Coming-of-age merupakan genre film favorit saya. Dalam sastra dan film, genre coming-of-age mengacu kepada cerita dengan titik berat pada karakter dalam peralihan dari masa kanak-kanak atau remaja menuju kedewasaan. Tak ayal, pengalaman menonton My Paws Are Soft, My Bones Are Heavy (Garry Christian / Indonesia / 2024) membekas bagi saya. Perjalanan pencarian jati diri ala anak muda sebagai tema sentral terasa kentara sewaktu menonton film tersebut.
Apabila coming-of-age (juga film pendek pada umumnya) biasanya memberi sorotan khusus pada sosok karakter utama, My Paws Are Soft, My Bones Are Heavy memiliki keberbedaan dari bagaimana perhatian diberikan pada dua karakter yakni Johan dan Paran. Pendekatan demikian membuat film pendek ini menjadi menarik berkat dua hal. Pertama, adanya dua karakter utama semakin mempertegas tarik ulur cerita. Kedua, interaksi dua tokoh yang memiliki karakteristik berbanding terbalik memanifestasikan kecamuk emosi masa muda. Johan acap kali cenderung tenang dan dingin, sedangkan Paran digambarkan secara ekspresif dan penuh spontanitas.
My Paws Are Soft, My Bones Are Heavy garapan sutradara Garry Christian adalah sebuah cerita yang hening dan lembut, dituturkan lewat sudut pandang Johan (Zaya Maurina) yang berusaha menavigasikan hidup selepas kepergian ibunya. Di sisi lain, Paran (Rangga Yogata) berusaha berjalan beriringan dan sesekali di belakang Johan sebagai sahabat yang hadir dan membersamai. Film berdurasi 19 menit ini memperbincangkan pengalaman hidup dari kacamata anak muda yang tumbuh di kawasan rural dan keluarga menengah ke bawah. Namun, eksplorasi karakter di dalamnya tak lekang waktu dan melampaui batas geografis juga sosio-kultural – memahami duka, mencari tahu makna cinta, dan bagaimana mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan oleh orang tersayang.
Saya berbincang dengan Garry Christian dan produser Feisha Permanayadi di Bali dalam gelaran Minikino Film Week 11 pada 16 September 2025 yang lalu. Obrolan yang mulanya memperbincangkan tentang film dan karakter kemudian mengalir dan mengayun pada sentimentalitas, makna menjadi muda, dan identitas.
Hilmi: Konsepsi awal dari film My Paws Are Soft, My Bones Are Heavy ini bagaimana?
Garry: Saya memulai dari perasaan dan kata “longing” (kerinduan). Kata longing selalu menimbulkan rasa yang besar buatku dan saya tidak tahu kenapa. Saya ingin mengeksplorasi itu, tentang keingintahuan dan ketidaktahuan.
Draft 1-nya sangat berbeda. Saya baru mulai ketemu ceritanya ketika bertemu dengan co-writer-ku Ezra Cecio (Cio) dan kami berdua dibantu Feisha sering banget diskusi. Prosesnya sangat cair karena kami tidak memulai dari cerita, kami memulai dari karakter. Saya dan Cio menulis backstory panjang banget, kami berhenti ketika [produksi] filmnya mulai. Ketika di awal film, kami bertanya: “Iya ya, [karakter Johan] mau ngapain di film ini?” Balik lagi ke longing, dia perlu sesuatu. Semuanya itu sangat nirsadar, bagaimana akhirnya itu Johan ada “hubungan” dengan sahabatnya itu tidak direncanakan di awal. Kami berjalan-jalan ke calon lokasi syuting dan menemukan adegan-adegan baru dari lokasi itu.
Feisha: Sebenarnya mulainya kan dari kami ingin bikin film. Karena ini film yang kami produksi secara independen, kami benar-benar memanfaatkan waktu untuk setiap jengkal proses. Bukan perfeksionis, tapi untuk memenuhi plot dan kepingan puzzle. Kalo buat saya resonansi film ini lebih ke identitas: Johan ini tanpa ibunya gimana?
Garry: Tanpa kusadari saya sangat suka genre coming-of-age. Buatku film ini sangat personal dan penting, pun saya belajar banyak tentang diriku sendiri lewat membuatnya. Tema tentang identitas itu sesuatu yang ingin saya sentuh dalam film-filmku. Identitas kan sangat cair ya, berubah mulu, dan saya melihat perubahan itu paling banyak terjadi di anak-anak muda. Saya memang masih muda, Feisha juga masih muda [tertawa] tapi perubahan paling banyak terjadi ya di anak muda. Itu menarik banget untuk dieksplor.
