Minikino Film Week: Bali International Short Film Festival ke-8 melakukan roadshow ke 8 kota di Indonesia setelah sepekan penuh kegembiraan festival film pendek di pulau Bali. Berkat dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Saffira Nusa Dewi dan Ursula Tumiwa sebagai Tim Kerja Post Festival Roadshow berangkat menuju Yogyakarta pada hari Jumat, 28 Oktober 2022. Pemutaran di Yogyakarta dilaksanakan dengan kerja sama antara Minikino dan Klub DIY Menonton (KDM).
Hari ke-1
Tim Kerja berangkat dini hari secara terpisah. Saffira dari Bali dan Ursula dari Jakarta, bersama-sama menuju New Yogyakarta International Airport. Sesampainya di Jogja, Tim Kerja sedikit beristirahat dan sarapan di Rumah Tembi Budaya, sebelum menuju ke ISI Yogyakarta untuk bertemu dengan Sazkia Noor Anggraini, Beni dari KamISInema dan jejeran kepala prodi film ISI Yogyakarta.
Setelah pertemuan dengan pihak ISI Yogyakarta, Tim Kerja Post Festival Roadshow Minikino menemukan beberapa kerja sama yang potensial. Pertama, ISI Yogyakarta memiliki mata kuliah baru yaitu “Festival Film & Kuratorial” dan “Manajemen & Distribusial”. Dalam hal ini, ISI ingin Minikino menjadi dosen tamu dan atau mengirimkan mahasiswanya untuk melakukan riset terhadap Minikino.
Kedua, kegiatan yang ditawarkan oleh ISI Yogyakarta adalah Matching Fund. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara ISI Yogyakarta dengan mitra, yang meliputi screening, seminar, workshop ataupun kelas. Kegiatan ini bisa diajukan ke pemerintah dengan tujuan untuk mendapatkan dana hibah. Mitra yang berkolaborasi akan bersifat in-kind.
Ketiga, Tim Kerja juga membahas tentang pembuatan akun di filmfreeway yang dapat digunakan oleh ISI Yogyakarta untuk submit seluruh film-film anak ISI ke Minikino Film Week. Hal ini diharapkan dapat membuat ISI Yogyakarta sebagai distributor film.
Keempat, Tim Kerja juga membahas mengenai magang reguler dan Festival Writers (menyesuaikan kalender akademik) yang dapat dilakukan oleh mahasiswa ISI Yogyakarta. Kelima, Sewon screening yang dapat saling menukar program dengan Minikino Film Week atau kolaborasi dengan MMSD. Keenam, program MMSD dengan film-film dari anak ISI Yogyakarta. Terakhir, Tim Kerja juga membahas tentang promosi mengenai Begadang Filmmaking Competition kepada mahasiswa ISI Yogyakarta.
Tim Kerja Minikino Film Week 7 kemudian berangkat ke Jogja Film Academy (JFA) untuk menemui Yudi selaku ketua JFA. Tim Kerja sampai di JFA pada jam empat sore. Yudi mengaku senang dan bangga melihat kegiatan Andika di Festival Writers 2022. Baginya, kegiatan magang seperti itu merupakan hal yang baik sekali. Terlebih JFA sedang mengupayakan untuk mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi sehingga, fokus JFA adalah kegiatan yang berhubungan dengan pengabdian, penelitian, dan pendidikan.
Yudi menjelaskan jika JFA tertarik untuk melakukan riset terhadap Minikino. JFA masih membutuhkan banyak jurnal akademis untuk menunjang kampusnya dan salah satu penelitian yang dibutuhkan adalah mengenai festival film. JFA juga ingin menyentuh topik inklusif sinema yang sudah dilakukan oleh Minikino. Selain itu, JFA juga kemungkinan ingin mengajak Minikino menjadi dosen tamu di mata kuliah distribusi dan festival film. Semua ini akan diolah oleh pihak JFA menjadi MoU.
Hari ke-2
Pada Sabtu (29/10) pagi, Tim Kerja Minikino siap-siap untuk menaruh perlengkapan merchandise dan pemutaran di Sleman Creative Space (SCS). Di sana sudah ada tim dari KDM yang siap menjaga barang-barang yang dibawa Tim Kerja. Setelah itu, tim kerja langsung menuju Kampung Halaman (KH), sebuah komunitas yang berfokus pada pendidikan dan kepemudaan.
