Saat tiba di Bali, saya berpikir tentang banyak hal yang akan saya rasakan selama di sini. Bukan kali pertama ke Bali, bukan kali pertama mengunjungi Minikino Film Week, tapi tahun ini terasa berbeda. Saat di Minikino Film Week 9, saya duduk sebagai penonton, menonton berbagai sesi Q&A dari bangku penonton, hingga menjadi yang ditonton dari bangku penonton. Tahun ini, “liburan” di Bali terasa berbeda, karena saya adalah bagian dari Hybrid Internship Festival Writer Minikino.
Kalau berbicara tentang sesi Q&A, pasti tak terlepas dari moderator yang memimpin jalannya sesi tersebut. Meskipun audiens berperan krusial untuk menciptakan suasana seru selama sesi, namun, jalannya sesi tanya jawab bergantung pada bagaimana moderator membawa arah diskusi bisa berlangsung dengan baik dan menyenangkan.
Keliling Dunia Kurang dari 20 Kilometer
Sebagai penulis festival yang magang, jujur saja, saya tidak menyangka akan dilibatkan untuk mengisi peran vital dalam Minikino Film Week 10. Di awal masa-masa magang di Minikino, awalnya saya mengira “hanya” akan berperan sebagai penulis atau mengasah kemampuan menganalisa dalam menulis hingga public speaking saja. Namun, di Minikino, hampir semua aspek untuk mengasah diri bisa dipelajari di sini.
Pengalaman saya sebagai moderator dimulai dengan sesi Q&A di Uma Seminyak yang berjarak 9,3 km dari Puri Ayu Hotel, lalu Dharma Negara Alaya yang berjarak 4,9 km, hingga sesi Q&A di tempat penginapan sendiri. Menghitung jarak tempat tinggal selama berada di Bali, saya tersadar bahwa titik temu selama Minikino Film Week 10 telah dirancang agar tidak terlalu berjauhan. Jujur saja, saya merasa dimudahkan dengan titik-titik tersebut, apalagi moderator Q&A dibebaskan untuk memilih program apa dan di mana untuk dimoderatori. Dalam jarak tersebut, saya secara tidak langsung dibawa untuk mengenal dan berjejaring dengan berbagai orang dari seluruh dunia dalam waktu singkat dan praktis.
Sempat terlintas di pikiran bahwa saya tidak akan bisa melakukan ini dengan baik karena saya tidak memiliki panduan dalam memoderatori festival film pendek, apalagi yang berskala internasional. Untungnya, sebelum ditugaskan untuk memoderatori Q&A, saya dan teman-teman lain diberikan tips-tips dengan baik sekali oleh Kak Cika.
Ruang Inklusif dalam Festival Itu Ada!
Saya selalu berpikir film adalah medium yang selalu dan akan terus identik dengan audiovisual. Di sisi lain, saya juga memikirkan teman-teman yang ingin merasakan menonton film, namun terbatas aksesnya. Mengenal Minikino Film Week bagi saya tak hanya memberdayakan film-film pendek, tapi juga memberdayakan seluruh insan sebagai sesama manusia tanpa memandang perbedaan.
Ketika festival dimulai, banyak kehangatan yang baru saya sadari dan alami secara lebih dekat. Tak hanya pengalaman sebagai moderator yang berharga, namun juga sebagai LO Disabilitas di Opening Minikino Film Week 10. Bertugas sebagai LO Disabilitas tak hanya membawa pengalaman menarik dan baru bagi saya, namun mengajarkan saya untuk selalu peka terhadap orang lain. Malam itu, saya tersadar setiap orang memiliki abilitas atau kemampuan yang berbeda-beda. Lingkungan dan orang-orang yang mendukung kita sebagaimana adanya menjadi salah satu dari banyak aspek yang akan selalu membuat kita utuh.

Dalam menjalankan tugas sebagai LO Disabilitas, saya diberitahu untuk menuntun jalan bagi teman-teman disabilitas netra untuk menuju tempat duduk dari pintu masuk. Bagi saya, pengalaman yang paling berkesan adalah menjadi ‘teman pembisik’ dalam Opening Minikino Film Week 10. Itu adalah pengalaman pertama bagi saya untuk menarasikan film dengan lisan secara langsung. Awalnya, saya berpikir saya tidak mau terlalu menumpahkan bahasa visual ke dalam bahasa lisan, namun saya ingin mereka memahami apa yang terjadi di layar. Saya juga merasa kesulitan karena film yang saya bisikkan adalah film asing, sehingga saya pun juga harus mengkomunikasikan subtitle-nya. Namun akhirnya, saya bisa mengatasi hal itu dengan mengingat bahwa mereka memiliki bayangan apa yang terjadi di layar, dan saya rasa mereka lebih mengerti jika saya menarasikan filmnya, dibanding jika saya mendeskripsikan satu-satu seluruh isi film ke dalam bahasa lisan.
Selama menjadi teman pembisik, saya cukup akrab berbincang dengan Ibu Suma. Ibu Suma adalah salah satu teman tunet yang menyambut saya dengan hangat sekali ketika saya bercerita bahwa ini adalah pengalaman pertama saya menjadi teman pembisik. Kami bertukar cerita tentang asal daerah, tempat tinggal, hingga pekerjaan masing-masing. Beberapa kali Ibu Suma merangkul tangan kanan saya, ia menyampaikan tentang kenyamanannya ketika saya menjadi teman pembisik yang mendampinginya. Ternyata, tak hanya film dalam Minikino Film Week 10 yang dapat membuat saya haru, tapi interaksi seperti itu juga menyentuh lubuk hati saya. Saat opening MFW 10 selesai, kami bertukar kontak untuk memudahkan kami dalam bertukar kabar satu sama lain.
Pada sesi Public Presentation Hybrid Internship Festival Writers usai pada 26 Oktober 2024, saya turut berbagi pengalaman dalam ruang inklusif Minikino Film Week 10. Keesokan harinya, Ibu Suma menghubungi saya melalui WhatsApp. Ibu Suma bertanya mengenai kabar saya, serta berharap saya selalu sehat, sebab Ibu Suma bermimpi bahwa saya sedang tidak baik-baik saja. Ibu Suma juga menyampaikan bahwa beliau ingin lagi bertemu saya di tahun depan.
Ketika membaca pesan itu, saya teringat kembali ke hari di mana saya menjadi teman pembisik. Muncul perasaan menggebu bahwa saya ingin sekali kembali dan merasakan momen tersebut dalam hidup saya. Dalam kondisi terbaik, saya ingin kembali lagi dalam perhelatan Minikino Film Week. Tak hanya yang ke-11 namun tahun-tahun berikutnya. Saya ingin berinteraksi dengan lebih banyak orang untuk membuka lebih banyak lagi ruang-ruang yang saya tidak pernah alami.
Saya bukan orang yang terlalu religius. Tapi saya percaya bahwa niat dan intensi baik yang didukung oleh orang-orang berintegritas dan peduli untuk menciptakan ruang inklusif perlahan akan mendorong perhatian lebih masif lagi. Tak hanya di Minikino namun banyak ruang lainnya, terutama dalam festival film.





















Discussion about this post