MANGUNI HOUSE
Judul Proyek / Project Title
: Gentle Hands
Durasi / Duration
: 15-18 menit / 15-18 minutes

LOGLINE:
Bani, seorang anak 10 tahun, tinggal sendirian di dalam hutan karena kondisi fisiknya yang janggal: berbagai bagian wajah dan tubuhnya dibaluti sisik. Kedatangan Rangga, anak 10 tahun yang baru saja pindah ke kota kecil dekat hutan, memaksa Bani untuk keluar dari kesendiriannya.
Bani, a 10 year old boy, lives alone deep in the forest due to his peculiar condition: various parts of his face and body are covered with scales. The emergence of Rangga, a 10 year old boy who just moved to a town near the forest, forces Bani to come out of his isolation.
SINOPSIS:
Bani (10) tinggal sendirian di hutan dengan berbagai bagian kulit wajah dan tubuhnya dibaluti sisik. Beberapa anak kota kecil mengusili Bani, kecuali Rangga (10), seorang anak pendatang baru. Keduanya berteman, seringkali bertemu di hutan secara rahasia. Mereka dapat mengekspresikan diri tanpa penghakiman sekitar. Suatu pagi, Rangga memberi kejutan pada bani dengan mengajaknya bermain sepak bola bersama teman-temannya. Permainan berjalan kacau karena Bani dan ia melarikan diri ke hutan. Rangga mengejar Bani. Keduanya bertengkar dan di saat itu Bani melihat kulit tubuh Rangga juga dipenuhi sisik, seperti dirinya. Rangga mengajak Bani kembali mencoba bermain lagi. Perlahan, Bani mulai melangkah maju.
Bani (10) lives alone in the forest with various parts of his face and body covered with scales. A few of the town’s kids bully Bani, except for Rangga (10), the new kid in town. They become friends, often meeting in secret within the forest. Each boy learns to express themselves fully without judgment. One morning, Rangga surprises Bani by introducing him to his soccer friends. The game runs chaotically because of Bani and he runs back to the forest. Rangga runs after Bani. The two kids fight, and right then Bani sees Rangga’s body is also full of scales, just like him. Rangga warmly asks Bani to continue on playing. Slowly, Bani starts to take a step forward.
WRITER’S STATEMENT:
Cerita Gentle Hands lahir dari pertanyaan mengenai identitas, “siapakah aku?”. Seiring perkembangan dan perubahan cerita, pertanyaan tersebut turut berubah menjadi, “siapakah aku di antara orang-orang sekitarku?”.
Cerita ini lahir dari pengalaman personal, diasuh dan dibesarkan oleh figur ibu otoritatif yang seringkali membuat saya merasa terasingkan. Dalam bersosialisasi, saya merasa aman dengan cukup diam, tidak mengutarakan perasaan dan pendapat. Itikad “baik” ini membuat saya seringkali menutup diri dari orang-orang terdekat sekitar.
Sifat ini membuat saya sadar bahwa saya telah hidup dalam lingkaran maskulinitas yang toksik, harus selalu menjadi figur yang tenang, diam, merepresi perasaan sendiri, dan pada akhirnya tanpa sadar bisa menyakiti perasaan orang lain.
Film ini mengusung tema empati, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Pada akhirnya, kita semua adalah makhluk sosial yang tidak begitu berbeda dari satu sama lain. Kita semua ingin terkoneksi, merasa dianggap dan terlihat, terus berproses memperbaiki diri, dan diterima.
“Siapakah aku di antara orang-orang sekitarku?” jawaban yang bisa saya berikan saat ini adalah untuk hadir bagi diri sendiri dan sesama, memahami dan mendengarkan orang lain, sebagaimana diri sendiri juga ingin dipahami dan didengarkan.
The story of Gentle Hands comes from the question: “who am I?”. As the story progresses and changes, so does the question becomes: “who am I in relation with other people?”.
It is a personal story based on my experience raised by an authoritative mother who often treats me like an outsider. An alien amongst humans. I find it best to keep the peace by staying silent, not speaking my mind. This best interest costs me with a lot of mistakes and regrets, often closing myself off from people, especially dear ones around me.
This trait made me realize that I’ve been living in a perpetual cycle of toxic masculinity, always having to be the stoic and silent figure, not knowing and refusing to speak my feelings – in turn, unknowingly hurting others feelings.
For me, this film speaks of empathy, both for ourselves and for others around. We are social beings, with more similarities than differences to each other. We all long to connect, to belong, to always better ourselves, and to be accepted.
The film asks the question: “who am i in relation with other people?” and the best answer I can give right now is for us to show up, try to understand others, and to listen – in the hopes of being understood and listened to.
PRODUCER’S STATEMENT:
Cerita Gentle Hands berpusat pada kompleksitas rasa kesepian, rasa memiliki, dan koneksi antarmanusia. Saya telah bekerja dalam berbagai proyek dari sutradara-sutradara yang berani menantang status quo, dan film ini tidak berbeda. Saya sangat antusias untuk berkolaborasi dengan Garry Christian dalam film pendek ini karena saya melihatnya sebagai laki-laki yang tidak takut menunjukkan kelemahannya.
Kompleksitas emosional dari rasa insecure manusia dengan cara yang jujur dan indah tersampaikan di dalam naskahnya. Pendekatannya dalam mengeksplorasi rasa insecure yang dialami laki-laki tanpa topeng maskulinitas yang biasanya dipaksakan sangat beresonansi dengan saya. Sepanjang hidup, saya telah menyaksikan bagaimana laki-laki sering ditekan untuk selalu tampil kuat, seolah-olah memiliki emosi adalah sebuah kelemahan. Namun keyakinan penulis bahwa laki-laki pun memiliki perasaan dan sisi lembut sungguh membangun rasa percaya saya.
Tumbuh dalam keluarga Asia di mana laki-laki diharapkan selalu menjadi sosok yang tegar, saya secara pribadi melihat langsung beban ekspektasi sosial tersebut. Jarang sekali ada cerita yang menampilkan sisi rentan laki-laki, apalagi melalui sudut pandang seorang anak laki-laki berusia 10 tahun. Naskah ini bukan sekadar cerita, melainkan sebuah pesan tentang kedalaman emosional dan hubungan antarmanusia yang saya ingin wujudkan.
Saya berkomitmen untuk memproduksi Gentle Hands karena film ini merepresentasikan aspek maskulinitas yang sering diabaikan, dan saya benar-benar percaya akan kekuatan dalam membagikan narasi yang begitu intim dan tulus ini kepada para penonton.
The story of Gentle Hands revolves around the intricacies of loneliness, belonging, and connection. I’ve worked on projects that challenge the status quo from various directors, and this film is no different. I am excited to collaborate with Garry Christian on this short film because I see him as a young man with a compassionate heart, unafraid to show his vulnerability. The script struck me deeply because it captures the emotional complexity of male insecurity in a raw and beautiful way. His approach to exploring male insecurity, particularly without the traditional mask of masculinity, deeply resonates with me. Throughout my life, I have witnessed how men are often pressured to conform to the idea that they must always be strong, that their emotions and vulnerability are weaknesses. But the director’s belief that men have feelings and a soft side truly struck a chord with me.
Growing up in an Asian family where men are expected to always be the stoic figure, I have personally felt the weight of this societal expectation. It is rare to see a story that shows the vulnerable side of men, especially through the lens of a 10-year-old boy. This script is not just a story, but a message about emotional depth and human connection that I am proud to bring to life. I am committed to producing this film because it reflects an aspect of masculinity that has often been overlooked, and I truly believe in the power of
sharing such an intimate, heartfelt narrative with audiences.