Sejak Maret 2025, saya terpilih ikut Minikino Hybrid Internship for Film Festival Writer tahun ini beserta tiga peserta lainnya dan dilibatkan dalam sesi-sesi panel diskusi daring yang diisi oleh para profesional dari dalam maupun luar negeri. Rangkaian panel diskusi itu resmi ditutup dengan dua sesi terakhir yang berhasil mengusik alam pikirku sebagai bagian kecil dari seluruh ekosistem film. Pembicara pada dua sesi terakhir itu adalah Gregory Coutaut (3/6) dan Mary Stephen (5/6). Gregory adalah seorang kritikus film yang juga mengembangkan Le Polyester, sebuah majalah film daring berbahasa Prancis. Tidak lama berselang setelah sesi dengan Gregory, kami bertemu Mary Stephen, seorang editor film kelahiran Hong Kong yang saat ini berbasis di Prancis.
Setelah panel diskusi itu, saya menemukan adanya pandangan bertolak belakang yang muncul dari Gregory dan Mary. Dalam sesi bersama Gregory, ia menyampaikan bahwa menulis kritik film dalam bahasa Prancis sudah menjadi hal yang otomatis baginya. Ia pun mengutamakan subjektivitasnya ketika menulis dalam bahasa ibunya yang bisa tidak tersampaikan secara utuh jika diterjemahkan. Sementara dalam panel bersama Mary, ia mendukung penulis untuk bebas menginterpretasi film, dengan catatan untuk utamakan bicara soal karya daripada ego pribadi ketika menulis. Diskusi kami menjadi pemantik refleksiku tentang subjektivitas dari perspektif penulis sekaligus penonton film.
Subjektivitas Pribadi versus Ego Pribadi
Ketika menulis tentang film, sekiranya akan menarik membicarakan hal lain selain tentang bentuk dan konten film. Mengurai hal-hal teknis dan objektif di satu sisi sifatnya faktual dan akan selalu bisa dipertanggungjawabkan oleh material film. Di sisi lain, menulis dengan pendekatan aman seperti itu bisa terasa hambar walau berpotensi menawarkan temuan teknis yang baru. Untuk menyeimbang rasa tulisan, subjektivitas penulis hadir agar pembaca dapat mempertimbangkan ragam perspektif menonton orang lain.
Gregory mengatakan selalu ada subjektivitas dalam bahasa ibu yang cenderung akan hilang ketika diterjemahkan. Maka ketika menulis di Le Polyester atau bahkan di tempat lain, ia sadar subjektivitasnya sebagai seorang Prancis diutamakan dalam tulisannya. Tentu dengan amat sadar akan privilesenya sebagai penutur Prancis (banyaknya negara frankofoni, Prancis sebagai tempat kelahiran sinema, juga ekosistem film Prancis yang sangat subur) sehingga Gregory tidak perlu memusingkan soal pembaca. Gregory menulis Prancis untuk pembaca Prancis. Ia berpendapat keuniversalan dalam tulisan, yang didominasi bahasa Inggris, akan mempersempit kemungkinan-kemungkinan subjektif yang lahir dari penulis dengan ragam bahasa lain yang tentu memiliki banyak lapisan. Termasuk bahasa dan perspektif Indonesiaku yang juga penting untuk dipertimbangkan ketika menginterpretasi film.
Dalam panelnya Mary, ia pun berpesan kepada penulis untuk tidak menahan diri ketika menginterpretasi film. Pesan itu datang dari pengalamannya sebagai editor film. Meski profesinya adalah sesuatu yang sangat matematis dan logis, seperti yang ia katakan, baginya menjahit tiap frame menjadi suatu kesatuan merupakan sesuatu yang ajaib. Ketika ia mengedit film, ada pesan-pesan yang mungkin tertimbun oleh sutradara yang bisa dibawa ke permukaan lewat keputusan editing yang berada pada otonominya sebagai editor. Kemungkinan seperti itu menambah alasan pentingnya subjektivitas dalam berkarya, termasuk juga ketika menulis mengenai film. Peran penulis di sini adalah untuk menggali dan menjembatani pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara kepada penontonnya.

Satu pernyataan lanjutan dari Mary yang membekas adalah untuk bisa “put your ego aside” (kesampingkan egomu) alias fokus pada film alih-alih bicara tentang diri sendiri atau sutradaranya. Saya setuju dengan pandangan Mary soal ini. Namun di sisi lain saya juga setuju dengan subjektivitas penulis yang diutamakan ketika menulis dalam bahasa ibu seperti pandangan Gregory. Kedua pandangan mereka ketika disandingkan seakan menciptakan jukstaposisi, karena ketika menulis dalam bahasa ibu, ada subjektivitas yang melekat pada penulis untuk selalu dipertimbangkan. Namun, pada batas tertentu, kedua pandangan itu bisa berjalan beriringan dan bisa dipraktekkan tak hanya pada penulis, tapi juga pada unit ekosistem film lain seperti filmmaker.
