Ketika berusaha mengingat kembali masa kecil saya, samar-sama teringat cerita Kancil Nyolong Timun (Kancil Mencuri Timun) yang disampaikan guru SD secara ekspresif. Serpihan masa lalu saya juga muncul lewat memori pelajaran menyulam bentuk-bentuk sederhana seperti mobil, gunung, atau ikan sewaktu TK. Selain itu, turut terpatri juga pengalaman sedih, saat praktik menanam kacang hijau dengan media kapas, kecambah milik saya menjadi satu-satunya yang tidak tumbuh di kelas.
Kita sadari atau tidak, dalam keseharian maupun dalam pembelajaran formal, interaksi kita amatlah dekat dengan spesies-spesies lain. Lantas yang menjadi pertanyaan apakah kita mengenali dengan akrab perjumpaan-perjumpaan tadi?
Cerita-cerita mengenai interaksi multispesies kemudian bisa kita alami lewat film dalam program MINIKINO 7+ di Minikino Film Week 11 (MFW11). Relasi antara dua pihak, sesekali lintas spesies bahkan lintas semesta, menjadi kacamata utama yang digunakan untuk melihat rangkaian film dalam program ini. Kisah merentang dari anak kecil yang berjumpa dengan makhluk setengah manusia setengah kera hingga semesta alternatif di mana sesosok hamster berteman dengan raksasa. Rangkaian film pendek yang disuguhkan menawarkan gagasan-gagasan yang tidak hanya berkutat pada pesan moral melainkan juga pada keragaman perspektif dan fleksibilitas narasi.
Meretas Simbiosis Mutualisme dalam program Minikino for 7+ A
Sejak kecil, orang tua saya menekankan untuk harus berlaku baik dengan teman-teman. Berkata terima kasih ketika diberi sesuatu, menyampaikan maaf jika melakukan kesalahan, termasuk menerima ajakan bermain teman sebaya (khususnya apabila sudah terlampau lama menatap layar televisi atau komputer). Walau demikian, ada kalanya saya menolak ajakan bermain oleh teman-teman, sebagaimana karakter Noor pada pembukaan Above the Tamarind Tree (Buthyna Al-Mohammadi, Qatar, 2024). Alih-alih mengiyakan tawaran temannya untuk bermain, Noor memilih untuk melukis sendirian di kamarnya.
Tak lama, seekor burung Nuri-ara menyelinap ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah kalung kerang yang terletak di rak buku. Merasa barang yang ia sayangi dicuri, Noor berusaha mengejar si burung hingga ke menuju sebuah pohon asam yang berdiri tegak nan megah. Usaha susah payah Noor memanjat pohon pun berbuah masam, kalungnya jatuh hingga pecah. Ketika melihat Noor menangis, sang burung berusaha menenangkan Noor dengan memberinya buah asam. Mereka berdua lantas memanjat pohon hingga ke puncaknya, lantas mengedar pandang dan mendapati lanskap pesisir yang diselimuti semburat senja hadir ke depan mata.
Interaksi lintas spesies juga kita temui dalam Treasure/Tesoro (Carmen Álvarez Muñoz, Spanyol, 2024). Berkisah mengenai seorang nenek yang bosan menjalani hidupnya mulai kembali menemukan gairah ketika suatu hari sekawanan gagak yang ia beri makan mengimbalinya dengan benda-benda bersinar. Sebagian orang barangkali familier dengan pemahaman bahwa burung gagak menyukai benda yang berkilauan. Meskipun asumsi tersebut belum sepenuhnya didukung klaim saintifik, terlampau banyak cerita berpendar jika burung gagak lah yang menjadi “kambing hitam” atas segala aduan kehilangan barang-barang seperti cincin, kalung, mutiara, dan objek-objek sejenisnya.

