Sebagai seorang sinefil, saya selalu penasaran meneliti proses pembuatan dari objek cinta saya. Bentuknya tentu beragam, mulai dari berbicara dengan penulis skenario tentang proses praproduksi, datang dan menyaksikan proses produksi di lokasi syuting, hingga menemani teman yang begadang menyunting selama masa pascaproduksi. Ketiga elemen ini tentunya seru dibedah, namun di Minikino Film Week 11 (MFW11), ada satu lagi bagian penting dari proses pembuatan film pendek yang tak kalah menarik—interaksi profesional antara pembuat film dengan para pemangku kepentingan dan praktisi industri.
Karena sejatinya siklus hidup suatu film pendek itu dimulai jauh sebelum naskahnya ditulis dan terus berlanjut setelah final cut rampung disunting. Mulai dari pertukaran ide antar sineas, bertemunya pihak penyokong dana dengan pembuat film pendek, hingga terhubungnya distributor dan pemegang hak—ada banyak pertemuan yang harus terjadi supaya ide brilian di kepala seorang sutradara atau penulis itu bisa sampai ke mata penonton.
Di MFW11, interaksi-interaksi tersebut tak hanya terjadi secara spontan di luar ruang penayangan, tetapi juga difasilitasi melalui rangkaian kegiatan Short Film Market. Inisiatif yang sudah hadir sejak 2019 ini merupakan ruang yang mempertemukan pembuat film pendek dengan investor, distributor, dan berbagai pihak industri lainnya. Selaku film festival writer yang sempat menghadiri sebagian dari rangkaian kegiatan tersebut, ada tiga fungsi dari Short Film Market yang saya rasa penting untuk dibahas.

Ajang Inkubasi Talenta
Film pendek adalah medium dengan ciri khasnya sendiri. Ciri khas tersebut tidak terbatas pada estetika atau skala produksi film, tetapi juga tersangkut-paut dengan ekosistem distribusi dan konsumsi film pendek itu sendiri. Artinya, talenta-talenta muda yang ingin membuat film pendek tak hanya membutuhkan pembinaan tentang pembuatan film dari segi teknis, tetapi juga tentang bagaimana mendapatkan dukungan industri dan menemukan jalur-jalur distribusi yang tepat untuk karya mereka.
Salah satu inisiatif pembinaan yang menjawab kebutuhan tersebut adalah “Shorts Up 2025” yang diadakan oleh Minikino bersama dengan Purin Film Fund, dengan dukungan tambahan dari Manajemen Talenta Nasional (MTN). Lab film pendek yang diikuti oleh empat tim produksi ini sebenarnya sudah berjalan lima bulan sebelum MFW11—bentuk kegiatannya webinar, sesi diskusi, dan mentoring dengan jajaran veteran industri yang memandu keempat tim peserta dalam mengembangkan konsep dan naskah film pendek mereka. Sembari meneruskan pembinaan bersama dengan jajaran konsultan tamu di MFW11, keempat tim produksi tersebut juga diberi kesempatan untuk mempresentasikan konsep film pendek dan mendapatkan umpan balik melalui sesi “Shorts Up x MTN Presentation” pada Senin (15/09/2025).
Ada dua hal yang sangat berkesan bagi saya dari sesi tersebut. Pertama, tentunya ada kesempatan langka untuk mengintip konsep film pendek yang masih dikembangkan sebagai pihak eksternal. Tetapi yang kedua, bentuk-bentuk dari umpan balik yang diberikan para konsultan tamu juga sangat menarik. Ada pertemuan perspektif antara peserta dan konsultan tamu yang mungkin tidak akan terjadi jika tidak sengaja dipertemukan dalam konteks pitching. Misalnya soal durasi. Bagi seorang sutradara atau penulis, perbedaan antara film pendek berdurasi 15 atau 20 menit mungkin terkesan sepele, dan pertanyaan soal durasi mungkin lebih baik dibiarkan tidak terjawab sampai mise en scène yang tepat muncul secara alami di meja editing. Namun dari perspektif seorang programmer festival yang harus sangat berhati-hati memikirkan panjang dan alur dari program yang ia susun, perbedaan itu bisa jadi penentu dari posisi suatu film pendek dalam program, atau bahkan terpilih atau tidak terpilihnya suatu karya.