Di KH, Tim Kerja menemui Chandra dan Dian yang sangat menghargai kedatangan Minikino. Saat Tim Kerja berkunjung, KH sedang mengadakan acara bersama We Love You(th) yang merupakan PT milik KH dan menjadi fokus kerja mereka karena mereka saat pandemi. KH saat ini masih fokus mengembangkan PT nya, jadi kegiatan mereka masuk ke sekolah-sekolah sementara tidak dilakukan dulu sampai 2 tahun ke depan.
Tim kerja Minikino melihat potensi kerja sama dengan KH, yang dapat menjadikan KH sebagai screening venue partner. Terutama mereka tertarik dengan Inklusif Cinema yang dimiliki oleh Minikino. Setelah pertemuan dengan KH, Tim Kerja berangkat menuju SCS untuk siap-siap dan berdiskusi dengan KDM. Tim dari KDM dan beberapa teman yang berdiskusi ada Fira, Ula, Suluh, Novi, Sasa, Gery, Adhika, Angga, Dwika, Andika (Festival Writers), dan anak magang KDM. Obrolan yang terbangun, saling tukar informasi bagaimana selama ini KDM bisa bertahan, sumber dana KDM yang di dapat dari Danais, dan pengelolaan program film yang diputar sesuai dengan demografi penonton yang mereka bedakan dalam beberapa pemutaran yang mereka miliki.
KDM punya kedekatan dengan Dinas Kebudayaan Jogja sehingga mereka dipercaya untuk mengelola Bioskop Sonobudoyo, dan juga Sinema Keliling untuk mendirikan layar di kampung-kampung. Selain kegiatan yang didanai pemerintah sepenuhnya, KDM juga punya program Bioskop Jumat, program khusus untuk para sinefil. KDM punya semangat yang mirip dengan Minikino dalam hal pengembangan wacana. Mereka selalu mengupayakan diskusi seusai menonton film dan itu yang ingin mereka bangun di Jogja.
Pemutaran dimulai jam 7 malam dengan 39 orang yang datang dari 48 orang yang mendaftar. Kapasitas SCS memiliki 48 tempat duduk, ditambah dengan 6 beanbag sehingga menjadi 54 tempat duduk. Dihitung dengan crew, terdapat 60 orang yang datang. Namun, tidak semua orang yang datang menonton film karena ada juga tim dokumentasi dan yang menjaga di depan ruang pemutaran.
Fira ikut masuk untuk melakukan observasi terhadap penonton Jogja. Setelah pemutaran film pertama yaitu Mora-Mora tidak banyak yang tepuk tangan, film Hantu terdapat tepuk tangan ragu-ragu, sementara Angle Mort kelihatannya menjadi film yang paling disukai oleh para penonton. Sideral banyak yang tertawa, dan Eyes and Horns lumayan banyak yang tepuk tangan namun ada juga yang bingung.
Setelah pemutaran, diskusi dilakukan bersama Fira, Ula, Gerry, dan Andika sebagai moderator. Fira melihat bahwa penonton di Jogja sangat serius dalam menanggapi film-film yang ditonton. Ada penonton yang mengomentari filmnya dengan sangat detail. Penonton paling bingung dengan film Eyes and Horns karena tidak mengerti dengan alegori yang ingin disampaikan oleh film tersebut. Diskusi selesai pukul 21:15 dan tidak ada kendala teknis atau administrasi, semuanya berjalan lancar karena teknisi sudah siap dan KDM sudah sangat rapih dan bagus dalam hal eksibisi film.
Pada hari ketiga, Tim Kerja mencari oleh-oleh untuk rekan-rekan di Bali sebelum kembali ke bandara. Fira kembali ke Denpasar dan Ula kembali ke Jakarta. Hari ini merupakan hari santai untuk mencari oleh-oleh seperti Bakpia dan Gudeg sebagai kenang-kenangan dari Yogyakarta.





















Discussion about this post