Tiap tahunnya, Minikino Film Week (MFW) mengajak seniman untuk bekerja sama menciptakan konsep ilustrasi visual. Selama 1 dekade terakhir, MFW telah bekerja bersama dengan Syafiudin Vifick, Jonathan Hagard, Monez Gusmang, Merio Felindra, Andy Praditya dan Edo Wulia.
Tahun ini, Dr. Bambang Tri Rahadian, M.Sn., adalah seniman yang berkontribusi pada desain visual MFW11. Akrab disapa Mas Beng, Beng Rahadian kini aktif berkarya sebagai illustrator sekaligus dosen seni rupa dan Kepala Prodi DKV Institut Kesenian Jakarta.
Pada 14 Maret 2025, Alda Hoya, Publicist MFW10, dan Natania (Nia) Marcella dari tim Edukasi Minikino, berbincang dengan Beng dalam sebuah ruang Zoom. Mulai dari undangan komite Minikino Film Week lewat direkturnya Edo Wulia hingga inspirasi dan style-nya membuat karya untuk MFW11, Beng berbagi tentang karyanya untuk MFW11 serta proses di baliknya.
Alda: Dari mana mulainya perjalanan Mas Beng sebagai artist MFW tahun ini?
Beng: Sebenarnya mulanya adalah dengan obrolan santai dengan Edo, tentang bagaimana kalau saya bikin ilustrasi, aset visual, untuk MFW. Saya sangat senang, karena MFW event yang keren dan semua yang berpartisipasi di situ juga keren. Jadi saya langsung setuju.
Ketika mendekati waktu membuat ilustrasinya, saya ngeblank, “Ilustrasi apa ya?” Saya lihat ilustrasi MFW sebelum-sebelumnya—dari Jonathan Hagard, Monez Guzmang—saya berpikir, “Apa yang baru yang bisa dihadirkan?” Akhirnya saat mulai ada ide, saya coba gambar.
Edo dan Cika (Fransiska Prihadi – Direktur Program MFW) membiarkanku ruang untuk eksplorasi apapun. Tahun 2024 datang ke MFW10 untuk nonton dan menikmati festival. Dari situ, saya bisa menafsir-nafsir kegiatannya seperti apa, dan akhirnya berpartisipasi sebagai ilustrator.
Alda: Tadi sempat dibilang kalau Mas Beng sempat ngobrol dengan Kak Edo. Dari proses ngobrol sampai jadi karakter, bagaimana prosesnya?
Beng: Obrolan dengan Edo terjadi tahun lalu saat MFW10. Setelah nonton di salah satu venue kafe, saya dan Edo makan dan ngobrol. Sebenarnya nggak ngobrol konten, nggak ngobrol gambarnya mau apa, tetapi ngobrol macam-macam saja. Dari situ, baru akhir tahunnya—sekitar November sampai Desember—muncul ide untuk fokus pada penonton.
Kupikir dari ilustrasi yang ada di luar sana, saya tidak menemukan yang fokus ke penonton. Untukku, dalam setiap festival, sebenarnya bintangnya adalah penonton. Kalau filmmaker, tentu sudah memiliki panggung. Itu memang karya mereka di festival film. Namun, apa artinya panggung tanpa penonton? Jadi, penonton itu penting.
Saya tafsirkan penonton-penonton itu dalam hewan. Hewan ini sebenarnya bukan metafora dari manusia, bukan juga perlambangan dari manusia. Anggaplah Minikino itu satu dunia alternatif, dan penonton-penontonnya juga alternatif.
Saya lihat apa yang bisa di-explore dari situ. Saya buat beberapa karakter itu untuk mewakili penonton. Dari posisi duduk, fashion, karakter-karakter yang saya buat sangat beragam, karena itulah yang saya lihat di MFW. Penonton-penonton di MFW itu sangat beragam. Kalau saya lihat festival-festival di Jakarta, orang-orang yang datang hampir sama semua. Cara ekspresi diri mereka rata-rata sama, kelasnya barangkali juga sama. Tapi kalau di MFW, benar-benar bermacam-macam. Saking uniknya, saya jadi berpikir, “Asik nih untuk diterjemahkan dalam visual.”
Kemudian, ada satu ikon yang sama, yaitu kursi-kursi plastik bakso itu. Saat saya nonton tahun lalu, saya duduk di kursi itu. Ada bule duduk di situ, kemudian orang penonton lain, semua duduk di kursi itu dan mereka enjoy. Mereka tidak mempermasalahkan tempat duduk.
