengantar terhadap suatu isu.

Still Acung Memilih Bersuara (2023) arahan Amelia Hapsari (dok: Layar Tala Media & Two Islands Digital)

Tentang Dampak dan Kampanye Film

Tapi, apakah kemudian kesan “film kampanye klise” ini membuat filmnya menjadi tak layak tonton? Kurasa pertanyaan tersebut justru meleset jauh. Pertanyaan yang lebih relevan mungkin bisa berangkat dari sesuatu yang lebih material: dengan adanya “klise”yang membuatnya mudah diakses dan dicerna publik lebih luas, seberapa jauh film ini dapat mengubah kondisi dan situasi nyata yang menyelubungi kampanye ini? 

Material di sini bukan berarti kuantitatif―pertanyaan ini tidak sedang mencoba mengukur seberapa luas impact kampanye dengan angka-angka statistik yang perlu dipertanggungjawabkan kepada yayasan pendanaan. Material berarti ia memiliki efek yang dirasakan secara nyata, signifikan, dan mendasar. Sejauh apa efek tersebut dirasakan oleh penggerak isunya? Sejauh apa ia punya kontribusi terhadap keadilan, atau setidaknya kesejahteraan (well-being) dari subjek-subjek terdampak?―terutama karena merekalah yang tidak hanya mengalami penindasan yang material dan nyata atas hidup mereka, tapi cerita-cerita merekalah yang disebar dan dipajang-pajang oleh para penggerak isu. Jika kawan sejawatku menyatakan ketertarikannya (alih-alih pada filmnya itu sendiri, tapi) pada kampanye yang sedang bergulir, bagaimana ketertarikan tersebut mempengaruhi kondisi materialnya? Dan bagaimana posisi(onalitas) film Acung Memilih Bersuara jika ditempatkan pada kerangka kampanye tersebut secara keseluruhan?

Tentu saja, sayangnya, aku tak punya jawaban atas pertanyaan berseri di atas. Pula bukan posisiku untuk menjawabnya―ia yang paling remuk di bawah opresi kuasa langsung adalah ia yang berhak untuk menekankan agensinya sendiri. Pertanyaan pemantik di atas baiknya menjadi pertanyaan kita bersama, untuk membuka ruang diskusi yang lebih luas serta mendorong perspektif keberpihakan yang lebih kritis dan membebaskan bagi mereka yang harus bergulat dengan kekerasan dan kekuasaan. 

Dengan begitu, akan sayang jika kehadiran Acung kita persempit menjadi perkara “apa yang spesial” darinya. Perdebatan soal estetika film rasa-rasanya hanya jadi perdebatan sia-sia yang hanya bisa beredar di bubble kalangan pegiat film, terutama jika bicara soal film yang punya subyek politik nyata yang materialitas hidupnya tidak dalam posisi aman maupun sejahtera. Acung Memilih Bersuara, sebagai bagian dari kampanye kemanusiaan yang lebih besar, jelas mencoba mengartikulasikan solidaritasnya terhadap subyek yang terhimpit melalui medium film. Eksplorasi estetikanya yang memunculkan “film kampanye klise” di satu sisi menunjukkan kekurangan eksplorasi lebih jauh, tapi di satu sisi ia membuat kampanye isu menjadi lebih mudah diakses.

Editor: Ahmad Fauzi & Bintang Panglima
Penulis merupakan salah satu dari empat peserta terpilih Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writers (May-November 2023).
Acung Memilih Bersuara adalah film yang terpilih dalam program tamu S-Express 2023 Indonesia, dan juga Nominasi Raoul Wallenberg Institute Asia Pacific Award at MFW9. Untuk informasi lebih lanjut https://minikino.org/filmweek/  
Tags: 1965Acung Memilih BersuaraAmelia HapsariKemanusiaanMFW9Minikino Film WeekRWI
ShareTweetShareSend
Previous Post

Cartoons Underground dan Mitos-Mitos Urban

Next Post

Berbincang dengan Tim Senandung Senyap (2022)

Cahyaloka Julinanda

Cahyaloka Julinanda

(they/he) a radical care labourer, a mystical solarpunk enthusiast, an occasional cosplayer, but mainly a neurodivergent genderfluid member of the working class labouring as media and cultural worker. their involvement circles in the Indonesian art scene, media environment, and social movement.

