“Ih, kok anaknya dibiarin nonton YouTube?! Ga takut terekspos konten tak pantas?” Sebuah komen di salah satu postingan pesohor ini adalah komen template di media sosial untuk mengomentari perilaku anak zaman now.
Pada postingan parenting di akun yang lain, salah satu komen yang muncul seperti ini: “Anak saya mau jadi YouTuber, itu ada masa depannya nggak ya?”
Familiar dengan komen-komen tersebut?
Sebagai seorang ibu dan mantan guru di sekolah, berikut ini berbagai siasat yang ingin saya bagi. Untuk si bungsu yang masuk gen Alpha, kami sering melakukan open discussion, membahas konten-konten di YouTube, apapun genrenya.
Saya juga sering memberi masukan: lebih baik menonton video panjang bukan short video agar tidak memiliki short attention span, yang akan berimbas kurang baik pada pertumbuhan kognitif dan konsentrasinya. Namun, seiring cepatnya perkembangan teknologi digital, apa saya mengeluh dan berhenti hanya sampai sana, atau mengikuti arus? Semesta ternyata mendukung saya untuk tak berhenti.
Workshop Penggunaan Film Pendek Untuk Tenaga Pendidik
Pertengahan Maret lalu, saya beruntung menjadi observer (pengamat) Workshop Penggunaan Film Pendek untuk Tenaga Pendidik yang diselenggarakan oleh Minikino, sebagai lanjutan dari riset Yayasan Kino Media sejak 2023, dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan tahun 2024.
Workshop yang saya hadiri ini adalah workshop kedua yang diadakan, merespons workshop pertama yang mendapat antusiasme cukup besar, diikuti peserta tenaga pendidik tingkat sekolah dasar di Kota Denpasar, dengan tujuan memperkenalkan metode kreatif menggunakan film pendek sebagai alat bantu pembelajaran.
Berdasar modul yang saya dapatkan saat itu, ternyata saya punya keberuntungan lagi. Ada kesempatan real untuk mempraktikkan modul tersebut saat workshop, dengan film Ari (dir. Alex Murawski, 2016) dan film stop-motion animation Mogu & Perol (dir. Tsuneo Goda, 2018).
Praktik Literasi Film Bersama SD Salam Yogyakarta dan mahasiswa UNY
Pada hari Kamis, 24 April lalu, sebagai orang tua kelas, saya mengajukan diri memimpin praktik literasi yang saya dapat dari workshop bersama Minikino bersama peserta didik kelas 5 SD Salam Yogyakarta, kelas di mana bungsu saya, Dydy belajar. Fokus workshop ini lebih kepada literasi dan empat aspek analisis utama pada modul, yaitu tokoh, cerita, audio, dan visual.
Mengingat kondisi kelas dengan siswa yang jumlahnya tak banyak dan ketika itu dihadiri beberapa mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang sedang studi observasi di kelas, saya menyesuaikan alur acara. Tak seratus persen sama dengan modulnya, karena dari segi sound-nya pun sangat standar, bukan seperti di ruang bioskop.
Mengawali acara hari itu, saya menguji peserta yang hadir dengan pemantik film Jumbo (Ryan Adriandhy, Indonesia, 2025) yang baru mereka tonton seminggu sebelumnya. Saya bertanya jawab tentang tokoh, cerita, audio, dan visual film tersebut. Ternyata kadar pengetahuan dan pemahaman mereka tentang film cukup baik. Ada yang tahu stop motion, animasi, dan voice over.
Setelah itu, jembatan diskusi kami sebelum ke materi inti saya isi dengan tanya jawab tentang baik buruk YouTube, sebagai pengantar bahwa kedua film yang akan ditonton itu ada di YouTube dan mudah diakses. Jadi, pada momen itu saya menyampaikan bahwa di dalam dunia YouTube, film bermakna yang bisa jadi media belajar sesungguhnya tersedia.
Film pertama yang diputar adalah Ari. Sebelum dimulai, saya minta siswa dan mahasiswa yang hadir untuk mengamati tokoh utama dan ceritanya. Suasana mendadak hening, disertai celetukan beberapa siswa di tengah tayangan.
Ending yang cukup mengejutkan dengan seruan wow jadi pembuka diskusi: “Wah, kertasnya bukan cuma dikunyah, tapi dimakan.”
“Aku kira dia akan confess.”
“Mungkin dengan begitu, dia jadi diterima teman-temannya. Apalagi cewe yang ditaksir ikut bertepuk tangan, dan tersenyum.”
Saya terkejut, karena untuk adegan ending saja, persepsi setiap orang berbeda-beda. Lalu, kami membahas adegan per adegan: “Kukira di adegan pertama, dia akan dibully teman-temannya. Ternyata nggak, ya.”
“Ya, karena nggak ada yang bully dia.” Semua yang hadir pun mengangguk-angguk.
“Pelatihnya saja kasi kesempatan dia untuk terlibat, tapi ya dia overweight dan ketinggalan di permainan.”
“Ya, meski dia udah usaha dengan nge-gym, susah juga dia mengejar kemampuan teman-temannya.”
