Setelah kegembiraan festival film pendek selama sepekan penuh di pulau Bali, Minikino Film Week: Bali International Film Festival ke-8 melakukan roadshow ke 8 kota di Indonesia. Berkat dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Rayhan Dharmawan, Bintang Panglima dan Shara Octaviani (yang sudah ada di Jakarta) sebagai Tim Kerja Post Festival Roadshow berangkat menuju Tangerang pada hari Kamis, 27 Oktober 2022. Pemutaran di Tangerang dilaksanakan dengan kerja sama antara Minikino, Moving Image Production (MIP) Awards 6, dan Universitas Media Nusantara (UMN).
Hari ke-1
Rayhan dan Bintang mulai berangkat dari Denpasar menuju Jakarta, menemui Ursula Tumiwa untuk survey lokasi GoetheHaus yang akan digunakan sebagai venue di Roadshow Jakarta tanggal 9 November mendatang. GoetheHaus secara lokasi cukup mumpuni untuk menunjang pemutaran, di sana ada layar yang besar, dan kapasitas penonton yang banyak. Di hari pertama ini Tim Kerja tidak langsung menemui tim dari MIP dan juga UMN.
Setelah survey di Goethe, tim kerja berencana untuk datang ke Kineforum, tapi tidak jadi karena sulitnya komunikasi. Lalu Tim Kerja melanjutkan perjalanan ke Indonesia Dance Festival (IDF) untuk menyaksikan penampilan dari Mella Jaarsma seniman yang mendalami aspek performativitas dalam praktik kesenian. Kedatangan Tim Kerja ke IDF adalah untuk kepentingan survey acara antar sesama penerima Dana Indonesiana. Sehingga fokus Tim Kerja adalah pada tata kelola acaranya alih-alih pertunjukannya. di IDF, pertunjukkan ini ramai sekali. Mungkin ada sekitar 100-120 penonton. Untuk ikut pertunjukkan ini pun berbayar (100k per orang).
Lalu Tim Kerja berkunjung ke Micro Cinema Kemang dan bertemu dengan Hari sebagai manager Micro Cinema. Sebagai tempat pemutaran, Micro Cinema punya kualitas teknis yang baik. Hanya saja belum ada pemutaran yang rutin diselenggarakan, kecuali dari pihak eksternal yang menyewa tempat. Berdasarkan observasi Tim Kerja, Micro Cinema ini cocok untuk program dari Minikino misalnya MMSD.
Micro Cinema jadi tempat terakhir yang dikunjungi Tim Kerja hari ini.
Hari ke-2
Tengah hari Jumat (28/10), Tim Kerja dibantu oleh Shara untuk publikasi media sosial berangkat ke Lecture Theatre New Media Tower UMN, untuk cek semua perlengkapan. Tidak ada masalah berarti dalam hal teknis. Lecture Theatre punya ruang pemutaran yang baik dengan peralatan yang cukup lengkap, ada 3 layar. Hanya kalibrasi minor seperti left channel audio yang terlalu kecil, tapi bisa diperbaiki dengan mudah. Jumlah penonton dalam hitungan kepala ada sekitar 100-110 orang, untuk data pastinya bisa dicek di Loket.com sebagai kanal pendaftaran mereka.
Acara pemutaran dimulai jam 14:45, antusiasme penonton terasa sejak dua film pembuka Chicken Awaken dan Work it Class!. Setelah pemutaran film selesai, Rayhan dan Bintang maju ke depan penonton untuk memantik diskusi. Rayhan banyak bercerita tentang Begadang Filmmaking Competition. Sedangkan Bintang bercerita tentang keterlibatannya sebagai Festival Writers dan kegiatannya menulis film-film pendek, salah satunya adalah film Eyes and Horns.
Sempat juga muncul pertanyaan dari penonton, “kenapa film Ride to Nowhere enggak ditayangin?” lalu Rayhan menjawab “kita melihat UMN sebagai sekolah film, kita pengen nunjukin film-film pendek yang mungkin kalian jarang tonton gitu. Makanya kita screening Eyes and Horns, Angle Morts, the Sound of Time gitu”. Diskusi setelah pemutaran awalnya malu-malu, tapi setelah ada yang bertanya banyak yang ikut terpancing. Beberapa pertanyaan yang komentar tentang Diskusi setelah pemutaran awalnya malu-malu, tapi setelah ada yang bertanya banyak yang ikut terpancing. Beberapa komentar tentang Film-film MFW bervariatif, banyak yang berkomentar tentang film Angle Mort, mahasiswa film jarang nonton film dokumenter dan eksperimental.
Sesuai menonton beberapa ada yang langsung keluar dan diskusi terus berlangsung diluar ruang pemutaraan. Ada juga yang masuk kembali ke ruang pemutaran untuk mengikuti sesi Talkshow: Menembus Angan Festival Film. Talk Show dimulai jam 17:15, narasumber Talkshow ini ada Bintang Panglima dan Rayhan Darmawan yang merupakan bagian dari Tim Kerja. Ditambah Fransiska Prihadi sebagai Direktur Program MFW 8 dari Denpasar dan Clarissa Jacobson penulis buku I Made a Short Film, Now WTF I Should Do With It? turut bergabung dari Badalona, Spanyol. Pembahasan saat talkshow banyak menyinggung soal distribusi dan pengalaman masing-masing narasumber dalam praktik distribusi. Misal Fransiska menjelaskan jika festival film seperti Minikino bisa menjadi jembatan, penyalur, distributor bagi film-film pendek yang terhubung dengan Minikino. Jangkauan suatu film akan lebih luas dan posisinya akan lebih luas.
Setelah acara berakhir, banyak yang bertanya pada Rayhan sebagai alumni UMN, tentang kerja di Minikino, tentang Magang, tentang festival dan industri. Banyak Mahasiswa film generasi Covid yang minim pengetahuan tentang industri film.
Hampir tengah malam, Tim Kerja berkemas pulang dan istirahat untuk bersiap menuju kota Roadshow berikutnya, Cirebon.





















Discussion about this post