Home / SHORTS UP 2025 – Asaloka Films Project

SHORTS UP 2025 – Asaloka Films Project

ASALOKA FILMS

Judul Proyek / Project Title
: Tanyakan Pada Pohon di Seberang Sana / Just Ask The Tree Over There
Genre
: Fiksi / Fiction
Durasi / Duration
: 13-15 menit / 13-15 minutes

LOGLINE:

Di suatu malam, seorang perempuan mendatangi sebuah pohon pengabul permintaan untuk menyelesaikan masalahnya. Namun, setelah sang pohon bertanya apa permintaannya, perempuan tersebut ternyata tidak memiliki permintaan yang spesifik, dan hanya mencari teman bicara.

One night, a girl is visiting a magical wish-giving tree to solve her problem. But, when the tree asked her what kind of wishes she wanted, the girl didn’t have any specific request, and was only looking for someone to talk to.

SINOPSIS:

An, seorang fotografer, mendatangi sebuah pohon pengabul permintaan yang memiliki sebuah syarat: Harus mengelilingi pohon tersebut berlawanan arah jarum jam dengan mata tertutup. Setelah melakukan syarat itu, pohon tersebut kemudian berbicara, menanyakan permintaannya. Namun, An ternyata tidak memiliki permintaan spesifik, dan menjelaskan ke pohon bahwa ia hanya datang untuk mengobrol. Walau tidak terbiasa, Sang pohon akhirnya memutuskan untuk mendengarkan An, yang menceritakan tentang temannya dulu. Na yang kini telah pergi dari hidupnya. Setelah mendengar kisah An yang tergambar secara surreal, sang pohon akhirnya menawarkan sesuatu yang tidak pernah An duga.

An, a female photographer, visited a magical wish-giving tree that has a certain rule: Must circle the tree counter clockwise with their eyes closed. After completing its rule, the tree then speaks, demanding her requests. Turns out, An didn’t prepare a specific request, and explained to the tree that she was only looking for someone to talk to. The tree, even though unfamiliar, decided to listen to An, who told the story about her friend. Na that has gone from her life. After hearing An’s tale that was depicted in a surreal way, the tree finally gives an offer that An will never expect.

WRITER’S STATEMENT:

Terkadang, sebuah perpisahan tidak selalu berarti harus ada pertemuan kembali. Mungkin, perpisahan tersebut memang sudah seharusnya terjadi. Namun, benarkah demikian sepenuhnya? Manusia adalah makhluk yang rumit. ”Iya” tidak selalu benar-benar berarti “iya”. Sering kali kita berbohong pada diri kita sendiri dengan mengatakan bahwa perpisahan tersebut adalah takdir, padahal mungkin itu lahir dari kesalahan kita sendiri. “Entahlah, coba tanyakan saja pada pohon di seberang sana”, menjadi analogi tentang kerumitan masalah manusia yang kerap dilimpahkan pada entitas tertentu. Di Indonesia, praktik mistis seperti ini sering terjadi, dan mungkin menjadi alasan untuk meringankan beban yang ditanggung orang-orang, hingga melahirkan berbagai mitos—seperti Alun-alun Kidul di Yogyakarta. Namun, praktik hubungan manusia dengan alam bukan hanya terjadi di Indonesia. Dalam mitologi Nordik misalnya, ada Yggdrasil, sebuah pohon yang diyakini sebagai perwujudan dunia. Dari contoh-contoh tersebut, terlihat bagaimana manusia menjadikan alam sebagai medium penerjemah untuk hal-hal yang tak sepenuhnya mereka pahami. “Mungkin, sebaiknya kita tanyakan saja pada pohon di seberang sana.”

Sometimes, a separation with someone doesn’t always mean the need to get back. Maybe it was always supposed to happen. But, is it 100% the truth? Humans are a complicated being. ‘Yes’ doesn’t explicitly equate to ‘yes’. Sometimes, we often lied to ourselves that the reason for a separation was fate. Whereas, that separation may be the result of our wrong doing all along. “Who knows, we should just ask the tree over there” becomes my analogy of humans’ complex problems which are trying to be vented into certain entities. In Indonesia, this mystical practice often happens, and perhaps became the reason to ease the problems people had to bear, which ended up creating several mythos, just like Alun-alun Kidul in Yogyakarta. However, human relation practices with nature don’t always happen in Indonesia, just like the Yggdrasil tree that was believed to be the world manifestation in Norse mythology. From these examples, humans often use nature as the closest medium to be their translator for things they don’t fully understand. “Maybe, we should’ve just asked that tree over there.”

PRODUCER’S STATEMENT:

Terinspirasi dari mitologi Yogyakarta tentang pohon yang dipercaya dapat mengabulkan permintaan, Tanyakan Pada Pohon Di Seberang Sana berbicara tentang hal yang semua orang pernah alami yaitu kehilangan, kerinduan dan harapan agar menemukan jawaban. Dengan menyatukan cerita lokal dengan pengalaman universal. film ini mengajak penonton dari berbagai kalangan dan budaya untuk merasakan kembali hubungan kita dengan alam dan sesuatu yang bahkan tidak bisa kita bayangkan. Film ini menawarkan perspektif segar tentang bagaimana adaptasi akan cerita lokal dapat berbicara pada dunia, dan membuka ruang dialog lintas budaya.

Inspired by Javanese folklore from Yogyakarta about a tree believed can grant a wish, Just Ask The Tree Over There speaks to something we all share: loss, longing, and the hope of finding answers. By blending local tale with universal emotions, the film invites audiences from all backgrounds to reconnect with nature and with things beyond our imagination. It offers a fresh perspective on how adaption of local stories can speak to the world and opens up space for cross-cultural dialogue.

Produser / Producer
Utari Hanif Assyuri

utarihanifassyuri@gmail.com

Utari Hanif Assyuri adalah mahasiswa Film dan Televisi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan pengalaman lebih dari 15 proyek film dalam berbagai peran. Berdedikasi pada manajemen kreatif dan produksi, Utari telah memproduksi beberapa film pendek, termasuk “Sorrow in Moon’s Eyes” (Minikino International Film Week 2024) dan “Dried Tears” (Sadar Sinema Manakarra, AICIFEST 2024) Utari kini memperluas karirnya ke film panjang, termasuk “Our Son” (2025) karya Luhki Herwanayogi, yang segera dirilis di bioskop-bioskop Indonesia.

Utari Hanif Assyuri is a Film and Television student at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta with experience in more than 15 film projects across various roles. Passionate about creative management and production, Utari has produced several short films, including Sorrow in Moon’s Eyes (Minikino International Film Week 2024) and Dried Tears (Sadar Sinema Manakarra, AICIFEST 2024). Utari is now expanding into feature films, including Our Son (2025) by Luhki Herwanayogi, soon to be released in Indonesian cinemas.

Penulis / Writer
Muhammad Raflie Maulana

m.rafliemaulana@gmail.com

M. Raflie Maulana adalah seorang mahasiswa yang saat ini sedang menempuh studi film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Raflie sangat bersemangat dalam dunia penyutradaraan dan telah menyutradarai beberapa film pendek. Selain itu, ia juga terlibat dalam beberapa pemutaran film alternatif dan festival sebagai programmer film.

M. Raflie Maulana is a college student currently studying films in Yogyakarta Indonesian Institute of Arts. Raflie is highly dedicated to the world of directing and has directed several short films. Other than that, he’s also involved in several alternative screenings and festivals as a film programmer.


 

Back to SHORTS UP 2025

 

Top