Jadi memang bagi penonton, mereka lebih fokus pada apa yang ditonton. Mau duduk di situ, lalu pindah ke tempat nonton lain, ke venue lain, dan keadaannya berbeda, lebih nyaman, dan lain-lain, tetap saja yang mereka apresiasi adalah apa yang ditonton. Saya juga tidak mendengar ada yang komplain tentang kursinya. Semua fokus. Yang datang ke Minikino memang ingin menonton film pendek. Mereka bukan orang yang mencari gaya. Mereka datang tidak untuk status ataupun status sosial. Mereka memang datang karena ingin menonton dan itu ternyata dari berbagai daerah. Saya bertemu orang yang jarang saya temui di situ, di Minikino, di Bali.
Mungkin saya juga salah satu di antara karakter-karakter itu. Saya menjadi Katak, menjadi Komodo, menjadi Burung, menjadi Monyet….
Nia: Adakah hal baru yang Mas Beng explore dalam proses membuat karakter-karakter MFW11 ini?
Beng: Dulu, saya menggambar dari karakter yang established, yang sudah ada. Kalau sekarang, saya menciptakan karakter sendiri. Namun, pengaruh gambarku dulu masih ada. Cara menggarisnya, anatominya… sudah pasti ada pengaruhnya.
Yang saya eksplor di sini adalah warna. Warnanya kulitnya cenderung gelap. Itu saya tumpuk pakai tekstur kertas watercolor yang sudah ada warnanya. Ini terlihat kalau di-zoom. Tapi kalau di-zoom, di hi res-nya, kelihatan kalau bajunya, kacamatanya, tasnya, kursinya,semuanya itu flat. Tapi kalau kulit-kulitnya itu layer-nya saya tambahin dengan tekstur kertas cat air yang ada warnanya, jadi dia dalam.
Nah, ini memang agak sulit untuk diproduksi, karena tekstur tidak bisa [di-color drop atau] di-copy gitu aja. Semua warnanya khas. Namun, tidak apa-apa juga kalau misalnya akan diproduksi dengan warna yang flat, asal mendekati tidak masalah.
Alda: Dari 11 karakter ini, saat pembuatan, apakah Mas Beng terpikir untuk memberi nama mereka?
Beng: Tidak terpikirkan, tapi lucu juga kalau ada namanya.
(catatan redaksi Minikino per 17 Agustus 2025: untuk para pembaca artikel ini yang aktif di Instagram, ayo temukan kesebelas karakter MFW11 di Instagram dan follow mereka)
Kalau soal gaya gambar karakternya, memang itu menggunakan gaya yang sudah saya pakai sejak remaja. Dulu waktu saya SMA—SMA saya di SMSR, Sekolah Menengah Seni Rupa—ada satu periode di tahun terakhir saat saya sekolah sambil kerja di Bandung. Saya kerja di studio Anemik, Animasi dan Komik. Waktu itu, studio itu sedang menggarap komik Dufan, Dunia Fantasi, di Jakarta. Dufan punya karakter. Ada buaya, ada garuda, ada tapir, ada katak, dan lain-lain. Ketika saya menggambar karakter-karakter untuk MFW, memoriku kembali ke waktu itu, ke gambar-gambar dari masa itu.
Membuatnya sangat menyenangkan. Saya gambar lagi karakter-karakter itu yang dulu pernah saya pelajari dari menggambar karakter Dufan ketika bikin komik Dufan. Hal ini terulang ketika saya kerja di perusahaan animasi di Kuala Lumpur, Malaysia. Saat di situ, saya juga menggarap ilustrasi hewan. Saya bertemu lagi gambar karakter buaya dan karakter-karakter hewan lainnya. Jadi sebenarnya, karakter-karakter yang saya buat untuk Minikino adalah kumpulan dari memori-memori itu. Menyenangkan sekali membuatnya.
Awalnya, saya tidak yakin gambarku akan diterima Edo. Saya tidak pede ketika mengirimkannya. Di pikiranku, “Ini oke nggak ya? Ini terlalu anak-anak nggak ya? Ini terlalu nge-pop nggak ya?” Kalau lihat karakternya MFW yang dulu, karakter-karakternya cenderung non-figuratif. Kalaupun ada figuratifnya, mereka simbol-simbol yang membuat orang harus berpikir ketika melihatnya. Kemudian, tahun ini saya masuk dengan gambar yang berkarakter pop. Gambar yang seperti di dunia anak-anak. Tapi ternyata, Edo suka. Saya bersyukur Edo suka.