Related Posts

Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

January 27, 2026
Proses rekaman Audio Description di Minikino Studio bersama Komang Yuni (kanan) dan Edo Wulia pada 27/12/2025. Dok: Annabella Schnabel.

Malam Sepanjang Nafas dan Sepanjang Pengisian AD

January 12, 2026
Still film The Visit (1970) sutradara Kais Al-Zubaidi.

The Visit (1970): Kunjungan Untuk Bertamu Atau Melayat?

December 22, 2025
Alif Wants a Girl, Yuli Wants a Ride Still (2023) directed by Fazrie Permana

Alif Wants a Girl, Yuli Wants a Ride, and I Want to Be Cringe and Be Free

November 21, 2025

Rona Warna Raga: Tubuh yang Belajar Pulang

November 14, 2025
Still Film La Perra (2023) dan Masterpiece Mommy (2024)

Yang Hilang dan Ditemukan: Relasi Ibu dan Anak Perempuan dalam Film “La Perra” dan ‘Masterpiece Mommy”

October 20, 2025

Discussion about this post

Archives

Kirim Tulisan

Siapapun boleh ikutan meramaikan halaman artikel di minikino.org.

Silahkan kirim artikel anda ke redaksi@minikino.org. Isinya bebas, mau berbagi, curhat, kritik, saran, asalkan masih dalam lingkup kegiatan-kegiatan yang dilakukan Minikino, film pendek dan budaya sinema, baik khusus atau secara umum. Agar halaman ini bisa menjadi catatan bersama untuk kerja yang lebih baik lagi ke depan.

ArticlesTerbaru

Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

January 27, 2026
Pemutaran Program Inklusif SDH bersama Susrusha Deaf School di MASH Denpasar saat MFW 11. (Foto: Chandra Bintang).

Yang Panjang dari (Festival) Film Pendek

January 26, 2026
Proses rekaman Audio Description di Minikino Studio bersama Komang Yuni (kanan) dan Edo Wulia pada 27/12/2025. Dok: Annabella Schnabel.

Malam Sepanjang Nafas dan Sepanjang Pengisian AD

January 12, 2026
Still film The Visit (1970) sutradara Kais Al-Zubaidi.

The Visit (1970): Kunjungan Untuk Bertamu Atau Melayat?

December 22, 2025
Alif Wants a Girl, Yuli Wants a Ride Still (2023) directed by Fazrie Permana

Alif Wants a Girl, Yuli Wants a Ride, and I Want to Be Cringe and Be Free

November 21, 2025

ABOUT MINIKINO

Minikino is an Indonesia’s short film festival organization with an international networking. We work throughout the year, arranging and organizing various forms of short film festivals and its supporting activities with their own sub-focus.

Recent Posts

  • Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan
  • Yang Panjang dari (Festival) Film Pendek
  • Malam Sepanjang Nafas dan Sepanjang Pengisian AD
  • The Visit (1970): Kunjungan Untuk Bertamu Atau Melayat?
  • Alif Wants a Girl, Yuli Wants a Ride, and I Want to Be Cringe and Be Free

CATEGORIES

  • ARTICLES
  • INTERVIEWS
  • NOTES
  • OPINION
  • PODCAST
  • SHORT FILMS
  • VIDEO

Minikino Film Week 11 Festival Recap

  • MINIKINO.ORG
  • FILM WEEK
  • INDONESIA RAJA
  • BEGADANG

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • SHORT FILMS
  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media