Setelah kegembiraan festival film pendek selama sepekan penuh di pulau Bali, Minikino Film Week: Bali Internasional Film Festival ke-8 melakukan roadshow ke 8 kota di Indonesia. Berkat dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Edo Wulia dan Hollybeth sebagai Tim Kerja Post Festival Roadshow berangkat menuju Kupang pada hari Rabu, 26 Oktober 2022. Pemutaran di Kupang dilaksanakan dengan kerja sama antara Minikino dan Komunitas Film Kupang (KFK) yang sedang menyelenggarakan Flobamora Film Festival.
Hari ke-1
Tim Kerja mulai berangkat dari Denpasar langsung menuju Kupang. Pesawat sampai di Kupang jam 11.05 dan langsung dijemput oleh Gera dan Aba sebagai tim hospitality Flobamora. Tim Kerja sebelum menuju ke hotel mampir untuk mencicipi Sei Babi Kol Hua. Lalu Tim Kerja istirahat dan menyimpan perlengkapan pemutaran film.
Di hari pertama, Tim Kerja berinisiatif menghubungi tim KFK dan kabar yang didapat adalah mereka sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan opening Flobamora. Akhirnya, Tim Kerja menuju ke Venue Flobamora di Aula UPTD Museum Kupang. Di sana Tim Kerja tidak bisa membantu banyak, meski Tim Kerja sudah menawarkan bantuan, agaknya tim kerja Flobamora sendiri masih belum terlalu hangat menyambut Tim Kerja.
Flobamora Film Festival ini adalah festival pertama yang diadakan mereka, jadi ini sebuah awal yang tentu saja diharapkan bisa berlanjut dan berkembang kedepannya. Karena akhirnya harus diakui Flobamora adalah festival film pertama di NTT. Jadi ini penting sekali untuk lingkaran jaringan di NTT dan komunitas-komunitas film yang ada di NTT. Edo salut kepada Manuel Alberto Maia, yang akrab disapa Abe, sutradara film Nokas (2016) yang sudah bekerja keras dalam konteks mendorong KFK, sampai akhirnya punya festival ini dan juga konsisten dengan fokusnya.
Lalu tim kerja menemui Yedi Letedara Direktur Festival Flobamora dan juga beberapa pengurus Flobamora yang lain. Sambil ngobrol, Tim Kerja disuguhi sop, bihun, dan ayam kecap. Obrolan yang ditemani makanan lezat ini banyak membahas tentang programming. Terutama Insy dan Yaya sebagai programmer Flobamora. Edo banyak menjelaskan tentang Indonesia Raja, S-Ekspres.
Malam itu Tim Kerja pulang jam 1 malam.
Hari ke-2
Di Hari kedua Kamis (27/10) Tim Kerja mengisi perut dengan makan Sei Babi (lagi) sebelum berangkat ke UPTD Museum Kupang untuk mempersiapkan pemutaran. Jam setengah 3 sore Tim Kerja sampai ke lokasi dan mulai mempersiapkan hal-hal teknis. Edo banyak turun tangan perkara teknis ini karena mulai dari kualitas sound system, layar dan software pemutar film semuanya belum dalam performa yang baik untuk pemutaraan dengan kapasitas penonton 80 orang. Setelah persiapan teknis, Tim Kerja menuju lapangan aula untuk menghadiri Opening Flobamora Film Festival. Opening Flobamora dibuka oleh sambutan dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan dilanjut dengan penampilan kesenian dari komunitas-komunitas yang ikut terlibat.
Seusai pembukaan, pemutaran pertama adalah layar kompetisi 1, dan ada 5 film yang diputar. Sesi diskusi layar kompetisi 1 menjadi pengenalan pertama pada kualitas film dan penonton dari Kupang. Penonton di Flobamora ini bisa dibilang kritis dan punya ekspektasi yang tinggi atas film festival. Para filmmaker yang hadir saat sesi diskusi dihajar habis-habisan oleh penonton dengan pertanyaan yang sekaligus penyataan seperti “saya datang ke sini untuk nonton film yang berbeda seperti yang di TV, kalian kenapa masih bikin film yang mirip sinetron?” dan “filmnya membosankan banget kenapa gitu-gitu aja. Padahal kita berharap nonton di sini tuh biar enggak kayak yang di TV biar ceritanya beda”.