Ruang Diskursus Terbuka
Film pendek tentunya juga tidak eksis dalam vakum. Setiap pelaku industri juga berinteraksi dengan realita politik, ketimpangan kuasa, dan isu-isu aksesibilitas industri dalam setiap langkah perencanaan, pembuatan, dan distribusi film. Maka dari itu berkumpulnya sekian banyak peminat dan pelaku industri di satu titik seperti di festival menyajikan kesempatan ideal untuk mendiskusikan strategi menghadapi isu-isu tersebut. Dari sekian banyak sesi diskusi panel di Short Film Market MFW11, ada satu yang secara spesifik menarik perhatian saya—yaitu “Southeast Asia Connections”. Sesi ini mengangkat isu-isu spesifik yang dihadapi oleh industri film pendek di Asia Tenggara dan bagaimana pelaku industri dari sektor distribusi, investasi, dan seleksi festival menanggapinya.
Keterhubungan yang menjadi judul dari sesi ini memang sangat terasa dalam aliran diskusinya. Misalnya, ketika membicarakan konteks politik represif yang masih hadir di beberapa negara Asia Tenggara, Prima Sirivasuntra dari Purin Film Fund (organisasi pendanaan film asal Bangkok yang baru-baru ini berganti nama dari Purin Pictures) menjelaskan bahwa adanya tantangan-tantangan bersama seperti kemiripan atmosfer politik dan kurangnya dukungan dari pemerintah masing-masing itu justru mendorong kebersamaan dan semangat mencari solusi. Sebagai organisasi yang memang secara spesifik mendanai produksi film oleh suara-suara baru di Asia Tenggara, penyaluran dana memang merupakan salah satu komponen krusial dalam pembentukan ekosistem film pendek yang sehat.
Tetapi film yang terproduksi tentunya juga perlu menemukan penonton, dan bagi pegiat industri yang bergerak di bidang distribusi seperti King Catoy, adanya konteks politik represif tadi juga dapat dihadapi melalui pembuatan situs penayangan alternatif. Selama beberapa tahun terakhir, aktivis video asal Filipina itu, bersama Engage Media, telah menggarap platform video bernama Cinemata.org yang memang menarget film-film bertemakan sosial-politik dari kawasan Asia-Pasifik. Selain menawarkan fitur-fitur yang sepadan dengan situs berbayar yang mungkin masih mahal untuk banyak pembuat film pendek, platform ini juga terbuka untuk pengguna-pengguna yang ingin melakukan kurasi sebagai kurator komunitas. Dampaknya, ada banyak anak-anak muda yang kini tertarik menjadi programer film karena sudah mencicipi rasanya menyusun playlist program di Cinemata.
Terjalinnya hubungan melalui sesi-sesi seperti Southeast Asia Connections ini penting, tidak hanya karena isi diskusinya bisa menjadi bekal bagi pendengar untuk dibawa “bertempur” di wilayahnya sendiri nanti, tetapi juga karena ada elemen aspirasional yang muncul dari mendengarkan pergumulan di negeri sebelah. Mengutip Ben Thompson dari Tribeca Film Festival yang hadir di MFW11 untuk “membangun koneksi” dengan Asia Tenggara: kalau film pendek pertama dari Indonesia yang terpilih untuk tayang di Tribeca itu akan menginspirasi sineas-sineas Indonesia untuk lebih rajin lagi mengirimkan karyanya karena sekarang percaya bahwa mereka juga akan mampu melalui proses seleksi, maka melihat bahwa industri film juga bisa eksis di bawah tantangan yang mirip juga akan memberikan semangat dan harapan—bahwa perlawanan itu mungkin, bahwa ada yang sudah mengalami, melewati, dan sukses memperjuangkannya.