Treasure (2024) tidak berusaha menegasi ataupun menggugat pemahaman demikian. Film ini justru menceritakan bagaimana relasi yang terbentuk antara nenek dan kawanan gagak mempunyai batasan-batasan tertentu. Pondasi hubungan mereka ialah simbiosis mutualisme: nenek memberi makan gagak, gagak membawakan benda-benda berkilau setelahnya. Ketika sang nenek mulai jumawa dengan koleksi objek yang penuh dengan gemerlap serta tak lagi menghargai koin 5 sen berwarna emas, inilah saat relasi tak lagi setara. Hubungan mereka terancam putus sewaktu-waktu.
Selain film animasi, ada juga film live-action, Cening Nepukin I Kawa/When Cening Meets Kawa, the Magical Forest (Epriliana Fitri Ayu Pamungkas, Indonesia, 2024) yang menghadirkan Kawa, sosok karakter fantasi setengah manusia setengah kera. Kawa bertemu dengan Cening setelah ia tak menyelesaikan mebanten (memberikan sesaji sebagai wujud syukur), mengingatkan Cening tentang pentingnya bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Hyang Sangkara – penguasa tumbuh-tumbuhan.
Dengan menyilangkan karakter fantasi dan anak-anak, Cening Nepukin I Kawa (2024) secara efektif menyampaikan pesan untuk senantiasa berterima kasih ketika kita diberi sesuatu. Hal itu pun termasuk ketika hasil panen kebun berlimpah, manusia dianjurkan meluangkan waktu untuk mebanten dan tidak mengesampingkannya demi keinginan pribadi.
Melintang Lintas Semesta dalam program Minikino for 7+ B
Apa jadinya jika dunia pasca-apokaliptik digambarkan lewat stop motion (teknik animasi gerak henti)? Bersama film Le Petit et Le Géant (Isabela Costa, Perancis, Brazil, 2025) kita mengikuti, sesekali berjalan beriringan, dengan sesosok hamster yang nampak sendirian. Dunia sudah berantakan dan hanya tersisa onggokan sampah di sana-sini. Ketika si hamster menemukan sebuah tanaman kecil dan binokular, ia kemudian dipertemukan dengan raksasa. Walaupun diiringi dengan kecemasan dan ketidakpastian, bersama-sama kemudian mereka berusaha memunculkan harapan akan dunia yang kembali hijau dan subur.
Kita lantas kembali lagi ke semesta saat ini melalui film A King Without A Crown (Un Roi sans couronne, Olivier Bayu Gandrille, Prancis, 2025). Berpusat pada relasi kakak-adik sambung bernama Raja dan Clément, yang kini bisa terpisah sewaktu-waktu karena Raja akan dipulangkan ke Indonesia untuk tinggal bersama neneknya. Merasa bahwa keputusan ini tak adil, Clément berusaha melakukan segala cara agar rencana itu gagal. Sayangnya, bagaimanapun juga keadaan tak akan berubah, keputusan sudah diambil oleh orang tua mereka.

Menariknya, sutradara Olivier Bayu Gandrille sesekali menyisipkan cerita pewayangan epos Ramayana dengan karakter Rama, Sugriwa, dan Rahwana. Secara garis besar, diceritakan bahwa Rama dan Sugriwa, sosok raja kera, sedang bahu-membahu mencoba mengalahkan Rahwana. Ketika film dimulai, kita bersitatap dengan sepasang mata merah yang menyala dari dalam hutan yang gelap. Pada akhir film, kita kembali lagi bertatapan namun kali ini dengan karakter Rama, yang kini sendirian.
Keberanian Rama dan Sugriwa melawan Rahwana dan menyelamatkan Sinta disandingkan dengan usaha Clément dengan segala cara “menyelamatkan” hubungannya dengan Raja sebelum dipisahkan jarak ribuan kilometer. Meskipun bukan adik-kakak kandung, tapi dunia yang Raja dan Clément alami sehari-hari tidak terkungkung hubungan darah. Sebagaimana Rama adalah seorang kesatria dan Sugriwa adalah sosok manusia-kera, perbedaan mereka bukanlah menjadi penghalang dalam mencapai tujuan yang sama.