Menurut amatan Tim Kerja penonton yang kritis ini bisa membuat festival ini punya potensi besar sekali untuk maju bersama masyarakat penontonnya. Bahkan dalam beberapa kesempatan, penonton Kupang itu jauh lebih kuat dari filmmaker, festival dan komunitasnya. Jauh lebih serius dari penonton di Bali juga. Ketika program dari Post Festival Roadshow ditayangkan, penonton antusias dengan memberi tepuk tangan saat film-film selesai. Banyak testimoni dari penonton yang menyukai film Hantu dan Angle Mort.
Sesuai menonton program Post Festival Roadshow dan sesi diskusi film, Holly sebagai koordinator MFW 8 mengisi diskusi mengenai Management Volunteer. Tim Kerja menjelaskan mengenai panduan volunteer dan memberikan versi cetaknya untuk Flobamora. Ada juga pertanyaan mengenai bagaimana Minikino mendapatkan Dana untuk menyelenggarakan festival. Edo menjelaskan sedikit mengenai pengajuan proposal dan bentuk kerja sama aset lain selain uang yaitu venue dan sebagainya.
Para sukarelawan Flobamora yang jumlahnya sekitar 40-50 orang ini, berasal dari beragam komunitas. Mulai dari komunitas mural, komunitas remaja, hingga komunitas film itu sendiri. Sehingga semangatnya adalah semangat saling bantu antar komunitas. Suasananya adalah semangat pertemanan, sehingga tidak terlalu profesional. Di setiap relawannya ada rasa sungkan ketika sebuah pekerjaan tidak memenuhi deadline. Berdasarkan observasi ini secara halus Edo memberi rekomendasi kepada Yedi tentang bagaimana sebaiknya sebuah festival film secara struktural dan profesional dengan menggunakan Minikino sebagai rujukan.
Insy dan Yaya kembali bertanya mengenai programming. Edo menyarankan untuk banyak menonton film dan membaca, termasuk membaca katalog festival film. Karena bagaimanapun programmer akan dimatangkan oleh pengalaman dan pengetahuan di luar film sendiri. Lalu Tim Kerja memberikan paket katalog MFW kepada Insy, Yaya dan Yedi untuk dipelajari. Selain itu Tim Kerja juga menyarankan untuk coba pinjam film ke Minikino, entah itu Indonesia Raja, film-film dengan AD/CC, dan membeli setidaknya satu buku I Made Short Film Now WTF karya Clarrissa Jacobson untuk disimpan di KFK.
Setelah panjang lebar berbincang, Tim Kerja disuguhi Ayam bumbu kuning dan juga moke. Sebelum kembali ke hotel untuk istirahat, satu-dua teguk moke melarutkan lelah Tim Kerja.
Hari ke-3
Di Sabtu (28/10) Tim Kerja sudah jauh lebih akrab dengan teman-teman KFK dan Flobamora. Seharian Tim Kerja mempersiapkan pemutaraan Virtual Reality. Film yang diputar adalah Penggantian karya Jonathan Hagard. Karena Tim Kerja datang sebelum jadwalnya, beberapa anggota KFK dan Flobamora diberi jatah untuk menonton duluan VR. Respons mereka positif karena, mereka baru merasakan sensasi menyaksikan VR. Tapi sayangnya, setelah beberapa jam terlewati para pendaftar pemutaraan VR tidak ada yang hadir, sehingga slot penonton VR diberikan kepada panitia dan relawan Flobamora Film Festival.
Secara teknis pemutaran VR ini tidak banyak masalah, hanya saja ruangannya begitu panas bahkan tidak tertolong oleh dua kipas angin sekalipun. Para penonton VR banyak yang tertarik mengenai proses produksi film VR. Banyak dari mereka juga makin penasaran tentang Minikino setelah mencoba VR ini, bahkan ada yang berharap tahun depan bisa datang ke Bali. Koordinator relawan Flobamora, Danto sangat tertarik mengenai management Volunteer, dia berharap bisa belajar langsung ke Bali. Belajar bagaimana persiapan selama festival.
Setelah pemutaran VR selesai, Tim Kerja pergi jalan-jalan untuk makan ikan. Sebelum kembali ke Flobamora untuk pamit dan menyelesaikan perkara administrasi.





















Discussion about this post