Minikino
  • Home
  • SHORT FILMS
    Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

    Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

    Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

    Ketika Warna Menjadi Bermakna

    How to Survive a Zombie Outbreak

    Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

    still film A beautiful summer noon

    Ketika Tubuh Menolak Lupa

    Gambar adegan dari film NGGAK.

    Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

    Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

    Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

    Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

    Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

    Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

    Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino Articles
  • Home
  • SHORT FILMS
    Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

    Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

    Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

    Ketika Warna Menjadi Bermakna

    How to Survive a Zombie Outbreak

    Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

    still film A beautiful summer noon

    Ketika Tubuh Menolak Lupa

    Gambar adegan dari film NGGAK.

    Generational Dynamic: Indonesia, In Between (Remix)

    Poster tiga film program S-Express 2025: Singapore

    Hasrat Pembebasan Diri dari Hiruk-Pikuk Kota Lewat Perspektif S-Express 2025 : Singapore

    Poster film LAYLA WANT IT. Dua anak perempuan merentangkan tangan, Memakai seragam sekolah yang berbeda. Salah satunya memakai hijab.

    Kebiasaan Yang Diam-diam Menundukkan Kita

    Still Film Bubble Trouble (2025) Sutradara Fala Pratika.

    Bubble Trouble dan Bagaimana Anak-Anak Memaknai Isu Trauma Kekerasan

  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT
No Result
View All Result
Minikino
No Result
View All Result
Home NOTES

Berbicara Lewat Film Pendek!

Catatan dari pemutaran S-EXPRESS 2020: MYANMAR di Aceh

Arief Rachman Missuari by Arief Rachman Missuari
July 7, 2021
in NOTES
Reading Time: 3 mins read
(Dokumentasi pemutaran program S-Express 2020 Myanmar di Aceh, Juni 2021. Foto: dok.Aceh Film Festival)

(Dokumentasi pemutaran program S-Express 2020 Myanmar di Aceh, Juni 2021. Foto: dok.Aceh Film Festival)

Bagi filmmakers di Aceh ada satu hal yang sangat dinantikan kembali kehadirannya, yaitu  acara tahunan Aceh Film Festival  (AFF), yang dua tahun silam sempat absen keberadaannya. Kini di tahun 2021 AFF diadakan kembali dengan berbagai agenda yang akan mengisi kegiatan ini, salah satunya  pemutaran 4 film “Focus in Myanmar: Whispers of Silence”. Dalam agenda ini kita diberi tontonan langsung film pendek pilihan dari Myanmar, yang dikemas dalam program film pendek S-EXPRESS 2020: MYANMAR, dengan film berjudul; Acceptance (Nyi Zaw Htway/ Myanmar/ 2019), Between (Than Lwin Oo/ Myanmar/ 2019), Whispers of  Silence (Zaw Bo Bo Hein, Mg Bhone/ Myanmar/ 2018) dan 1/4 Wasted (Myo Thar Khin/ Myanmar/ 2019).

Ketika saya menonton, pikiran dan hati saya terpaku kepada keadaan Myanmar kini. Semenjak  1 Februari yang lalu terjadi kudeta pihak militer Myanmar, kini ada 10.000 masyarakat lari ke hutan untuk mencari perlindungan. Mereka dalam keadaan sangat membutuhkan makan, air, tempat tinggal, bahan bakar serta akses kesehatan. Demikian laporan Liputan6.com, Kamis (10/6/2021). Sampai sekarang total ada 520 orang yang menjadi korban selama kudeta Myanmar berlangsung, angkanya akan terus bertambah sampai konflik ini berakhir.

(Mengenal kehidupan di Myanmar lewat film pendek. Foto: dok. Aceh Film Festival)

Selanjutnya dari 4 film Focus in Myanmar, film Whispers of Silence menjadi film yang saya suka, bercerita tentang seorang pria yang telah kehilangan kekasihnya. Ia berkeinginan untuk mencari kekasih baru, yang kebetulan ia dapatkan ketika hendak mengikuti demo. Ketika mereka sudah ingin dekat, seketika arwah kekasihnya mengamuk mengetahui bahwa ia sudah memiliki pengganti. Hanya penonton yang dapat melihat arwah perempuan itu, saat melempar piring ke segala arah. Jelas laki-laki dan kekasih barunya sangat terkejut dengan kejadian itu. Mereka menganggap itu adalah ulah setan, dimana kebetulan di bawah apartemen mereka sedang berlangsung agenda pengusiran makhluk halus menggunakan air. Saya berspekulasi bahwa kekasihnya mati berkorban dalam memperjuangkan demokrasi di sana. Jelas kejadian itu sangat mempengaruhi hidup mereka.

Bagi saya kini film bukan hanya menjadi media penghibur semata dikala diri ini kesepian. Film sudah berkembang menjadi senjata untuk berbicara contohnya saja berdasarkan film Whispers of Silence, berapa banyak pasangan telah terpisah oleh kematian. Katakan saja 520 korban di atas tadi sebagai sepasang kekasih, sudah berapa banyak kematian tersebut mempengaruhi kehidupan sosial mereka?

