Roadshow
Setelah kegembiraan festival film pendek selama sepekan penuh di pulau Bali, Minikino Film Week: Bali International Film Festival ke-8 melakukan roadshow ke 8 kota di Indonesia. Berkat dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Edo Wulia dan Saffira Nusa Dewi sebagai Tim Kerja Post Festival Roadshow berangkat menuju Palu pada hari Jumat, 21 Oktober 2022. Pemutaran yang akan dilaksanakan di Palu adalah kerja sama antara Minikino dan Sinekoci.
Hari ke-1
Tim Kerja mulai berangkat dari Denpasar untuk transit di Makassar, lalu sampai tujuan akhir di Ujung Pandang. Pesawat berangkat jam 14:41 dari Denpasar dengan cuaca mendung dan sampai di Palu empat jam setelahnya. Sampai di bandara Tim Kerja disambut dengan spanduk besar, tulisannya: Festival Danau Poso 2022. Lalu, Tim Kerja menuju ke hotel untuk istirahat dan menyimpan perlengkapan pemutaran film.
Di hari pertama, Tim Kerja berkunjung ke Halaman Belakang, sebuah rumah produksi yang berada dalam satu bangunan dengan rumah milik Yusuf Radjamuda atau akrab dipanggil Papa Al, seorang sutradara dan analis perfilman. Halaman Belakang menyambut Tim Kerja karena tim dari Sinekoci yang bertugas yaitu Sarah Adilah, Ifdal dan Alvi dari SMKN 2 Palu jurusan Film sedang melakukan pemutaran layar tancap di desa Porame. Di Halaman Belakang, Tim Kerja ngobrol dengan Papa Al terkait komunitas film di Palu. Menurutnya komunitas film di Palu sudah mandiri dan aktif, bahkan lebih aktif bila dibandingkan dengan komunitas di Bali. Hanya saja, belum punya festival yang kuat.
Menurut Papa Al, roadshow seperti yang dilakukan oleh Minikino ini penting karena dapat menunjukan seperti apa film-film festival, memperkaya referensi dan membuka wawasan yang tidak mungkin ditonton selain festivalnya datang. Karena bagaimanapun, film pendek akhirnya hanya bisa diakses di festival, dan kalau di youtube itu masa edarnya sudah lewat.
Selanjutnya Tim Kerja berangkat ke desa Porame yang letaknya di dataran tinggi. Di sana Papa Al mengajak Tim Kerja untuk melihat-lihat layar tancap dan kondisi pemutaran yang diselenggarakan oleh Sarah Adilah. Di sana Tim mencicipi beberapa makanan khas Porame. Mulai dari roti panggang yang ada rasa kelapanya, dan pisang goreng pake sambal. Di Porame Tim Kerja bertemu dengan sutradara film Kucing 9808, Catatan Seorang (Mantan) Demonstran (2008) Wisnu Kucing dan sutradara film Adam (2020) Zhaddam Aldhy Nurdin yang sedang memproduksi film dokumenter.
Hari ke-2
Tengah hari Sabtu (22/10) Tim Kerja bersiap menuju Aula Film & Animasi SMKN 2 Palu. Kondisi sekolah sepi dan bahkan ruang yang akan digunakan untuk pemutaran film masih terkunci. Sembari menunggu ruangan dibuka Tim Kerja dan Sarah, Fauzan, Khalidjah, Alfi, Tasya, juga Gloria dari Sinekoci bersiap memasang perlengkapan yang dibawa dari Bali, mulai dari x-banner hingga spanduk.
Tak lama berselang, pintu pun berhasil dibuka oleh salah satu guru SMKN 2 Palu. Namun, tidak disangka, ternyata sedang ada pemadaman listrik. Kabarnya sedang ada perbaikan oleh PLN. Akhirnya Tim Kerja duduk-duduk sambil ngobrol dengan Sinekoci.
Acara pun baru dimulai pukul 15:40 WITA. Sarah membuka acara dan Edo memberi sambutan sebelum pemutaran film dimulai. Kondisi pemutaran pada awalnya tidak terlalu ramai. Dengan kapasitas ruangan 100 kursi, yang terisi hanyalah sekitar 15. Namun ketika film mulai ditayangkan penonton mulai berdatangan dan terhitung hampir 70 orang memenuhi ruangan.