Alda: Dari sebelas karakter ini, apakah kepribadian mereka terpikir oleh Mas Beng?
Beng: Ya, terpikir dari gestur saja. Kepribadiannya bisa dilihat dari gestur duduknya. Ada yang serius, ada yang bergerak, ada yang kakinya dinaikkan, ada yang tangan naik… itu mencerminkan kepribadiannya. Terima kasih kalau itu diapresiasi. Saya benar-benar tidak pede waktu mengirimkannya. Saya sampai bertanya ke istriku, “Ini oke nggak ya? Terlalu nge-pop nggak ya?”
Nia: Kalau dari Mas Beng sendiri, apakah ada karakter favorit atau yang paling dibanggakan?
Beng: Saya paling serius ketika menggambar Komodo, si ibu-ibu itu. Tadinya mau menggambar laki-laki, tapi jadinya perempuan. Saya memang tidak pernah mengkonsep dahulu saat menggambar. Prosesku tidak pernah melalui proses yang betul-betul linear. Saya langsung gambar dan menemukan karakternya.
Yang pertama kupikirkan memang komodo karena, terakhir Edo berkegiatan ke Labuan Bajo. Terpikirlah, mungkin saja ada komodo mengikuti dia. Hahaha. Jadi memang itu dulu yang pertama digambar. Barulah lainnya. Yang kedua, ketiga, dan seterusnya, datang saja tiba-tiba. Namun memang, saya berusaha membuat hewan-hewan yang ada di Nusantara.
Saya juga tidak mau terlalu menunjukkan kenusantaraan, karena ilustrasinya mewakili penonton, dan penonton MFW global, internasional. Jadi, saya juga buat hewan yang mungkin juga mudah dikenali oleh orang lain dari negara lain. Jadi ini memang bukan mengekspos hewan-hewan endemik, tetapi hewan yang biasa saja. Karena, ketika saya jadi penonton juga, saya menjadi penonton yang biasa.
Alda: Apakah ada lagi karakter yang terinspirasi dari orang-orang terdekat Mas Beng?
Beng: Tidak, saya hanya mengingat-ingat penonton yang saya temui di MFW seperti apa. Misalnya ada yang pakai celana pendek, ada yang tinggi, ada yang agak punk street pakaiannya. Jadi, itu saja; lihat dari apa yang diingat aja. Karena saat kupikirkan, pikiranku langsung mengingat itu karena itu yang paling dekat. Berarti itu tersimpan di memori jangka panjang. Kalau saya melihat lalu lupa, berarti memang tidak berkesan. Tapi kalau ketika ingat lagi, “Oh iya, ada yang pendek, ada yang agak punk… ini pake jaket kulit di Denpasar….” Itu masuk ke memori. Sisanya saya improve, campur-campur.
Alda: Dari 11 karakter itu, karakter mana yang paling buat pusing atau susah untuk dikerjakan?
Beng: Sepertinya burung. Burung itu agak problematik membuatnya. Saya bingung menggambarkan kostumnya. Akhirnya kubuat semacam seperti perwakilan tentara. Itu memang paling rumit.
Ada juga Anoa. Saya kesulitan menggambarkan wajahnya, karena dia bisa menjadi binatang apapun. Bisa seperti anjing, bisa seperti hewan lainnya. Tapi saya juga tidak mengajak orang untuk langsung mengenali, “Ini hewan apa ya?” Yang penting saya berusaha menggambarkan apa yang ada di kepala saya, jadilah penggambaran itu, gestur si Anoa lagi menonton. Anoa adalah karakter yang pakai baju hitam, dia pakai rantai di celananya.
Alda: Kalo misalnya Mas Beng diminta mengajak satu karakter untuk datang ke MFW11 bersama, Mas Beng mengajak yang mana?
Beng: Dari 11 karakter itu… siapa ya? Mungkin saya mengajak Badak Cula Satu yang bajunya kotak-kotak. Dia antusias menonton. Saya ingin ikut terbawa suasana itu. Namun, Buaya juga sama, dia juga tampaknya sangar, tetapi dia bisa jadi lembut ketika menonton.
Alda: Terakhir waktu karakternya sudah selesai semua, gimana perasaan Mas Beng?
Beng: Saya menunjukkan Edo hasilnya. Lucu katanya. Saya senang. Awalnya tidak pede. Lalu Cika menambah juga, dia suka dengan karakter-karakternya katanya. Karena buat saya, yang penting [karya saya] diterima dan diapresiasi. Dan mudah-mudahan diterima orang-orang. Yang saya takutkan adalah karakter itu jadi menjatuhkan citra Minikino, saya khawatir.
