Home / Indonesia Raja 2016 / Indonesia Raja 2016 : YOGYAKARTA

Indonesia Raja 2016 : YOGYAKARTA

Programmer Release
Maria Rosiana Sedjahtera
Programer | Yogyakarta

“Yang Sering Terjadi, Namun Jarang Disadari”

Keempat film ini masing-masing mempunyai kekuatan dalam storytelling, bagaimana mereka menceritakan apa yang ingin mereka sampaikan dalam film. Semalam Anak Kita Pulang menceritakan mengenai orang tua dan anaknya yang pergi jauh untuk bekerja. Nilep bercerita mengenai isu sosial yang terjadi dan dampaknya terhadap pandangan anak-anak. Sasi Takon memberikan bagaimana kehidupan dan perasaan seorang anak yang mengalami kasus yang sekarang sudah seringkali terjadi dalam kehidupan modern. Sedangkan Bawang Kembar senantiasa memberikan pesan moral yang tidak hanya cocok untuk anak-anak, namun dapat dihayati pula oleh remaja dan orang tua.

Semalam Anak Kita Pulang, mengambil sudut pandang dari sepasang orang tua yang sudah berumur. Sedangkan tiga film lainnya mengambil sudut pandang anak-anak. Keempat film ini benar-benar memperlihatkan reaksi-reaksi yang ditunjukkan oleh tokoh-tokohnya yang diakibatkan oleh lingkungannya, dampak ini terasa secara psikologis yang kemudian berpengaruh terhadap tingkah laku mereka terhadap lingkungannya.

Durasi total : 56:51
Rekomendasi Usia Penonton: 7+ (Semua Umur)


reting-usia-7+

Screening:

Synopsis:

film-pendek-indonesia-raja-2016-yogyakarta

Semalam Anak Kita Pulang

Adi Marsono-Four Colours Films/ Yogyakarta/ 2015/ 12:41

Bercerita tentang seorang Ibu yang merindukan kepulangan si anak. Sejak si anak pergi, berangkat kerja ke tempat yang jauh, Ibu ini tak lagi mendengar kabar dari anaknya. Kerinduan yang pada akhirnya menghadirkan bayangan dan kenangan akan si anak.

Award :

  • Best Short Film, Comedy/Drama Category XXI Short Film Festival 2016

Director Statement : Film ini terinspirasi oleh cerita para TKI.Bertahun-tahun mereka kehilangan komunikasi dengan keluarganya. Ada beberapa di antara mereka yang baru dapat bertemu setelah mereka tua.Bahkan beberapa di antara mereka yang menjadi gelandangan.

Lalu bagaimana dengan keluarga yang mereka tinggalkan? Tidak ada kabar dan berharap mendapat kabar dari orang yang mereka cintai. Hari demi hari.

Melalui film ini, saya ingin memotret kehidupan seorang ibu yang sedang menunggu kepulang ananaknya. Dan bagaimana penantian dan kenangan bersama anaknya pada akhirnya menciptakan bayang-bayang baginya.

Profil Sutradara : Adi Marsono lahir di Jogjakarta, Indonesia. Menempuh studi di UGM Jogjakarta, mengambil jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya. Sejak SMA dan kuliah telah aktif di kegiatan teater, dan tahun 2003 mulai terlibat dalam berbagai produksi film pendek sebagai aktor. Belajar membuat film secara otodidak dengan melibatkan diri sebagai asisten sutradara. “Semalam, Anak Kita Pulang” adalah karya film pendeknya yang pertama, sebagai penulis dan sutradara.

film-pendek-indonesia-raja-2016-yogyakarta

Nilep

Wahyu Agung Prasetyo / Ravacana Films/ Yogyakarta/ 2015/ 9:10

Sekumpulan anak sedang berkumpul di pos ronda, mereka saling berdebat karena salah satu dari mereka mencuri mainan, hingga akhirnya situasi berubah menjadi saling menyudutkan anak yang mencuri dan mereka pun saling menyalahkan.

Award :

  • Film Terfavorit Festival Film Pos Indonesia 2015
  • Film Pilihan Juri Anti Corruption Film Festival 2015
  • Film Fiksi Pendek Terbaik Anti Corruption Film Festival 2015
  • Finalis Film Pendek Festival Film Pendek Indonesia 2015
  • Film Fiksi Pendek Terbaik Drama/Comedy Pilihan Juri Media XXI Short Film Festival 2016

Director Statement : Saya berharap film Nilep dapat bertemu penonton sebanyak-banyaknya melalui program Indonesia Raja ini.