Menamakan Subjektivitas yang Melampaui Individu
Ketika ego pribadi diutamakan, rasanya akan mudah berkarya semata-mata untuk eksperimentasi pribadi bukan karena benar-benar peduli. Baik pada medium maupun isu yang diangkat. Ini menjelaskan banyaknya film yang secara teknis sangat ideal dan canggih tetapi rasanya film itu kosong karena ia tidak cukup tulus di dalam bentuknya yang sudah tuntas. Saya kira itu juga yang dimaksud Mary ketika ia mengatakan kita harus belajar tentang kehidupan dulu sebelum belajar membuat film agar bisa menyeimbangkan yang teknis (shot, rasio, montase) dan yang non-teknis (emosi, ideologi, gaze). Segala yang non-teknis kadang dipandang sebelah mata, padahal itu penting agar tidak membuat film yang, mungkin tanpa sadar, bersifat eksploitatif ketika sedang mengangkat isu dari pihak yang rentan. Lalu sebagai penulis dan juga aspiring filmmaker saya bertanya-tanya, bagaimana cara agar tidak terlena dengan ego pribadi ketika berkarya?
Dari hasil refleksi diskusi Gregory dan Mary, saya menemukan tawaran jalan tengah untuk mengesampingkan ego pribadi sekaligus tetap menjaga keotentikan karya–tak terbatas pada medium apapun–yaitu subjektivitas kolektif sebagai lensa kerja. Subjektivitas kolektif menyelaraskan keutamaan subjektivitas penulis dengan mengesampingkan ego pribadi ketika menulis. Menaruh kesadaran akan pengalaman yang mewakili sentimen kelompok akan “memaksa” kita menanggalkan ego pribadi untuk berempati pada isu yang dibahas. Pada batas inilah pandangan Gregory dan Mary menjadi serasi.
Film yang melihat melalui lensa subjektivitas kolektif terlihat pada Parasite (2019) garapan Bong Joon Ho yang menampilkan kemiskinan tanpa meromantisir ataupun mengeksploitasinya. Film ini terasa seimbang dari aspek teknis dan non-teknis, yang objektif dan subjektif. Kesubjektifan Bong di film itu hadir mewakili dirinya sebagai warga Korea Selatan dengan jurang antar kelasnya yang lebar. Pengalamannya adalah pengalaman tentang banyak orang yang bahkan melampaui batas negara. Pendekatan berkarya seperti itu mumpuni dalam memunculkan narasi dan bahasa estetika yang mengusik status quo. Meski Parasite termasuk film mainstream, setidaknya ia memberi angin segar di dunia perfilman komersil yang didominasi Barat saat itu dan sampai hari ini.
Ekosistem Film Tak Hanya Hidup di Dalam Layar
Jika berkaca pada ekosistem film hari ini dimana segala jenis festival film sudah menjamur dan siapa saja bisa membuat film, kecanggihan bentuk film menjadi kontestasi untuk bisa lolos setidaknya satu festival film bergengsi. Semangat filmmaking yang datang dari gairah memenangkan kontestasi itu bisa jadi lebih besar daripada niat mengamplifikasi narasi yang terpinggirkan. Meskipun yang demikian sah saja, tetapi tidak ada salahnya juga berhenti sejenak untuk memberi ruang pada keotentikan bercerita yang datangnya dari pengalaman di sekitar kita. Untuk menyadari bahwa hidup sangat luas melebihi yang kita lihat dalam rasio layar.
Tawaran subjektivitas kolektif yang datang dari diskusi bersama Gregory dan Mary sekaligus ingin mengingatkan adanya alternatif pilihan untuk mempertimbangkan keragaman perspektif dalam ekosistem film. Keragaman itu mesti didistribusikan tidak hanya antara penonton dan filmmaker, tetapi juga pada penulis, pembaca, dan publik. Inilah pengingat bahwa kerja yang kita lakukan mewakili sentimen bersama yang dijaga agar selalu ‘napak tanah’. Kerja ini dilakukan festival film yang memegang peran penting sebagai ruang distribusi pengetahuan yang menghubungkan unit-unit ekosistem film agar bisa membaca tawaran alternatif yang lebih baik di kemudian hari.





















Discussion about this post