Hilmi: Menimbang kalian masih muda, apakah proses membangun cerita tentang anak muda menjadi lebih gampang atau justru merefleksikan usia muda menjadi lebih sulit?
Garry: Lagi-lagi, karena prosesnya nirsadar, saya bisa bilang mungkin lebih mudah. Karena bagaimana karakter-karakter di film ini ngobrol, gimana cara mereka bertingkah, itu refleksi dari saya dan teman-teman. Rasanya lebih mudah untuk mengenali perasaan-perasaan itu karena mereka dalam perjalanan untuk menemukan diri mereka sendiri, perjalanan di mana mereka seharusnya berada di antara teman-teman. Saya pun juga begitu, dan Feisha mungkin juga begitu, mungkin paling mudah dimengerti oleh orang-orang yang sedang mengalami juga.
Tapi tentunya buat saya perlu ada jarak antara apa yang kita ciptakan dengan diri kita, kan tidak sedang membuat biografi jadi perlu ada jarak. Dan kita perlu bisa melihat atau mengkritisi sebenarnya perasaan yang mereka rasakan itu benar atau tidak? mungkin saat saya menulis saya juga berdebat dengan diri sendiri, identitas saya itu seperti apa dan siapa, longing itu apa, perasaan-perasaan besar itu apa dan gimana rasanya? Itu saya terjemahkan [ke dalam film].
Feisha: Mungkin karena saya selalu merasa wawasan saya nggak sebesar teman-temanku dan Garry, saya merasa lumayan berjarak dengan cerita dan karakternya. Sederhananya saya nggak pernah mengalami [yang dialami karakter]. Saya perlu waktu untuk bisa mengerti dan menjauhkan saya dari menghakimi karakter ini – kan penting ya untuk tidak menghakimi karakter. Karena proses [produksi] kami lumayan panjang, semuanya menjadi lebih mudah. Adanya riset karakter dan mendapat pandangan baru dari penulis membuat saya lumayan mengerti dan juga bisa lebih mengetahui [cerita dan karakter] secara absolut gitu.

Hilmi: Bicara tentang perasaan dan aktor, bisa diceritain proses riset karakter dan hal-hal yang ingin kamu kedepankan dalam karakter ini?
Garry: Buatku proses menulis karakter itu sama seperti identitas kita, tidak pernah berakhir. Saya pun menulis bersama Cio awalnya dimulai dari perasaan. Kalau kamu tanya apa sih satu yang yang ingin saya kedepankan dari karakter ini, adalah perasaan teralienasi. Saya dan Cio menuliskan cerita dan backstory-nya berasal dari perasaan duka dan kehilangan kendali karena kamu punya seseorang yang benar-benar memahami dirimu namun mereka tidak lagi menjadi bagian dari hidupmu.
Kemudian saya bertemu Zaya, sangat bagus. Saya nggak open casting, saya nonton klip film dia aja dan wajahnya ini kaya lanskap yang menceritakan banyak cerita. Saya bilang ke Feisha, saya ingin dia jadi aktornya. Kami bertemu dan tidak ngomongin filmnya sama sekali, saya ingin mengerti orang ini seperti apa. Kami banyak ngobrol dan kemudian Zaya bercerita banyak tentang masa lalunya, bagaimana dia mengatasi duka dan alienasi, kemudian kami banyak membahas karakternya ketika dia secara resmi menjadi aktor. Jadi karakternya mengalami pertumbuhan dari obrolanku bersama dia dan ketika dia merasakan tempat-tempat lokasi syutingnya – prosesnya sangat kolaboratif dan saya sangat senang bisa ngobrol sama dia. Dia selalu ngomong ke saya, “saya paham bagaimana rupa kesedihan”, rasanya jadi semi-semi dokumenter bagaimana saya menangkap perasaan mereka.
Feisha: Sangat menarik ketika pertama kali ketemu Zaya, dia bilang “Saya harap saya dapat posisi ini!”. Dia juga bilang waktu baca naskahnya itu adalah apa yang baru saja dia lalui satu atau dua tahun yang lalu, sehingga proses bersama Garry sangat kolaboratif dan organik. Kolaborasi dengan aktor-aktornya berlangsung dari naskah awal bertemu, pembacaan naskah pertama secara terpisah, dan pembacaan naskah selanjutnya ketemu secara berbarengan naskahnya semakin beda. Banyak campur tangan dari Zaya dan Rangga tentang apa yang mereka rasakan dan yang membuat mereka lebih nyaman.