Alda: Selama proses pengerjaan ini, apakah ada fakta unik dari proses sampai selesai?
Beng: Penggunaan kursi itu, sebenarnya juga dipakai di festival di Sri Lanka kalau gak salah. Jadi ikon. Tapi kursinya saja. Karena mereka memang di sepanjang festival pakai kursi itu. Nah, tapi kalau disini saya udah jelasin juga sih, kalau di sini beda-beda venue-nya, beda-beda juga tempat duduknya. Kebetulan yang saya enjoy banget ketika menonton itu di kursi itu, karena saya lihat penonton yang lain juga enjoy gitu. Penonton lain juga senang-senang aja ketika menonton gitu. Ya gitu, kakinya naik, pegang bir, enjoy aja sama yang sebelah, yang serius, tangannya di perut…. Keragaman penonton itu menarik.
Alda: Berarti saat nonton benar-benar memperhatikan sekitar seperti apa ya Mas…
Beng: Ya, pertama kan memang tugasnya observasi, tapi memang isinya melekat ternyata. Itu yang teringat. Jadi, kalau fakta unik, ga ada yang spesifik sih, cuma kalau fokus pada gestur-gesturnya itu memang gestur yang saya lihat. Saya lihat memang begitu orang nonton di situ, senyaman itu.
Alda: Terus, di luar prosesnya sendiri, yang buat karya ini berbeda dari karya Mas Beng lainnya itu apa?
Beng: Kayaknya, karakter-karakter ini baru semua buat saya gambar. Yang sering saya buat itu komodo, tapi komodonya warnanya beda. Karena itu project saya ke Flores kemarin. Jadi komodo dan buaya yang sering saya gambar, tapi karakter lainnya karakter-karakter yang baru, yang bahkan ada yang belum pernah saya buat. Jadi benar-benar diciptakan untuk event ini dan saya beri untuk Minikino.
Alda: Tiga kata buat artwork Mas Beng untuk MFW11.
Beng: Pertama, jujur. Karena ini kejujuran saya dari melihat apa yang saya saksikan di sana. Yang kedua, enjoy. Jadi saya berusaha menggambarkan enjoy itu di dalam gestur-gestur si karakternya. Yang ketiga, baru. Ini genuine. Jadi, saya tidak menggunakan ini untuk proyek di luar ini. Jadi ini bener-bener dibikin untuk festival. Jadi tidak tersamai dengan karakter lain. Mungkin juga setelah ini, saya kira, ya oke juga nih Kalau mereka dibikin drama di satu komik misalnya. Siapa tau ya, nanti bisa ngobrol sama Edo.

Tentang Beng Rahadian
![]() |
Beng tinggal di Jakarta dan mengajar ilustrasi di Institut Kesenian Jakarta. Sejak tahun 2004, ia telah berkecimpung di industri komik dan komunitas seni, menerbitkan buku kartun, serta memamerkan karyanya di Jerman, Belgia, dan Polandia. Komik-komiknya telah menerima penghargaan sebagai Komik Terbaik dan Cerita Terbaik. Sejak tahun 2017, ia juga bekerja sebagai kurator di Jakarta untuk Galeri Nasional, Bentara Budaya, dan Salihara Arts Center. Ia merupakan salah satu pendiri Asosiasi Profesi Ilustrator Indonesia dan Jakarta Food Sketchers. Ia menerbitkan komik “Mencari Kopi Aceh” (2016) dan buku ilustrasi tentang jajanan jalanan Jakarta (2023).
Temui Mas Beng di antara bangku penonton selama MFW11, hadiri sesi diskusi bersama beliau, dan cek juga MFW11 Merch Shop untuk mencari buku “Mencari Kopi Aceh.” |
Pewawancara
![]() |
Alda Hoya
Menggabungkan kecintaannya pada film dan keahlian dalam publikasi media, Alda merancang strategi yang menjembatani cerita dengan audiens. Berbekal latar belakang Hubungan Internasional dan pengalaman praktis, ia memastikan film pendek mendapatkan visibilitas dan dampak yang layak mereka terima. |
![]() |
Natania Marcella
Nia adalah bagian dari Tim Edukasi di Minikino. Ia berfokus pada pengembangan keterampilan kritik film serta berkontribusi dalam edukasi film pendek di Minikino, didorong oleh keyakinannya akan potensi transformatif keberagaman dan komunitas dalam membangun budaya film yang dinamis. |
























Discussion about this post