Saya merasakan bahwa Aceh dan Myanmar secara fisik cukup mirip seperti kembar. Ada beberapa lokasi bahkan sangat mirip dengan Aceh. Di antaranya lokasi di Film Acceptance (2019), mengingatkan saya pada Jembatan Cot Iri, Aceh Besar. 

Melihat apa yang terjadi di Myanmar sekarang, Aceh kini juga tidak sedang baik-baik saja. Aceh masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Baik itu dari segi kemiskinan, pendidikan dan yang paling baru masalah korupsi. Saya rasa sebagai seorang pembuat film, tema-tema yang saya sebutkan tadi harus menjadi sub-tema yang akan diangkat oleh kita. Paling tidak kita juga berani bersuara lewat film pendek mengenai keadaan Aceh kini. Bagi saya hanya filmlah salah satu pengungkapan realitas tertinggi yang dapat kita lihat lewat indra mata kita. Kembali lagi ke AFF yang akan diadakan nanti, saya sangat berharap adanya film-film Aceh yang mengangkat tema konflik seperti Whispers of Silence yang diproduksi langsung oleh sineas Aceh. Semoga nantinya agenda Aceh Film Festival akan berjalan dengan lancar dan diberi kemudahan, amin.

Tags: 2021MyanmarS-ExpressScreening
ShareTweetShareSend
Previous Post

Hidup Berdampingan dengan Hantu Masa Lalu ala Adrienne Nowak

Next Post

Refleksi Singkat Soal Film Pendek dan Festival Film Pendek

Arief Rachman Missuari

Arief Rachman Missuari

Arief Rachman Missuari adalah sarjana politik lulusan UIN Ar-Raniry, Aceh. Kini ia aktif di salah satu komunitas bernama Fisuar Films Aceh. email: ariefmissuari@gmail.com

Related Posts

Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

Ketika Warna Menjadi Bermakna

August 10, 2026
Southeast Asia Connection MFW11 di Dharma Negara Alaya

Sebelum Praproduksi dan Setelah Pascaproduksi: 7th Short Film Market at Minikino Film Week

October 31, 2025
Sampul Buku Aku Bikin Film Pendek Sekarang Aku Harus Ngapain Cuk oleh Clarissa Jacobson

Habis Bikin Film Pendek, Terus Ngapain?

October 6, 2025
Shorts Up 2024 participants at Minikino Film Week 10 (doc. Otniello Al Sidu Sengkey)

Alumni of Shorts Up and the Minikino Short Film Market: Journey and Impact

September 4, 2025
Peserta Short Up pada Awarding Ceremony MFW10 di Dharma Negara Alaya (dok. Syafiudin Vifick)

Alumni Shorts Up dan Short Film Market Minikino: Perjalanan dan Dampaknya

August 27, 2025
Pelaksanaan Workshop Korinco Museum (dok. I Made Suarbawa)

KORINCO Museum (2025): Mengenal Koleksi KORINCO

August 15, 2025

Discussion about this post

Archives

Kirim Tulisan

Siapapun boleh ikutan meramaikan halaman artikel di minikino.org.

Silahkan kirim artikel anda ke redaksi@minikino.org. Isinya bebas, mau berbagi, curhat, kritik, saran, asalkan masih dalam lingkup kegiatan-kegiatan yang dilakukan Minikino, film pendek dan budaya sinema, baik khusus atau secara umum. Agar halaman ini bisa menjadi catatan bersama untuk kerja yang lebih baik lagi ke depan.

ArticlesTerbaru

Gambar dari film Sumpah Pemuda foto perempuan tersenyum mengenakan baju hitam

Sumpah Ini Untuk Siapa?

August 21, 2026
Gambar dari film Still by My Side, tampak seorang pria mengelus anjingnya.

Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief

August 18, 2026
Gambar dari film On a Sunday at Eleven, tampak seorang anak berkulit hitam mengenakan kaos putih.

Ketika Warna Menjadi Bermakna

August 10, 2026

How to Survive a Zombie Outbreak

July 9, 2026

Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

July 9, 2026

ABOUT MINIKINO

Minikino is an Indonesia’s short film festival organization with an international networking. We work throughout the year, arranging and organizing various forms of short film festivals and its supporting activities with their own sub-focus.

Recent Posts

  • Sumpah Ini Untuk Siapa?
  • Beyond Taxidermy: How Still by My Side Reimagines Grief
  • Ketika Warna Menjadi Bermakna
  • How to Survive a Zombie Outbreak
  • Propaganda Sebagai Sebuah ‘Kebijaksanaan’: Apa yang Kita Percayai?

CATEGORIES

  • ARTICLES
  • INTERVIEWS
  • NOTES
  • OPINION
  • PODCAST
  • SHORT FILMS
  • VIDEO

Minikino Film Week 11 Festival Recap

  • MINIKINO.ORG
  • FILM WEEK
  • INDONESIA RAJA
  • BEGADANG

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • SHORT FILMS
  • NOTES
  • INTERVIEWS
  • INTERNATIONAL
  • OPINION
  • ABOUT

© 2021 Minikino | Yayasan Kino Media