Saat pemutaran berlangsung, penonton memberikan respons yang baik. Setiap film selesai mereka tepuk tangan. Terlihat para penonton menikmati film-film yang disajikan. Meski begitu, ada hal unik ketika film Warsha sebagai film penutup diputar, beberapa penonton ada yang tertawa di beberapa adegan. Sepanjang pemutaran film tidak ada kendala, hanya ada kendala minor seperti audio yang belum stereo. Tapi itu semua dapat diatas tanpa kesulitan oleh Tim Kerja.
Seusai pemutaran, sesi diskusi dimulai. Sarah memulai memantik diskusi mengenai distribusi film. Edo dan Fira menjadi penanggap saat sesi diskusi. Saat diskusi, penonton awalnya malu-malu, tapi setelah satu penonton mulai berkomentar, kemudian penonton lainnya mulai menyusul. Pertanyaannya pada dasarnya standar. Misal, kenapa Ride to Nowhere bisa menang? Edo menceritakan proses penjurian yang berlangsung lewat beberapa putaran penjurian, dan kekuatan dari film ini terletak di ending film ketika pemeran utama melihat ke kamera dengan tatapan yang penuh makna.
Seiring diskusi berjalan yang awalnya membahas distribusi sampai menuju pembahasan mengenai programing. Pembahasan mengenai programing (dan kerja-kerja festival lainnya) menjadi penting dalam konteks anak-anak SMK. Seperti dikatakan oleh Sarah, anak-anak muda di Palu komunitasnya sudah solid. Hanya saja, pemikiran anak-anak SMK masih didominasi jika film itu harus jadi sutradara padahal lapangan kerjanya tidak hanya itu.
Selain itu juga ada tanggapan dari Neni Muhidin, pegiat literasi bencana di Palu yang juga ikut menonton. Neni menceritakan tentang ruang pemutaran film di Palu yang cukup aktif sejak sebelum tsunami 2018 menghantam Palu yaitu Bioskop Jumat Palu. Mereka kekurangan sumber daya manusia untuk mengurus Bioskop Jumat Palu sehingga sekarang tidak lagi aktif. Lalu ada juga Bioskop Keliling yang diinisiasi Sinekoci dan Halaman Belakang yang sekarang aktif memutar film-film pendek. Pada dasarnya penonton Palu sudah terbiasa menyaksikan film non-bioskop karena justru tidak ada jaringan bioskop di Palu. Bisa dibilang budaya menonton di sana sudah kuat.
Seusai diskusi, Tim Kerja dan Sinekoci berkemas, untuk kembali ke Halaman Belakang. Di sana obrolan tentang programing berlanjut ditemani cemilan bawang goreng. Adalah Khalijah dari Sinekoci yang tertarik untuk menjadi programmer. Di Halaman Belakang Khalijah berkeluh “Iya aku tertarik, tadi setelah aku ikut diskusi ternyata film-filmnya Palu ini enggak ke mana mana, memang produksi terus tapi enggak ada yang tau, sepertinya programmer penting untuk ada di Palu supaya film-film ini terdistribusi dengan baik.” Lalu, Edo menawarkan untuk menghidupkan kembali Indonesia Raja: Palu di tahun depan.
Edo dan anggota-anggota Halaman Belakang sempat jaming musik. Dan akhir hari diiringi gebukan drum dari dalam studio Halaman Belakang. Gebukan drum reda, Tim Kerja pun kembali ke Hotel melepas lelah.
Hari ke-3
Hari terakhir di Palu, Tim Kerja sedikit bervakansi untuk mencicipi Kaledo. Makanan khas Palu ini diolah seperti coto dengan kaldu sapi yang kental disertai sum-sum sapi yang liur di lidah. Setelah makan Kaledo, Tim Kerja berkunjung ke toko Mbok Sri membeli oleh-oleh. Menjelang sore Tim Kerja pulang naik Garuda.





















Discussion about this post