Setelah kegembiraan festival film pendek selama sepekan penuh di pulau Bali, Minikino Film Week: Bali International Film Festival ke-8 melakukan roadshow ke 8 kota di Indonesia. Berkat dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Bintang Panglima, Rayhan Dharmawan dan Shara Octaviani sebagai Tim Kerja Post Festival Roadshow berangkat menuju Cirebon pada hari Sabtu, 29 Oktober 2022. Pemutaran di Cirebon dilaksanakan dengan kerja sama antara Minikino, Cinema Cirebon dan Rumah Rengganis sebagai venue partner.
Perjalanan ke Cirebon adalah sambungan Tim Kerja Tangerang yang berangkat pagi hari menggunakan mobil dari Tangerang. Tiba di Cirebon, Tim Kerja langsung menuju Rumah Rengganis untuk bersiap. Rumah Rengganis adalah cafe yang juga merupakan toko buku dan toko piringan hitam. Di Rumah Rengganis, terdapat klub buku yang secara rutin setiap minggunya membuat diskusi buku atau literasi. Dengan latar belakang itu, peserta-peserta yang mengikuti kegiatan Talkshow dengan Tim Kerja menghasilkan diskusi yang cukup dalam dan menarik. Misalnya, diskusi yang awalnya membahas tentang festival film, melebar dalam ke pembahasan soal perbandingan film dengan karya sastra, lalu soal kajian film.
Talkshow yang dimulai jam 16:15 ini dimoderatori oleh Kemala Astika (Lala) dari Cinema Cirebon. Lala yang juga bagian dari Festival Film Bahari, menyoroti bagaimana festival film memerlukan tujuan dan nilai yang bersama-sama diperjuangkan. Hal tersebut tidak bisa dikesampingkan dari kerja-kerja sebuah festival. Rayhan menjelaskan bagaimana Minikino terus konsisten dengan film pendek sejak awal pendiriannya. Desiminasi film pendek menjadi kerja utama bagi Minikino sejak awal untuk membuka budaya diskusi dan menonton dari skala lokal sampai global.
Pembahasan juga bergulir ke permasalahan “kenapa film bisa lebih besar daripada sastra?” yang ditanyakan oleh Nisa. Shara merespons permasalahan ini dengan menyinggung bahwa budaya menonton lebih mudah untuk diterima oleh masyarakat dibandingkan dengan budaya membaca. Budaya membaca harus dilatih dan dibangun, sementara kegiatan menonton lebih dekat dengan kegiatan yang sifatnya rekreasional. Hal ini juga dikonfirmasi oleh Lala dari Cinema Cirebon yang menyatakan bahwa dalam konteks pendidikan, membaca selalu dianggap sebagai “tugas” dan “latihan”, sementara menonton film lebih dekat dengan aktivitas yang bersifat rekreasional, sehingga budaya menonton lebih mudah untuk melekat pada masyarakat.
Setelah talkshow usai, Tim Kerja mulai mempersiapkan pemutaran film. Pemutaran dimulai pada pukul 19:15, namun bagi tim kerja Cirebon, antusiasme penonton terasa kurang. Di tengah pemutaran beberapa penonton yang keluar ruangan di film ke-2 dan 3. Lala dari Cinema Cirebon menyarankan bahwa mungkin program yang disajikan tidak cocok bagi penonton di Rumah Rengganis. Rayhan juga setuju dengan masukan ini, karena film yang diputar seperti Mora-Mora, Sound of The Time, dan Angle Mort memberikan kesan yang menyedihkan dan gelap, yang mungkin saja dapat mengusir penonton.

Mayoritas penonton dalam pemutaran adalah pengunjung kafe yang datang secara tidak sengaja dan bukan khusus untuk pemutaran film. Kondisi pemutaran dalam Rumah Rengganis juga kurang baik. Layar yang digantung di luar diterpa angin, serta sempat terjadi masalah audio dengan mixer yang tidak memiliki pengaturan panning. Namun, masalah audio tersebut dapat diatasi secara efisien dengan meminjam peralatan dari sekolah. Jumlah penonton yang menonton hanya sekitar 30 orang, yang berkumpul di dalam ruang yang kecil dan terbuka.
Bagi Tim Kerja Cirebon hal yang bisa dilanjutkan dari kerja sama bersama Cinema Cirebon adalah lanjut melakukan pemutaran film kembali. Hal ini karena Cirebon punya banyak komunitas film, ada juga kelompok produksi di Cirebon yang menayangkan film juga. Selain itu Cinema Cirebon juga sudah mulai memiliki perlengkapan teknis yang mumpuni. Di akhir acara Tim Kerja memberi kartu nama kepada komunitas-komunitas di Cirebon untuk tetap dapat berkomunikasi dan bekerjasama dalam acara-acara selanjutnya. Selain itu, Tim Kerja juga akan mencari tahu lebih banyak tentang preferensi penonton di Cirebon agar dapat membuat program yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Hal ini penting untuk dapat menarik lebih banyak penonton dan memberikan pengalaman menonton yang lebih baik bagi mereka. Selanjutnya Tim Kerja Cirebon berharap untuk meningkatkan partisipasi dari masyarakat setempat dalam acara-acara Minikino di Cirebon.





















Discussion about this post