Setelah kegembiraan festival film pendek selama sepekan penuh di pulau Bali, Minikino Film Week: Bali International Film Festival ke-8 melakukan roadshow ke 8 kota di Indonesia. Berkat dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Stanis Hollyfield selaku Volunteer Coordinator untuk MFW8, bersama Brahmantyo Putra yang merupakan produser film Teguh berangkat menuju Padangpanjang pada hari Sabtu, 3 November 2022. Pemutaran di Padangpanjang dilaksanakan dengan kerja sama antara Minikino dan Institut Seni Indonesia Padangpanjang.
Hari pertama
Pukul 6:30 WITA, Holy berangkat dari Bali sedangkan Bram naik dari Jakarta, untuk bersama menuju Bandara Internasional Minangkabau. Tim Kerja dijemput oleh 3 orang, Miko, Jeje dan Andri. Dalam perjalanan satu setengah jam Tim Kerja terpukau dengan pemandangan di perjalanan dari Padang ke Padangpanjang. Sungai, air terjun dan juga pemandangan perbukitan tersaji dan sepanjang jalan menuju hotel. Setelah dari hotel untuk menyimpan barang, Tim Kerja berangkat ke ISI Padangpanjang untuk makan siang dan nongkrong. Makanan di sana murah dan porsinya banyak sekali. Setelah makan tadinya kita mau ketemu kaprodinya Pak Heri, tapi dia sedang keluar sehingga Tim Kerja bertemu dengan salah satu dosen prodi Film. Dan Tim Kerja nongkrong di ISI sampai sore dan minum Teh Kalua, menunggu rekaman podcast yang direncanakan oleh Tim ISI Padangpanjang.
Kemudian, Tim Kerja berangkat untuk merekam podcast, test screen, serta hal-hal teknis lainnya yang berkaitan dengan pemutaran film. Meskipun ada beberapa masalah audio yang muncul, namun masalah tersebut dapat diatasi dengan mudah. Auditorium yang digunakan memiliki kapasitas 70 orang dan sudah dilengkapi dengan speaker stereo yang layak untuk pemutaran film sesuai standar Minikino.
Setelah melakukan test screen, Tim Kerja masuk ke studio podcast dan mulai merekam. Selama 2 jam (termasuk persiapan), mereka membahas tentang program-program Minikino. Holly sebagai salah satu narasumber acara mengarahkan agar pertanyaan lebih banyak ditujukan ke Bram, yang merupakan filmmaker dari salah satu film yang menang di Minikino Film Week 8., Bram lebih banyak bercerita tentang Begadang Filmmaking Competition dan bagaimana dia sempat berpartisipasi sebagai peserta dalam kompetisi tersebut. Bagi Bram, Begadang Filmmaking Competition adalah tiket masuk paling mudah untuk masuk ke Minikino, serta ke festival-festival lainnya.
Setelah ngobrol dengan anak-anak dari ISI Padang Panjang, Holly merekomendasikan agar mereka mendaftar sebagai Festival Writers karena akan banyak mendapatkan pengetahuan tentang festival-festival film. Holly juga melihat bahwa minat anak-anak ISI Padang Panjang dalam film pendek cukup tinggi, tetapi tidak untuk film dokumenter.
Seusai podcast, Tim Kerja kembali ke hotel. Selama perjalanan, mereka tidak menemukan ATM BCA, Indomaret, atau Alfamart, karena kota Padang Panjang kecil. Suasana kota tersebut tenang dan asri, ditambah dengan kesejukan yang menenangkan. Keberuntungan mereka, saat Tim Kerja berada di Padang Panjang, tidak ada hujan, karena biasanya setiap hari terdapat hujan kecil, mirip gerimis di kota London.
Hari Kedua
Hari kedua (4/11) Tim Kerja dijemput di pagi hari oleh Miko, Jeje dan Andri ke ISI Padangpanjang. Sampai ke ISI di sana sudah banyak banner Minikino yang terpasang. Sebelum pemutaran dimulai Tim Kerja ngobrol dengan Wahyuda dan Salsabila yang menjadi MC acaranya.
Pemutaran film baru dimulai pada jam 10:10, sangat terlambat dari rundown yang seharusnya sudah mulai memutar film jam 09;00. Alasan dari teman-teman ISI adalah banyak mahasiswa yang masih belajar di dalam kelas pada jam 9. Tapi koordinasi mereka tidak terlalu baik sehingga banyak juga yang sudah bersiap-siap jam 9 dan baru ramai pada jam 9.30. Sebelum pemutaran dimulai ada sesi formal penyerahan kenang-kenangan dari Minikino dan juga ISI Padangpanjang. Pemutaran di Padangpanjang dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama mulai jam 10:00 dan sesi kedua mulai 12:00.
