MONDAY CLUB STUDIO
Judul Proyek / Project Title
: Ready, Set, Go
Durasi / Duration
: 15-20 menit / 15-20 minutes

LOGLINE:
Di pinggiran Jakarta, Mamat yang merasa tertinggal karena teman-temannya sudah bisa bersepeda, mendesak ayahnya untuk mengajarinya. Desakan itu menambah tensi dalam keluarga kecil mereka di tengah terjadinya pertukaran peran antara sang ayah dan ibu.
In suburban Jakarta, Mamat, who feels left behind as his friends ride bicycles, urges his father to teach him. His demand sparks tension within the family, as his parents already struggle with the reversed roles– father managing the household while mother works to keep the family together.
SINOPSIS:
Mamat merasa tertinggal karena teman-temannya sudah bisa bersepeda. Rasa malu mendorongnya mendesak ayahnya, Sandi, untuk mengajarinya. Sandi adalah seorang bapak rumah tangga yang sedang bertukar peran dengan istrinya, Sara, yang kini menjadi tulang punggung keluarga. Permintaan itu memicu tensi dalam dinamika keluarga kecil mereka. Sara merespon dengan gelagapan dan mengambil alih mengajari Mamat, menutupi kecemasan Sandi. Sejak itu, Mamat menyadari hal janggal: sepedanya berpindah posisi dan ayahnya sering keluar diam-diam. Satu malam, Mamat diam-diam mengikuti Sandi, menyaksikan ayahnya berlatih sepeda sendirian. Momen itu membuka mata Mamat. Ia pun meneriaki dan menyemangati ayahnya dari belakang untuk tetap mengayuh dalam ketidakseimbangan.
Mamat feels left behind because his friends can already ride a bike. The growing shame pushes him to urge his father, Sandi, to teach him. Sandi is a stay-at-home dad who is currently switching roles with his wife, Sara, the family’s breadwinner. Mamat’s demand sparks tension in their small family. Sara responses nervously, taking over in teaching Mamat, as if to cover up Sandi’s disquiet. Since then, Mamat notices something strange: his bike keeps changing position and his father often sneaks out quietly. One night, Mamat secretly follows Sandi and catches him practicing to ride a bike alone. That moment opens Mamat’s eyes. He then cheers his father from behind, encouraging him to keep pedaling through the imbalance.
WRITER’S STATEMENT:
Saya tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan pembagian peran gender. Sejak sekolah, saya terbiasa mendengar bahwa laki-laki dan perempuan punya tugasnya masing-masing, dan tidak seharusnya saling mencampuri. Buat saya, hal itu terasa biasa saja, sampai suatu hari saya menyaksikan seorang teman yang tidak bisa mengendarai sepeda motor dianggap lemah oleh teman-teman lainnya. Momen sederhana itu membuat saya berhenti sejenak, merefleksikan, dan menarik kembali ingatan tentang bagaimana perspektif ini membentuk cara pandang dan ekspektasi yang selama ini tidak saya sadari.
Hidup dalam ekspektasi sosial adalah pengalaman yang universal. Hampir semua dari kita pernah merasakannya, bagaimana ketika pilihan kita terasa berbeda dari kebanyakan orang, muncul rasa terasing, tidak cocok, bahkan dianggap menyimpang dari norma yang umum. Dalam situasi seperti ini, kita seringkali terjebak antara keinginan untuk menjadi diri sendiri dengan tuntutan untuk menyesuaikan diri demi diterima. Kumpulan perasaan dan pertanyaan itu membuat saya mempertanyakan diri sendiri sekaligus merefleksikannya melalui cerita ini.
I grew up in an environment deeply shaped by rigid gender roles. From an early age, I was taught that men and women each had their own duties and that one should not interfere with the other. For a long time, this felt ordinary to me until one day, I witnessed a friend who couldn’t ride a motorcycle being labeled as weak by others. That simple moment made me pause, reflect, and recall how such perspectives had unconsciously shaped my way of seeing and my expectations of myself and others.
Living under social expectations is a universal experience. Almost everyone has felt it at some point, when our choices seem different from the majority leading to feelings of alienation, of not fitting in, or even of being judged as it goes away from the norm. In those moments, we often find ourselves caught between the desire to be true to who we are and the pressure to conform in order to be accepted. These collected feelings and questions made me start questioning myself while also reflecting on them through this story.
PRODUCER’S STATEMENT:
Lahir dan tumbuh di Indonesia, saya menyadari bagaimana masyarakat membentuk kita sejak dini. Di sekolah, kita diajarkan atau didoktrin bahwa setiap peran sudah memiliki tugas yang tetap: ayah mencari nafkah, ibu merawat rumah tangga, anak mendengar dan patuh kepada orang tua. Seakan tidak adanya keterbukaan ruang untuk penyesuaian. Jika seseorang gagal memenuhi ekspektasi sosial dari perannya, maka sering dianggap “menyimpang” atau “kurang”.
Seiring waktu, saya mulai mempertanyakan stigma yang mengekang ini. Haruskah kita hanya menjalani kewajiban yang telah dibatasi dan ditentukan untuk kita oleh tradisi, budaya, atau bahkan gender? Sebagai seorang anak perempuan, wanita, pasangan, dan calon ibu… saya merasakan beratnya ekspektasi tersebut. Namun hidup… tidak sesederhana itu. Manusia itu rumit. Keadaan seringnya berjalan di luar kendali kita.
Saya percaya bahwa pada dasarnya, keluarga adalah tentang saling mendukung. Bukan tentang siapa yang menjalani peran apa, melainkan tentang mengisi satu sama lain, dan saling menggantikan saat dibutuhkan. Ini soal kolaborasi, bukan klasifikasi.
Lewat kisah yang kami bagikan, saya berharap bisa membangkitkan diskusi: “Bukankah seharusnya pencapaian tujuan bersama lebih penting daripada siapa yang menjalani peran apa?”
Growing up in Indonesia, I realized early on how society shapes us, even as kids. At school, we were taught that every role has a fixed duty: the father provides, the mother cares, the children listen and obey. There was little room for deviation. If someone failed to meet these expectations, they were often seen as “less than”.
Over time, I began to question this rigidity. Must we always only fulfill the roles assigned to us by tradition, by culture, by gender? As a daughter, a woman, a partner, a future mother… I’ve felt the weight of these expectations. But life… isn’t that simple. It’s messy. People are complicated. Circumstances often shift beyond our control.
I believe that at its heart, a family and by extension, any close-knit unit should be about mutual support. It’s not about who plays what role, but about showing up for each other, stepping in when needed, and ensuring no one is left behind. It’s about collaboration, not classification.
Through the story we share, I hope to spark a conversation: “Shouldn’t achieving the shared goal matter more than who fulfills which role?”