Peserta workshop yang lain juga urun berkomentar: “Kayaknya dia marah tuh waktu cewek yang ditaksir diajak pulang sama temen cowo yang lain, makanya snacknya dibuang.”
“Tapi, ketika ada kesempatan berdua, dia pun nggak berani ngomong. Eh aku kira dia ngomong, tapi ternyata suara temannya itu.” Pendapat itu terus bergulir seputar tokoh dan cerita film, meski dengan catatan, tak semua siswa mampu menonton film berbahasa Inggris tanpa subtitle.

Bagi saya sendiri, film Ari kuat menggambarkan isu body shaming, baik dari tokoh dan jalan ceritanya sehingga tanpa subtitle pun, tak terlalu mengganggu keasyikan menonton peserta workshop.
Untuk film kedua, metode saya berbeda. Saya mengadakan eksperimen kecil. Pada pemutaran Mogu & Perol, beberapa mahasiswa yang hadir menutup matanya dan beberapa siswa kelas 5 menutup telinganya. Setelah itu kami mendiskusikannya.
Fasilitator (sebutan untuk guru/pendamping) kelas ini malah seketika berkomentar begitu film usai: “Ternyata sulit banget nonton yang animasi, tidak disertai suara [karena menutup telinga]. Jadi tidak bisa menikmati.”
“Nggak ngerti ceritanya, apalagi nggak ada subtitle, cuma tahu masak aja, lalu apa lagi nggak paham.”
“Kalau aku yang cuma dari suara malah nggak ngerti itu film apa. Tahunya film Jepang dan kayaknya ada masak-memasak.”
Mahasiswa yang menutup matanya malah menyimpulkan film ini cerita anak dan monster. Ada juga yang bilang tokoh di film ada tiga dan ada adegan aktivitas masak memasak.
Sementara dari siswa, pendapat mereka serupa tapi tak sama. Dydy yang menutup telinganya, menikmati film hanya dari visual, bilang itu hanya film masak memasak. Temannya yang menutup matanya, bilang dia tahu film yang ditonton film Jepang, ada suasana malam hari karena ada ucapan selamat malam dalam bahasa Jepang, serta kegiatan masak memasak.
Lalu, film diputar lagi dengan semua bisa menonton secara audio dan visual. Seruan penonton bersahutan satu sama lain, karena mereka jadi tahu film sebenarnya seperti apa. Barulah, kami mendiskusikan bagaimana pertemanan Mogu dan Perol yang menjadi inti ceritanya. Pengalaman ini merubah kesan peserta tentang film: Kalau Perol mau makan, dia seharusnya ikut membantu menyiapkan atau nanti menolong membereskan alat masak dan makan.
Ketika saya mencetuskan apakah ini seperti simbiosis parasitisme, atau dengan istilah toxic relationship, sempat ada yang berujar, “Mogu pun nggak punya teman. Jadi dengan adanya Perol, meski minta makan terus, Mogu jadi nggak kesepian.”
Obrolan berlanjut tentang buah berry yang sangat asam saat Perol makan langsung dari pohonnya, tetapi nikmat ketika sudah jadi kue. Hal tersebut menuai kesimpulan ada jenis makanan yang memang perlu diproses dahulu baru keluar manfaatnya, atau jadinya tidak meracuni, seperti wortel, kentang, dan lainnya.
Diskusi film di kelas 5 hari itu diakhiri dengan dorongan saya tentang eksplorasi film produksi Dwarf yang mengeluarkan Mogu & Perol, supaya para siswa bisa menikmati tayangan menarik yang lain. Saya menyampaikan data bahwa Tsuneo Goda, si sutradara, melakukan take 24 kali pengambilan gambar, hanya untuk adegan 1 detik saja, yang lalu digabungkan. Saya kemudian bertanya: berarti, perlu berapa ribu pengambilan gambar untuk membuat film Mogu & Perol yang lamanya 8 menit?
Sesi menonton film pendek untuk pengayaan literasi hari itu usai sudah. Meski saya hanya bisa membersamai mereka sekali tanpa memberi tugas lanjutan, akan tetapi bagaimana mereka berdialog dan bisa memberi pendapat telah mewujudkan praktik literasi terutama dalam memahami, menginterpretasikan, berpikir kritis, serta mengkomunikasikannya dengan baik.
Memetik Manfaat Berkembangnya Teknologi
Bila para mahasiswa yang sedang studi observasi di kelas dan beberapa fasilitator merasa banyak belajar dan mendapat masukan tentang keberagaman media pembelajaran di kelas, saya pribadi mendapat insight tersendiri sebagai orang tua.
Apabila kita membuka peluang dan mengeksplorasi teknologi, seperti penggunaan media film pendek di platform YouTube, selalu ada celah dan cara yang mampu menghasilkan manfaat bagi banyak orang, terutama sebagai media pembelajaran bagi gen Alpha yang sangat visual.
Kemajuan teknologi tak melulu harus ditakuti dan ujung-ujungnya dibenci ‘kan? Sungguh beruntung saya pernah belajar dari Minikino tentang hal tersebut.





















Discussion about this post