A King Without A Crown dan Le Petit et Le Géant berusaha menjahit relasi dalam perspektif semesta alternatif. Pembayangan akan dunia yang lain hadir lewat eksistensi karakter non-manusia dalam film. Meski subjek yang dihadirkan bukanlah manusia, namun isu yang mereka bawa merupakan persoalan yang akrab kita temui sehari-hari: sampah yang menggunung, perpisahan, ataupun upaya untuk bertahan. Perpindahan menuju semesta alternatif juga berimbas pada pertentangan atas stigma yang kita pahami. Misalnya, hamster terkenal rapuh dan acap kali meninggal karena kondisi lingkungannya. Namun, Le Petit et Le Géant (2024) memutar narasi hamster yang ringkih dengan menggambarkan sosok karakter hamster yang resilien dan berani untuk menjajaki area baru. Film justru menjajarkan hamster mungil dengan karakter raksasa yang alih-alih berani dan mahadaya, malahan cemas untuk pergi ke luar rumah dan menghadapi dunia.
Menutup Program, Membuka Pembicaraan
“Kita bicara tentang Perikemanusiaan, lalu bagaimana tentang Perikebinatangan?”
Ucap pelukis Affandi pada sidang Komisi Perikemanusiaan (sekarang setara Komisi Nasional HAM) Konstituante Republik Indonesia pada tahun 1955. Meski terdengar seperti kelakar ketika disampaikan dalam pertemuan formal nan serius kala itu, apa yang Affandi sampaikan sepertinya perlu kita renungkan secara saksama lagi sekarang. Ketika kita sedang memperbincangkan perihal manusia, bukankah entitas-entitas non-manusia seperti hewan, tumbuhan, dan makhluk-makhluk lain juga turut terdampak dalam apapun kebijakan yang kita ambil?
Menyadari bahwa tindak-tanduk dan segala keputusan yang kita ambil memiliki pengaruh – sesederhana menyentuh bunga di pinggir jalan atau mengelus kucing liar – adalah langkah yang kecil sekaligus besar. Ia bisa dianggap kecil karena barangkali kita tidak merasakan dampak apa-apa setelahnya. Namun, bagi si kucing yang kita elus bisa saja harinya menjadi lebih baik. Bisa pula si bunga tanpa sengaja terbantu proses penyerbukannya. Begitupun sebaliknya, bagaimana alam hidup juga memiliki dampak besar dalam laku sehari-hari manusia. Lewat merefleksikan sentuhan-sentuhan dengan lingkungan, interaksi yang terjalin antara kita dengan lingkungan saya pikir bisa jadi lebih bermakna.
Pada akhirnya, serangkaian film dalam program MINIKINO 7+ A dan B ini keduanya menawarkan sepilihan cerita yang merefleksikan kehidupan namun tidak hanya dituturkan dari perspektif manusia. Film-film yang disuguhkan hadir dalam beragam bentuk, narasi, dan perspektif – dalam presentasinya juga melampaui sekat-sekat spesies hingga semesta alternatif. Sebagaimana Affandi mempertanyakan atensi manusia terhadap kualitas hidup binatang yang ada di sekeliling kita, program MINIKINO 7+ pun mengamini pernyataan tersebut sembari secara lebih lanjut bertanya: Bagaimana jadinya jika manusia dan entitas-entitas lain di semesta ini hidup berdampingan dan saling mengasihi?
Lewat pertemuan dan pengenalan dengan keberagaman realitas sehari-hari, rasa keingintahuan audiens khususnya anak-anak bisa dipupuk, lebih-lebih tumbuh subur. Cara pandang untuk mengalami dunia selepas menikmati rangkaian film dalam program ini semoga bisa tak lagi terkotak-kotakkan antara dikotomi manusia-alam, namun dalam satu jejaring besar yang saling terkoneksi dan berlintasan.

















Discussion about this post