Hilmi: Kita bisa melihat hubungan Johan dan Ibunya lewat memori, tapi juga hubungan Johan dan Paran yang intim. Gimana proses untuk keintiman ini bisa terbentuk, apakah ada treatment tertentu?
Garry: Kupikir prosesnya sangat nirsadar, itu refleksi dari identitasku. Karena saya sebagai laki-laki bisa dibilang cukup feminin dan cukup lembut nggak kaya laki-laki kebanyakan, dan saya rasa itu tertransfer aja tanpa saya sadari. Dari awal saya membikin treatment itu sangat mengedepankan dikotomi antara kekasaran dan kelembutan, dan [film] ini ingin saya jadikan pengalaman sensori: kamu bisa menonton filmnya, tapi kamu juga bisa merasakan dari suara, gambar, akting.
Feisha: Dari film-film yang saya pernah kerja bersama Garry, dia memang terbiasa dan mungkin tanpa sadar mempunyai karakter perempuan. Saya merasa, femininitas, sesuatu yang nyaman ditulis Garry. Bisa dibilang [film] ini kali pertama Garry menulis naskah untuk karakter laki-laki. Saya sudah lama berteman dengan Garry, dan dari cerita-cerita dia sudut pandangnya sangat halus tentang apa pun itu. Lucunya malah co-writer kami, secara personal, sangat maskulin. Setiap kali kami brainstorming dia memberi ide yang cukup banyak.
Garry: Kami saling menyeimbangkan satu sama lain. Dia [co-writer] bisa memberi sudut pandang maskulin, saya bisa memberi perspektif yang feminin. Saya sangat senang sih berani mengeksplor karakter laki-laki. Fokus ke depannya saya ingin mengeksplorasi kelembutan dan maskulinitas laki-laki. Itu gejolak besar dalam diri laki-laki, kamu “harus” menjadi maskulin akan tetapi manusia makhluk yang kompleks.

Hilmi: Fokus film ke karakter Johan dan Paran membuat orang-orang berasumsi kalau mereka mempunyai hubungan spesial, yang juga memunculkan pertanyaan di manakah karakter-karakter tambahan seperti teman-teman mereka atau tetangga dalam film ini?
Garry: Secara teknis, saya ingin menantang diri saya secara pelan-pelan. Saya nggak punya kapabilitas untuk mengarahkan banyak aktor, misalnya tetangga, bapak, dan lain-lain gitu. Saya punya kapasitas untuk mengarahkan dua aktor utama dan satu karakter pendukung, ibunya.
Saya rasa juga mungkin mereka [karakter] melihat cerita ini sebagai sesuatu yang lebih dari persahabatan, akan tetapi mereka masih mencari jati diri mereka. Itu sesuatu yang terjadi organik. Di dalam naskah saya menulisnya mereka merupakan dua sahabat, tapi dua aktor hebat ini menambahkan bumbu mereka sendiri sehingga hasil akhirnya sangat intim, salut buat mereka!
Feisha: Saya rasa punya banyak keterlibatan [karakter lain] juga bukan apa yang film butuhkan. Waktu saya baca naskah ini hanya terasa momen mereka berdua aja. Secara nggak langsung ini berusaha mencapai pengalaman sensori tadi dengan memfokuskan dunia ini jadi milik mereka berdua aja. Kalau ditanya intensional atau nggak, kami punya adegan penutup yang nggak jadi masuk ke final cut. Menurutku dan Garry, justru akan mematahkan ending-nya di sini. Demi cerita coming-of-age dan pencarian jati diri, saya pikir lebih baik menjadi open ending. Sama halnya dengan hubungan mereka berdua, mereka mungkin tidak tahu apa yang mereka rasakan.
Garry: Kan rasanya open ending, saya ingin dan tahu ketika filmnya selesai rasanya harus bittersweet. Saya berusaha menangkap bagian kecil dari kehidupan mereka. Setelah kamera berhenti rolling selepas filmnya selesai, kehidupan Johan dan Paran tetap berjalan. Mungkin sekarang mereka lagi nge-bir? [tertawa].
Penulis: Hilmi Reyhan





















Discussion about this post