Profil Sutradara : Wahyu Agung Prasetyo atau yang kerap disapa Koclak dilingkungan teman-temannya, lahir di Jakarta 5 agustus 1993. Mengenal film bersama komunitas Cinema Komunikasi UMY, saat ini agung mendirikan Ravacana Films.

film-pendek-indonesia-raja-2016-yogyakarta

Sasi Takon

Wawan Sumarmo / Syahdu Film/ Yogyakarta/ 2015/ 17:00

Sasi, anak delapan tahun yang sering kutuan. Dia punya pertanyaan yang membuat ibunya pusing untuk menjawab. Apa yang tidak disadari oleh si Ibu adalah Sasi bisa saja mengembangkan pertanyaan dari apapun jawaban yang diberikan.

Director Statement : ‘Petan’ adalah kegiatan intim yang dilakukan untuk menghilangkan kutu dari kepala orang lain. Disadari atau tidak, petan membawa kedekatan istimewa di antara mereka. Film ini memaknai ulang sentuhan sebagai perwujudan kasih sayang antara orangtua dan anak. Sentuhan yang member kenyamanan dan perasaan aman untuk si anak bisa bebas bertanya tentang apapun yang merisaukannya.

Profil Sutradara : Wawan Sumarmo (1981, Wonogiri, Indonesia) telah membuat film pendek, video music dan film televise sejak masa kuliahnya. Dokumenter garapannya telah diputar di beberapa festival baik di Indonesia maupun Asia. Baginya film bukanlah persoalan durasi dan genre semata; melainkan film adalah sebagai cerminan dunia manusia beserta segala ceritanya. Jadi film adalah sebuah cara bagaimana cerita itu disampaikan.

film-pendek-indonesia-raja-2016-yogyakarta

Bawang Kembar

Gangsar Waskito / Studio Kasat Mata/ Yogyakarta/ 2015/ 18:00

Ada dua saudara yang saling menyayangi bernama Rara dan Puput. Ketika sedang bermain di hutan, mereka menemukan sebuah rumah raksasa. Rara pun memutuskan untuk masuk. Di dalamnya ada banyak sekali mainan dan barang-barang unik yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, termasuk sebuah sebuah patung raksasa yang terdapat di tengah ruang. Rara pun bermain-main dengan benda itu hingga tidak sengaja memecahkannya berkeping-keping. Mengetahui hal ini, murkalah si raksasa pemilik rumah, Nini Buto Ijo. Rara dan Puput sangat ketakutan. Rara mengajukan diri untuk menerima hukuman karena semua ini adalah kesalahannya. Tapi yang dilakukan Nini justru lebih kejam, ia menyihir wajah Puput menjadi tokek. Nini menuntut agar patung tersebut diperbaiki seperti sedia kala sebelum matahari terbenam. Apabila gagal, Puput akan menjadi buruk rupa untuk selama-lamanya.

Director Statement : Indonesia memang kaya dengan cerita rakyat, tapi kadang cerita-cerita itu sudah kurang relevan dengan keadaan sekarang. Terinspirasi dari Disney, saya mencoba mengolah salah satu cerita rakyat menjadi dongeng versi modern yang sesuai dengan nilai-nilai kekinian. Bawang Kembar mengadaptasi cerita rakyat Bawang Merah Bawang Putih sebatas ke-“ada”-an karakternya saja yang saya plot bertolak belakang dengan cerita aslinya.Ada sosok Bawang Merah (saya kasih nama Rara) dan ada sosok Bawang Putih (namanya Puput). Rara adalah anak yang berani, pede, dan pintar sedangkan Puput sifatnya penakut, polos,dan bodoh. Konflik Bawang Kembar berkembang saat diperkenalkan Nini Buto Ijo,tokoh antagonis yang saya rasa tidak jahat. Benda kesayangannya dirusak oleh Rara, maka sudah sewajarnya ia murka. Pendekatan antagonis seperti ini terinpirasi dari gaya bertutur Ghibli yang seringkali menyajikan konflik tanpa melibatkan orang-orang jahat.

Profil Sutradara : Gangsar Waskito lahir di Jakarta, besar di Jogja. Menekuni dunia film dari komunitas film indie (live shoot) kemudian beralih dunia animasi hingga sempat menjadi sutradara film animasi panjang pertama di Indonesia.

Top