Pesta Melihat Bersama
Tentunya tidak lengkap membahas festival film pendek tanpa membicarakan penayangan. Di MFW11, ada banyak partner industri yang menayangkan film-film pendek melalui market screenings. Suasana penayangan-penayangan ini berbeda dari program screening karena dibuka dengan pengantar dari partner industri yang menampilkan dan ditutup dengan dialog antara penampil dan penonton. Idenya sederhana—festival dapat menyediakan ruang dan dukungan teknis buat sekolah-sekolah film, rumah produksi, dan distributor untuk menampilkan film-film pendeknya. Karena penayangan ditonton pihak-pihak industri yang bisa menyediakan kesempatan, dana, atau saran, penayangan ini bisa sangat bermanfaat bagi pembuat film yang datang.
Sembilan partner industri menayangkan film-filmnya melalui market screening di MFW11. Atmosfer yang muncul berbeda-beda, mulai dari penayangan oleh Departemen Film BINUS yang dihadiri dosen dan mahasiswa aktif, sampai Eye Catcher Global yang menghadirkan pembuat film. Yang saya amati dari percakapan-percakapan di rumah festival selepas market screenings, film pendek dalam konteks ini tak hanya berfungsi sebagai “produk” yang ditampilkan untuk menunjukkan kemampuan dan pencapaian komunitas dan “diperjualbelikan” di pasar film pendek, tetapi juga katalis untuk hubungan-hubungan baru.
Apa pendapatmu soal filmku?
Bagaimana, keren-keren kan karya mahasiswa saya?
Terima kasih sudah datang! Lanjut ngopi di sebelah yuk!
Meskipun mungkin terkesan sangat “industri” dan “profesional”, market screenings juga punya keintimannya sendiri. Penampil-penampil aktif menarik rekan industri untuk datang ke screening mereka, baik yang sesama pembuat film pendek maupun yang merupakan kritik, penulis, programer, penyunting, sampai ke kenalan yang kebetulan main. Tawaran-tawaran untuk berkolaborasi, atau pertukaran informasi dan pengalaman soal program pendanaan, atau pemenuhan rasa ingin tahu soal bagaimana sih eksis di sisi lain dari industri—semua terjadi secara alami dan terjembatani oleh tayangnya film-film yang memecah kesulitan mencari alasan untuk berjabat tangan dan berkenalan.

Festival Bukan Cuma Penayangan!
Ketiga kegiatan di atas hanyalah cuplikan singkat dari 22 kegiatan Short Film Market yang hadir di MFW11. Tetapi ada satu benang merah yang menghubungkan semuanya—koneksi, pergesekan bahu, dialog, serta perasaan cinta dan apresiatif bersama terhadap film pendek.
Festival film pendek punya peran yang penting dalam mengembangkan ekosistem film pendek; mulai dari penciptaan nilai ekonomi sampai identifikasi dan pemberian wadah bagi suara-suara baru di industri. Secara alami, pembuat film dan praktisi industri dari berbagai macam latar belakang dan jenjang karir memang akan bertemu dan bercakap ketika ada kegiatan seperti festival film yang mengumpulkan mereka semua. Tetapi dampak-dampak positif yang diharapkan dari interaksi-interaksi tersebut akan semakin maksimal kalau diakomodasi secara aktif melalui kegiatan-kegiatan seperti Short Film Market. Tak hanya dibiarkan menjadi interaktif dengan sendirinya, tetapi juga dirancang secara proaktif agar menjadi interaktif atau interactive by design, kalau meminjam istilah dari gerakan advokasi aksesibilitas.
Penulis: Audie Ferrell





















Discussion about this post