Film pembuka adalah Chiken Awaken, respons penontonnya terlihat seperti masih bingung dan belum bisa mencerna, karena mungkin mereka berekspektasi tinggi tentang film-film yang akan diputar dan mungkin juga belum paham tentang konsep begadang. Film kedua Teguh, bagi Bram sebagai produser melihat pemutaran Teguh menarik karena bisa berbagi dan membuka referensi tentang dokumenter yang bisa masuk referensi. Saat Sideral dan Angle Mort penonton terlihat ngantuk. Pak Heri cerita tentang film-filmnya mengangkat isu yang sensitif, karena di Padangpanjang masyarakatnya konservatif. Bahkan ISI dianggap sebagai lingkaran hitam di Padangpanjang. Kondisi pemutarannya bagus, penonton tepuk tangan setiap selesai film.
Setelah sesi pertama selesai, Tim Kerja pergi makan bersama Kaprodi film Pak Heri, Wahyuda dan ketiga orang LO yang sejak awal setia menemani. Saat makan Tim Kerja sharing tentang kondisi kampus film di Indonesia. Setelah makan, Tim Kerja kembali ke kampus untuk sesi Q&A bersama Wahyuda.
Sesi Q&A seusai pemutaran kedua yang totalnya dihadiri lebih dari 100 penonton ini diisi dengan berbagi perspektif yang beragam, mulai dari sudut pandang Bram sebagai produser yang membicarakan tentang distribusi film sampai film seperti apa yang bisa masuk ke festival. Bram juga menyoroti jika film yang tidak bisa masuk festival bukan berarti film itu sudah mati, film bisa didistribusikan melalui kanal online, komunitas dan layar alternatif lainnya secara mandiri. Terutama dalam konteks film dokumenter, yang mempunyai impact campaign, sehingga bisa memantik diskusi lebih jauh. Dalam film Teguh misalnya dampak yang ingin ditimbulkan adalah pembicaraan tentang komunitas LGBTQIA+ yang sebetulnya sangat dekat dengan masyarakat. Orientasi seksual yang bisa sampai membuat seseorang kehilangan kerja, dibungkus secara halus dan natural dalam kisah cinta dalam film Teguh.
Setelah sesi Q&A seluruh tim kumpul di ruang meeting, untuk membahas regenerasi dan kegelisahan terkait mahasiswa yang terlalu nyaman ada di dalam kampus seperti “katak dalam tempurung”. Bukan salah mahasiswanya juga karena memang Padangpanjang sangat kecil. Pak Heri dan Wahyuda terus berusaha untuk membangun budaya dan industri film dengan berusaha membuat Minang Film Festival.
Setelah itu, Tim Kerja keluar untuk makan malam dan ngobrol sampai jam 1 malam sebelum kembali ke hotel untuk istirahat.
Hari Ketiga
Hari ketiga (5/11) di Roadshow Minikino di Padangpanjang berlangsung sangat santai. Tim Kerja mengambil kesempatan untuk berjalan-jalan mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang. Saat menuju bandara, mereka ditemani oleh Miko, Jeje, dan Andri. Tim Kerja menyempatkan diri untuk berfoto di alam, di air terjun, dan bermain air seperti anak kecil.
Selama perjalanan, Tim Kerja mulai akrab dengan anak-anak dari ISI Padangpanjang. Pembicaraan mulai masuk ke ranah personal mengenai ekspektasi dan cita-cita dalam industri film. Selama jalan-jalan, Tim Kerja juga membicarakan musik, mendengarkan musik dari Jakarta Selatan, Feel Koplo, sampai Prontaxan. Mereka juga jalan-jalan ke Mifan, ke Museum Rumah Gadang, dan mempelajari sejarah Padangpanjang.
Di akhir perjalanan, Bram yang memang diundang khusus oleh Minikino untuk ikut Roadshow ini tidak menyangka bisa berangkat. Menurut Bram, Minikino sebagai festival bukan hanya tentang kompetisi, tapi juga tentang berbagi dan bercerita tentang filmnya ke publik luas sambil memancing diskusi.
Akhirnya, Tim Kerja kembali sampai di bandara untuk kembali ke kota masing-masing. Mereka merasa senang dan berharap dapat kembali lagi ke Padangpanjang di masa yang akan datang. Roadshow Minikino di Padangpanjang merupakan kesempatan yang luar biasa untuk membagi pengalaman, cita-cita dan ekspektasi dalam industri film pendek sambil berinteraksi dengan para mahasiswa di ISI Padangpanjang sembari menikmati keindahan alam yang ada di sana.





















Discussion about this post