“Jadi penjaga vila.” Lugas dan lugu, begitu jawaban seorang murid SDN 5 Dauh Puri Denpasar ketika gurunya, Bu Mitha, bertanya tentang cita-cita. Jawaban itu terdengar wajar, mengingat lanskap daerah tempatnya tinggal hari ini adalah daerah yang masih menjadi favorit bagi para pelancong mancanegara. Daerah di mana vila merambat dan menjulang lebih cepat daripada pepohonan.
Namun, jawaban itu menjadi semacam alarm bagi Bu Mitha. Tidak ada yang salah dengan cita-cita menjadi penjaga vila, tapi sejauh manakah para siswanya bisa dan berani merentangkan horizon cita-citanya? Membayangkan dan menegosiasikan masa depan yang belum bisa dihadirkan oleh realitas mereka sekarang.
Pada suatu pagi di tahun 2022, Bu Mitha lantas mendatangi sekretariat Minikino yang jaraknya kurang dari tiga kilometer saja dari sekolah tempatnya mengajar. Mulanya, ia hanya tahu bahwa organisasi ini bergerak di bidang perfilman. Itu saja. Berbekal keinginannya menghadirkan perspektif cita-cita lain pada para muridnya, Bu Mitha berinisiatif menghubungi Minikino untuk memperkenalkan berbagai profesi yang ada di dunia perfilman.
Kesempatan wawancara dengan Marcellina Laga Pramithasari (Bu Mitha) dan Sri Nurhayati (Bu Yati), guru dari SDN 5 Dauh Puri, di Dharma Negara Alaya saat Minikino Film Week 11 (MFW11) tahun 2025 terjadi saat keduanya hadir untuk mendampingi para siswa mereka berpartisipasi di Frame Explorer (kegiatan mewarnai ilustrasi karakter MFW11 yang merupakan segmen program edukasi festival).
Tahun ini menjadi tahun ketiga SDN 5 Dauh Puri bekerja sama dengan Yayasan Kino Media, dan tahun kedua mereka terlibat dalam MFW11. Berbagai kegiatan dari mulai klub sinema untuk siswa SD, workshop membuat film pendek dengan teknik stop–motion, hingga Frame Explorer dan Visionarium (kegiatan menulis cerita dengan inspirasi karakter MFW11) telah diikuti para murid.

“Kami yang pada awalnya mendatangi Minikino karena kebetulan lokasinya juga dekat dengan sekolah. Penting rasanya film pendek jadi media pembelajaran alternatif karena media pembelajaran kami di sekolah pun terbatas. Guru juga harus mau dan terbuka untuk belajar dari berbagai sumber. Kami ingin anak-anak tidak hanya mengandalkan buku pelajaran saja dalam belajar,” ungkap Bu Mitha.
Tidak berhenti pada menonton saja, para siswanya kemudian juga dipantik dan terpantik untuk mengungkapkan pendapat serta menafsirkan isi film pendek dengan cara mereka sendiri. Bu Yati menambahkan, bahkan ada murid yang kemudian terdorong untuk menulis skenario, meminta diajari membuat film, hingga akhirnya bisa memutar film garapannya di Minikino. Cita-cita yang tadinya terpaku pada penjaga vila kini merentang: ada yang ingin jadi penulis, sutradara, dan bekerja di bidang kreatif lainnya.
Minikino terus menumbuhkan dan merawat cabang-cabang program edukasi, terutama tapi tak terbatas dalam gelaran festivalnya. Dalam MFW11 tahun 2025, terdapat 59 film dari 11 program festival yang telah dirancang khusus untuk Short Film for Schools. Setiap programnya dilengkapi dengan Watch and Learn Guide, sebuah panduan menonton berisi ringkasan film dan pertanyaan pemantik yang membantu guru atau pendamping memandu secara mandiri diskusi pascapemutaran.. Dengan begitu, film tidak berhenti di ruang pemutaran, melainkan dapat terus berlanjut menjadi bahan percakapan dan refleksi, baik di ruang kelas, ruang keluarga, maupun ruang-ruang lainnya.

Pepatah lama berkata, it takes a village to raise a child (seluruh desa diperlukan untuk membesarkan seorang anak). Barangkali, satu desa saja tak cukup. Kehadiran festival film kini rasanya juga kita butuhkan untuk membesarkan seorang anak, menyemai imajinasinya akan dunia yang lebih baik, dan memupuk empati.
Karena festival hanya satu simpul dalam jaringan yang lebih besar. Ada guru yang mengajak murid keluar kelas. Ada orang tua yang memberi izin dan ruang. Ada lingkungan yang menyediakan cerita lain. Dan ada anak-anak yang berani membayangkan dunia yang berbeda dari yang mereka lihat sekarang.
Pendidikan tidak bisa lagi hanya dilihat sebagai sekadar urusan transfer-mentransfer pengetahuan. Lebih jauh, ia adalah kerja kolektif untuk menumbuhkan kesadaran dan keberanian untuk mengubah keadaan. Anak-anak berhak tahu bahwa dunia bisa dibaca dan ditulis ulang, dan tugas kita adalah menjaga agar ruang itu tetap terbuka; di mana saja, kapan saja, dan dalam format apa saja. Misalnya dalam format film pendek; pada akhirnya, harapannya tidak hanya memantulkan cahaya, tapi juga membentangkan cerita, dan memercikkan berupa-rupa cita.
Penulis: Hesty N. Tyas | Editor: Fransiska Prihadi





















Discussion about this post